Tangannya gemetar melihat surat hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukannya. Di surat itu menunjukkan bahwa saat ini ia tengah hamil dengan usia kandungan satu bulan, beserta foto janin.
Siera duduk tak jauh dari ruang pemeriksaan, tubuhnya lemas tak berdaya dan ditambah fakta hahwa ia hamil di tengah-tengah pernikahannya yang akan segera berakhir.
Wajah pucatnya tak bisa menyamarkan bahwa ia telah lelah dengan semuanya. Hampir dua tahun pernikahannya hambar hampir membuatnya depresi. Siera tak menyalahkan calon anaknya, ia menyalahkan takdir yang mempermainkannya.
Takdir yang membuatnya terlalu dalam mencintai pria tanpa memikirkan kebahagiaannya. Pria yang tak akan mencintainya meski ia berusaha membuatnya jatuh cinta.
Wanita yang dulunya cantik dan anggun, kini berubah pucat dan kurus, terlihat sangat menyedihkan di mata orang yang melihatnya.
"Siera?"
Siera mendongak saat mendengar seseorang memanggil namanya. Seketika Siera merasa kepalanya pening melihat sosok yang tak ingin ia temui di dunia ini. Kenapa harus bertemu dengannya di sini, kenapa harus dia?! Apakah dunia begitu sempitnya sehingga ia selalu melihat wanita itu?
Kirana mendekati Siera yang duduk sendirian. Senyumnya seakan mengejeknya karena terpuruk sendirian.
"Kau sekarang semakin kurus, Siera. Apakah kau memeriksa kehamilanmu?"
Kirana mengepalkan tangannya ketika membayangkan kekasihnya menyentuh tubuh Siera. Kalandra tak ingin menyentuhnya, tetapi malah menyentuh istri yang tak dicintainya.
"Bukan urusanmu!" Matanya menatap tajam pada Kirana. Siera yang tubuhnya tak sehat berdiri dari duduknya, meski terhuyung ia tetap menyeimbangkan diri agar tak jatuh.
"Tentu saja urusanku," balas Kirana. Kirana mendekati Siera dengan mata melotot. "Kau tahu, saat ini aku juga tengah hamil anak dari suamimu," bisiknya kejam.
"Kau tahu di antara kita, siapa yang menjadi kabahagiaan Kalandra? Itu aku, Siera. Kau bisa menebak lebih bahagia mana ketika Kalandra mendengar kabar kehamilan kita berdua? Tentu saja aku jawabannya."
Melihat wajah Siera semakin memucat membuat Kirana merasa bahagia. Wanita bodoh itu benar-benar mempercayai kebohongannya. Memang benar ia hamil, tapi bukan anak dari Kalandra melainkan pria lain.
Tangan Siera mengepal, meremas surat pemeriksaan menjadi gumpalan. Siera tak menyangka kalau Kalandra dan Kirana sudah melakukan hubungan seperti itu.
Siera berdecih sinis. "Selamat, Kirana, selamat! Semoga kau dan dengannya bahagia!" Ia membalikkan tubuhnya, melangkah menjauhi Kirana.
Hancur.
Itulah dirasakan oleh Siera. Kewarasannya yang tinggal beberapa persen sudah hancur lebur. Siera tak bisa menjaga emosionalnya setelah berada di rumah, ia menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya, melampiaskan amarah dan juga kesakitannya.
Ia telah hancur total. Tak ada yang lagi bisa dipertahankan olehnya. Saat ini ia tak mampu berpikir secara rasional. Mentalnya hancur hanya karena cinta.
Kalandra terkejut melihat seisi rumah berantakan. Ia melihat ke sekitarnya tak melihat sosok Siera. Jantung Kalandra berdetak hebat, entah kenapa ia takut terjadi sesuatu pada Siera. Kalandra berlari menaiki tangga dan menuju ke kamar.
Dengan dada berdebar kencang, Kalandra membuka pintu kamar, kamar mereka lebih berantakan dari pada di bawah sana. Ini tak seperti perampokan, tetapi seperti seseorang tengah melampiaskan amarah.
"Siera?" panggilnya keras, namun tak kunjung mendapat jawaban.
Kalandra melihat darah menetes di lantai terarah ke kamar mandi, ia terkesiap membayangkan hal bodoh dilakukan Siera. Ia pun mendobrak kamar mandi dan menemukan Siera berada di bak mandi dengan mata terpejam.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚
RomansaKalandra membenci Siera karena memaksanya menikahi wanita itu. Padahal wanita itu tahu Kalandra telah memiliki kekasih yang amat dicintai. Kebencian itu terus bertambah seiring berjalannya waktu dan itulah dirasakan oleh Kalandra, tapi tidak dengan...
