Jam sudah menunjukan pukul 16.05 saat aku baru saja selesai membaca novel baruku di perpustakaan. Aku segera berganti baju dengan baju basket dan bawahan rok berwarna pink juga sepatu running berwarna pink-biru.
Tin tinnn. Suara klarkson mobil sudah terdengar dari halaman rumahku, itu artinya Vano sudah datang menjemputku untuk menemaninya basket. Aku bergegas keluar dari rumah dan menuju mobil Vano.
"Udah siap?" tanya Vano kepadaku yang sedang memakai seat belt disampingnya.
"Yap udah kok bos" jawabku dengan nada semangat.
Suasana diperjalanan begitu canggung tidak seperti biasanya. Hening terus menimpa hingga akhirnya Vano menyalakan radio yang ada dihadapannya.
Aku menatap Vano dengan tatapan masihkah-ia-Vano-yang-dulu.
"Kok lo ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Vano yang membuyarkan lamunanku sekaligus memecah keheningan yang ada didalam mobil.
"Ngg.... ngga kok gapapa cuma aneh aja baru sekali gue jalan sama lo tapi suasananya hening kayak gini" jawabku.
Aku melihat Vano membuka mulut seperti ingin mengatakan sesuatu namun terhenti ketika mendengar lagu Love Me Like You Do - Ellie Goulding terputar di radio.
Aku diam dan menatap jarijariku saat mendengar lagu itu. Lagu kebangsaan kita, pikirku.
Tak sampai dua menit kemudian, kitapun sampai ditempat Vano biasa latihan basket. Aku sangat bersyukur kita sudah sampai ditempat sebelum suasana yang lebih canggung lagi menimpa.
Vano merangkulku sambil berjalan memasuki tempat latihan.
"Lo duduk disini aja ya" ujar Vano sambil tersenyum. Akupun mengikuti perintah Vano dan segera duduk disalah satu kursi penonton.
Saat Vano sedang latihan, aku keluar sebentar untuk mencari minum. Aku membeli dua botol air putih untuk aku dan Vano. Lalu saat aku ingin masuk kembali kedalam tempat latihan, aku melihat tukang ice cream kesukaanku yang berada diujung jalan. Akupun segera menghampirinya.
"Bang yang coklat satu ya" ujarku kepada tukang ice cream tersebut.
Saat aku sedang menunggu ice cream ku dibuatkan oleh tukangnya, tiba - tiba saja ada seorang cowok yang sangat mirip Samudera kekuar dari tempat futsal dan berjalan kearah tukang ice cream.
"Bang satu ya vanilla" katanya.
"Eh b... lo lagi. ngapain disini?" tanyanya ketika melihatku.
"Harusnya gue yang nanya ngapain lo disini Sam" kataku dengan nada jengkel.
"Gue... mmm... hah Sam? siapatuh?" ujarnya dengan gugup.
"Ngapain coba gugup kayak gitu. lo Samudera kan?" kataku sambil menatapnya sinis.
"mmm hah? bukan bukan. gue... gue... gue Az... Zharfan iyaa panggil aja Zharfan hehe".
Akupun hanya mengangkat bahu dan mengambil ice cream ku yang sudah selesai dibuat.
"Gue duluan ya" jawabku kepada orang yang mengaku bernama Zharfan tersebut.
Aku kembali masuk kedalam tempat latihan tepat saat Vano sedang istirahat.
"Nih minum dulu" kataku sambil memberikan sebotol air putih kepada Vano.
"Makasih, btw abis darimana tadi?" tanyanya sambil meneguk air putih yang kuberikan tersebut.
"Abis dari depan beli minum sama ice cream tapi ngantri banget tukang ice creamnya jadi lama" kataku menjawab pertanyaan Vano.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashlight
Teen FictionDisaat keterpurukan menimpanya, Shabrienna Variezsa hampir kehilangan jati dirinya. Ia terus menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Hingga ia bertemu dengan Samudera, cowok paling dingin yang menjadi salah satu "most wanted guy" disekolahnya...
