DUA PULUH TIGA

3.8K 233 25
                                        

"Tak bisakah kau berhenti untuk menyakiti dirimu sendiri, Siera? Sampai kapan kebodohanmu ini terus kau lakukan?"

Siera menatap ke depan, tubuhnya kian mengecil memikirkan pernikahannya yang tak ada masa depannya. Air mata Siera perlahan jatuh berderai layaknya air hujan. Ia menunduk, terisak penuh kepedihan. Entahlah, entah sampai kapan ia bertahan, padahal ia tahu hatinya sangatlah sakit.

"Aku sangat mencintainya," ucapnya parau.  "Aku benar-benar mencintainya hingga rasanya aku hampir gila," lanjutlah lirih.

"Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jika dia meninggalkanku. Mungkin aku akan mati."

Livia menggigit bibirnya, ia merengkuh tubuh rapuh Siera. "Aku tak bisa menghakimimu, Siera, namun aku ingin kau berhenti menyakiti dirimu sendiri. Cintamu hanya akan membawa luka, cinta seperti itulah yang akan membunuhmu secara perlahan."

"Aku tahu, tapi aku ingin mempertahankannya. Siapa  tahu dia akan berubah, dan melihat cintaku yang begitu besar untuknya."

"Dan sampai kapan, hm?"

Siera melepas pelukan Livia, kembali melihat ke depan, di mana ombak pantai berderu kencang.
"Mungkin sampai hatiku mati rasa."

"Kuharap kau tak hacur sendirian."

Wanita itu tersenyum tipis, memejamkan matanya. Ia akan menanggung segala risikonya, meski nantinya ialah yang paling hancur.

Siera memasuki rumahnya, senyum kecut terulas di bibirnya, menatap sekeliling ruangan dengan mata memerah. Rumah yang harusnya penuh canda tawa, semua hanya ada rasa dingin dan kesunyian. Siera mendesah lelah saat memasuki kamar, ia merebahkan diri di ranjang dingin, berharap keajaiban akan datang padanya.

****

Siera menatap Kalandra yang memasuki rumah, wanita itu mendekati Kalandra dengan senyuman yang seperti biasa ia perlihatkan kepada sang suami.

"Kamu akhirnya pulang."

Kalandra menghela napas lelah. Pria itu mengabaikan Siera dan perlahan memasuki kamar mereka. Siera yang selalu mendapat bahu dingin dari Kalandra hanya tersenyum perih, namun ia hanya bisa menahannya. Ia pun mengikuti Kalandra dari belakang, berharap suaminya tak mengabaikannya lagi.

Ketika Kalandra sedang mandi, Siera mempersiapkan pakaian, namun Kalandra sama sekali tak menyentuhnya, malah memilih pakaian lain.

"Sampai kapan kita terus begini?" tanya Siera pada akhirnya, ia duduk di tepi ranjang seraya melihat ke arah suaminya, menunggu jawaban dari pria itu.

"Apa kamu tak lelah?" Kalandra membalikkan tubuhnya, bukan menjawab pertanyaan Siera, ia malah berbalik bertanya.

Tatapan mereka bertemu, sorot mata Siera yang lelah bertemu sorot mata Kalandra yang dingin.

"Kamu tahu kita tak sejalan, tapi kamu tak ingin berpisah. Katakan padaku, Siera, katakan apa yang kamu inginkan dari pernikahan tak sehat ini?"

"Sampai kapan kamu membelengguku dalam pernikahan ini?"

"Aku muak dengan pernikahan ini, AKU MUAK!"

Mata Siera memanas, bibirnya bergetar, ia sungguh tak sanggup mendengar perkataan kejam dari bibir Kalandra. Apakah semenyiksa itu menikah dengannya? Apakah hanya Kirana sumber kebahagiaannya?

"Menikah denganmu membuatku tercekik." Mata Kalandra memerah, menunjukkan rasa frustrasi, pria itu menatap tajam ke arah Siera. Tak ada cinta di sana, hanya rasa muak yang terus pria itu pendam.

"Aku tak bisa menikahi kekasihku karena kamu!"

Siera tersentak mendengar hal itu. Ia mendekati Kalandra ."Tak bisakah kamu mencintaiku, Kalan?" bisiknya parau. "Apakah secuil pun di hatimu tak ada aku? Aku mencintaimu!" ucapnya seraya menepuk dada yang terasa sesak.

𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang