Siera tak tahu ia berada di mana saat ini. Tiba-tiba ia berdiri di sini, sendiri, di ruang putih tanpa ada satu pun benda di sekitarnya.
Jantung Siera berdebar hebat, wajahnya memucat, dan rasa takut mulai merayap di hatinya. Apakah ia diculik saat tertidur? Siapa yang repot-repot menculiknya? dan ruangan apa ini? Tak ada pintu di mana ia bisa keluar dari tempat ini. Misalkan ia diculik, kenapa harus di tempat seperti ini.
Menahan rasa takut yang mulai mendera, Siera berjalan mencari jalan keluar. Sayangnya, ia sama sekali tak menemukan satu pun pintu.
"Siapa pun di sana, tolong biarkan aku keluar!" teriaknya, berharap ada seseorang yang mendengar suaranya. Sayangnya, sampai beberapa menit kemudian hanya ada keheningan saja.
Siera terus melangkahkan kakinya, berharap menemukan jalan keluar, namun sampai ia merasa lelah berjalan ia masih berada di tempat yang sama. Ia di sini, sendirian, dan rasa takut pun semakin menekannya.
Siera terjatuh di lantai, mulai menangis terisak karena tak tahu harus bagaimana. Ia merasa takut tak bisa keluar, dan terpenjara di sini. Siera benar-benar tak mau!
"Siapa pun itu, tolong jangan bercanda!" paraunya. "Kalan, aku takut," sambungnya sambil terisak seraya memanggil nama suaminya, berharap sang suami datang menghampirinya dan menenangkan dirinya yang sudah ketakutan.
"Siera, kenapa kamu begitu jahat?"
Ia tersentak mendengar suara yang menggema. Mengedarkan pandangannya, Siera tak melihat satu orang pun di sini selain dirinya.
"Kalan?" panggilnya pelan untuk memastikan, apakah suaminya ada di sini ataukah hanya khayalannya ketika ia merasa mendengar suara Kalandra.
"Siera, jangan egois!"
"Kalan, kamu di mana?!" Siera langsung berdiri, menghapus air matanya, mencari jejak suara itu.
Kosong.
Tak ada Kalandra di sini, harapannya pupus sudah. Ia sendirian.
Hingga cahaya putih seakan berjalan ke arahnya, membuat Siera tanpa sadar menutup matanya dengan kedua tangannya. Ia tersentak saat cahaya itu seakan menghisapnya.
Sesaat kemudian, Siera perlahan membuka matanya, seketika ia sudah berpindah tempat. Tempat di mana ia merasa familiar.
Siera melihat ke berbagai arah, mulai berjalan menuruti kata hatinya. Ia ingat, ini adalah taman di kampusnya berada.
Kenapa ia bisa berada di tempat ini?
Pertanyaan itu membuat Siera menjadi pusing. Tak mengerti apa yang baru saja ia alami saat ini.
"Siera, mari kita akhiri pertunangan ini."
"Tak bisa, aku akan terus mempertahankan pertunangan kita!"
"Kamu jangan egois, semua ini tak akan berhasil!"
"Kamu tega meninggalkanku, hanya demi ingin bersamanya?"
"Ya!"
"Keterlaluan kamu, Kalan!"
Siera mendekati suara itu, karena suara itu terdengar tak asing di telinganya. Dengan jantung berdebar hebat, Siera akhirnya berada tak jauh dari mereka.
Siera sangat terkejut melihat mereka. Dua orang yang saling berdebat, tatapan pria yang tak berperasaan, dan wanita itu dengan kekeras kepalanya.
Namun bukan itu yang membuatnya terkejut, tetapi sosok itu adalah dirinya dan Kalandra.
Siera langsung mendekati mereka. Tangannya terulur menyentuh Kalandra, berharap pria itu melihat ke arahnya. Sayangnya, ia tak bisa menggapainya, berkali-kali memegang Kalandra maupun wanita yang mirip dengannya, tangannya menembus tubuh mereka, dan ia tersadar bahwa tubuhnya saat ini transparan.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚
RomansKalandra membenci Siera karena memaksanya menikahi wanita itu. Padahal wanita itu tahu Kalandra telah memiliki kekasih yang amat dicintai. Kebencian itu terus bertambah seiring berjalannya waktu dan itulah dirasakan oleh Kalandra, tapi tidak dengan...
