DUA PULUH

5.2K 256 13
                                        

Selama kehamilan Siera, Kalandra menjaga dengan penuh hati-hati. Apa pun yang Siera inginkan, sebisa mungkin Kalandra memenuhi keinginan istrinya itu.

Kalandra bersyukur Tuhan memberinya kesempatan untuknya. Dengan kehadiran buah hatinya, Kalandra yakin ikatan cinta mereka semakin kuat. Ia juga semakin mencintai Siera bahkan tak akan menyia-nyiakan lagi.

"Siera, aku benar-benar bersyukur memiliki kamu di sisiku," ucap Kalandra seraya memeluk Siera dari samping.

Siera tersenyum lembut, mengusap punggung tangan Kalandra yang ada di perutnya.
"Aku juga. Aku bersyukur kamu bersamaku."

"Aku mencintaimu, dan rasanya tak ingin kamu pergi dariku."

"Sebelum kamu mencintaiku, aku lebih dulu mencintaimu, Sayang," balas Siera, menikmati dekapan Kalandra.

"Aku tahu, hanya saja aku takut kamu meninggalkanku," gumam Kalandra, yang masih bisa di dengar Siera.

"Hei, ada apa denganmu?" Siera terkekeh, rasanya hari ini suaminya sedikit aneh.

"Apa aku salah karena takut kamu meninggalkanku? Aku merasa, kamu bisa saja pergi dariku dan aku takut tentang hal itu."

"Jangan terlalu berpikir hal yang tak mungkin, Kalan. Kamu tahu betul aku tak bisa meninggalkanmu."

"Berjanjilah tak akan pergi dariku," pinta Kalandra.

"Baiklah, aku berjanji." Siera tertawa kecil, tak menanggapi ucapan aneh Kalandra secara berlebihan.

Sejak hamil, sikap Kalandra terasa aneh. Seakan-akan ia bisa saja meninggalkan pria itu untuk selamanya. Ketakutan Kalandra sangat berlebihan menurutnya. Padahal pria itu tahu cintanya kepada Kalandra bahkan bisa dikatakan gila dan buta.

Mana mungkin ia meninggalkan suaminya yang susah payah ia dapatkan?

"Baiklah, jangan memikirkan hal yang tak mungkin terjadi, Sayang," kata Siera menghentikan Kalandra yang ingin mengatakan sesuatu hal yang lebih aneh lagi. Lebih baik mereka menikmati kebersamaan mereka di sela-sela kehamilannya ini.

Kalandra mengangguk, mungkin benar kata istrinya, ia hanya terlalu berpikir berlebihan. Hari libur begini ia harusnya menikmati kebersamaan dengan istrinya sebelum berkutat dengan berkas-berkas yang tak ada habisnya.

Siera lega Kalandra tak membahas lagi. Kini ia melemparkan tubuhnya dalam dekapan Kalandra. Menikmati waktu kebersamaan mereka tanpa kesibukan. Siera mengelus perut buncitnya, pernikahan mereka lengkap dengan kehadiran buah hatinya. Ia merasa damai dan tenang.

Ya, semoga saja.

****

Tak terasa kehamilan Siera telah berjalan 7 bulan. Perutnya semakin membulat, bahkan orang-orang di sekitarnya menebak Siera tengah hamil anak perempuan.

Perempuan atau laki-laki, bagi Siera semua sama saja. Ia dan Kalandra akan selalu menyayangi anak-anak mereka nantinya. Siera memang sengaja tak mempertanyakan jenis kelamin anak mereka ketika melakukan USG, ia ingin kelahiran buah hati mereka menjadi kejutan untuknya dan Kalandra.

"Kau sedikit gemuk," ucap Kakek Abercio ketika mengunjungi rumah cucunya. Senyum keriputnya penuh ketenangan saat melihat Siera semakin cantik dan berseri, sangat mengingatkan kepada orang tua Siera yang telah pergi mendahuluinya.

"Kakek, meski aku gemuk, bukankah cucumu masih cantik?" Siera merengek manja pada Kakeknya.

"Tentu saja, kau adalah cucu paling cantik di mata Kakekmu ini."

"Aku tahu." Siera tertawa kecil.

Abercio menghela napas lega, selama ini pria tua itu takut Siera tak bahagia, namun semakin lama ia melihat, Siera tampak baik-baik saja.

𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang