Siera membohongi Kalandra perihal bertemu dengan teman-temannya. Ia memang sengaja menghindari Kalandra atas kerumitan atas hubungan mereka, bahkan ponsel miliknya ia sengaja matikan agar Kalandra tak bisa menghubunginya. Siera ingin menenangkan diri sebelum ia benar-benar mengambil keputusan akan diapakan pernikahan mereka nantinya.
Di satu sisi ia sangat mencintai Kalandra, di hatinya masih tertulis nama pria itu. Tapi di sisi lain juga, ia tak ingin mengulangi lagi keegoisannya dengan mempertahankan Kalandra seperti di kehidupan pertama mereka.
Benar, pria itu patut bahagia dengan wanita lain dan bukan dengan dirinya yang keras kepala tanpa memikirkan perasaan Kalandra.
Ia tahu, perasaan Kalandra untuknya hanya rasa bersalahnya pria itu padanya. Ia yakin Kalandra tak memahami apa sesungguhnya perasaaan yang ia miliki. Cintakah, atau hanya sebatas rasa kasihan.
Namun, Siera sangat berterima kasih kepada Kalandra, karena di kehidupan kedua ini pria itu memberinya kasih sayang, dan juga perhatian. Setidaknya, ia bisa menikmati rasa kasih sayang itu yang tak pernah ia dapatkan di masa lalu.
Meski hanya singkat, ia harus bersyukur tentang itu semua.
Siera menghela napas pelan, ia duduk di kursi kosong seraya memegang es krim di tangannya. Ia menunduk dan tersenyum tipis melihat perutnya yang membesar. Di dalam sana, buah hatinya tumbuh dan berkembang.
"Terima kasih sudah hadir kembali di perut Mama, sayang," bisiknya seraya mengelus perutnya. Dan ia tertawa kecil merasakan gerakan halus di dalam sana.
"Maafkan Mama jika suatau saar nanti Mama berpisah dengan Papamu. Mama hanya tak ingin membelenggu Papamu dalam pernikahan ini. Papamu pantas bahagia dengan wanita yang dicintainya."
Tatapan Siera lurus ke depan. Matanya berkaca-kaca, ia menggigit bibirnya menahan diri agar tak menjatuhkan air mata. Sayangnya, selama apa pun ia menahan tangisan, air matanya tetap jatuh dengan sendirinya. Untung saja ia berada di tempat sepi, sehingga ia bisa menangis sepuas hatinya tanpa merasa malu di lihat oranf lain.
Seira memejamjan matanya, kenangan manis berputar di memori otaknya. Tatapan lembut dan sikap hangat Kalandra padanya, kesabaran Kalandra ketika ia mulai merajuk, pria itu tak pernah marah meski ia bertingkah.
Apakah ia mampu melepaskan Kalandra?
Mengingat ingatan masa lalu, kenapa ia susah membenci Kalandra? Ia sebenarnya ingin membenci pria itu yang berkali-kali menyakitinya sehingga ia bisa dengan mudah melepaskan suaminya, tetapi Siera tak bisa. Karena ia sadar, bahwa ia juga salah di sini.
Siera terkekeh miris. Ia segera menghapus air matanya. Setelah merasa membaik, Siera membuang es krim yang meleleh di tangannya. Ia menyudahi keresahannya dan hari ini adalah waktunya membahagiakan diri sebelum ia bertatapan muka lagi dengan sang suami.
****
Kalandra meringis merasakan rasa pusing di kepalanya. Karena kecelakaan itu, ia terluka meski bisa dikatakan luka ringan. Untung saja ia tak kenapa-napa selain mobil bagian depan rusak karena menabrak mobil lain sehingga pemilik mobil itu meminta ganti rugi.
"Kau ini kenapa tak bisa berkendara dengan hati-hati?" Adelia menatap kesal ke arah putranya. "Untung saja hanya luka ringan, kalau lukamu parah apa kau tak amnesia?"
"Ma, namanya musibah kita tak akan tahu," jawab Kalandra sambil memejamkan matanya. "Aku sudah berhati-hati," ringisnya
Adelia menghela napas kasar.
"Baru saja Siera keluar dari rumah sakit, dan sekarang malah gantian denganmu."
Mengingat Siera, Kalandra merasa menyesal tak bisa mengikuti istrinya. Ia merasa sikap Siera sedikit berubah, entah kenapa ia merasa panik dengan perubahan itu. Ia takut Siera meninggalkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚
RomanceKalandra membenci Siera karena memaksanya menikahi wanita itu. Padahal wanita itu tahu Kalandra telah memiliki kekasih yang amat dicintai. Kebencian itu terus bertambah seiring berjalannya waktu dan itulah dirasakan oleh Kalandra, tapi tidak dengan...
