DUA PULUH SEMBILAN

1.6K 181 7
                                        

Siera termenung diam dengan segala perasaan berkecamuk. Kenangan masa lalu, dan kehidupan masa kini membuatnya merasa frustrasi, apalagi jika harus menghadapi sikap Kalandra yang semaunya sendiri.

Ia lelah, lelah hati dan juga pikiran. Siera tak mengerti dengan jalan pikiran Kalandra. Pria itu melakukan hal yang menurutnya benar.

Beberapa kali Siera menghela napas berat, menunduk penuh kesedihan. Hubungan mereka bagi Siera terasa rumit, mereka harus berpisah untuk merenungi kesalahan masing-masing. Entah nantinya bertahan atau berpisah.

Sayangnya, Kalandra adalah pria egois. Pria itu mengurungnya dalam istana megah tanpa memberikan kesempatan untuknya menghirup udara segar.

Langkah kaki di belakang terdengar mendekat, tanpa melihat ke sana, Siera tahu siapa sang pemilik langkah kaki itu.

Kalandra.

Siapa lagi jika bukan suaminya itu.

"Udara malam tak baik untuk wanita hamil." Siera diam dan merasakan selimut melingkar di tubuhnya.

"Kamu masih marah? Sampai kapan kamu mendiamkan suamimu?"

Mata Siera terpejam merasakan pelukan hangat dari belakang.

"Siera, perpisahan bukan solusi yang baik untuk kita. Ingatan kehidupan pertama kita hanyalah masa lalu. Jadikan kesalahan kita sebagai pelajaran, dan kita perbaiki hubungan kita yang sekarang."

Siera tahu, dan memahaminya. Bahkan ia berkali-kali meyakini bahwa semua hanya masa lalu, dan ia harus menata masa depan.

Namun ia tak bisa. Egonya seakan melarangnya. Padahal Siera tahu semua itu berawal dari kesalahannya. Ia merasa tak pantas bersama Kalandra. Meski kenangan itu sangat menyakitkan, ia barulah sadar bahwa sikapnya itu bahkan melukai orang lain.

"Aku merasa hubungan ini rumit."

"Yang rumit bukanlah hubungan kita, melainkan pikiranmu."

"Aku merasa perpisahan adalah hal terbaik untuk kita."

"Perpisahan bukanlah solusi terbaik bila kita bisa membicarakan dengan hati ke hati."

"Kamu tak pernah mencintaiku, Kalan, semua hanya rasa bersalahmu."

"Yang tahu perasaanku adalah aku sendiri. Kamu hanya menduga, padahal aku mencurahkan segalanya."

"Aku lelah."

"Aku juga lelah meyakinkanmu bahwa semua baik-baik saja."

Kalandra membalikkan tubuh Siera agar menghadap ke arahnya.
"Pikirkan baik-baik, jangan hanya keegoisanmu membuat pernikahan kita hancur. Yang harus kamu tahu, di masa kini aku mencintaimu dan juga anak kita."

"Di masa lalu aku memang salah, dan aku tak bisa merubahnya. Aku minta maaf untuk hal itu."

Kalandra menatap Siera dalam. Berapa kali pun ia meyakinkan Siera, wanita di depannya sungguh keras kepala. Kadang kala Kalandra merasa gemas dengan pikiran Siera penuh drama. Dan ia hanya mengalah karena jika ia emosi, yang ada hubungan mereka makin memanas.

"Siera, atas kejadian masa lalu, seharusnya kita belajar dan tak melakukan hal yang serupa. Apa tak bisa hanya dengan aku, kamu, dan anak kita saja?"

Ingin sekali Kalandra mengatakan sikap Siera sangat kekanak-kanakan. Memang ia tak mengerti bagaimana pola pikiran wanita itu bekerja. Karena pria benar-benar tak dapat memahami apa sesungguhnya perasaan yang dirasakan wanita.

Kadang apa yang diucapkan tak sesuai dengan isi hati.

Barang kali Siera mengatakan perpisahan, namun di hatinya ingin di pertahankan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 08 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang