"Akankah kenangan dapat mempertahankan
cinta yang memang sudah berbeda tujuan?"
Malam ini terasa sangat berbeda dibanding hari - hari lainnya. Udara malam ini terasa begitu menyesakkan. Entahlah, mungkin itu semua karena masalah yang tengah ku hadapi akhir - akhir ini.
Aku berjalan terus menuju perpustakaan. Mungkin kalo gue ke perpus gue bakal lebih tenang, pikirku. Aku membuka pintu perpustakaan dan bau buku menyerbuku dalam sesaat. Aku mulai berjalan memasuki perpustakaan dan mencari buku. Hingga pandanganku tertuju pada satu buku dengan cover SD ku dari tampak depan.
Aku membuka buku tersebut hingga menemui biodata ku didalamnya. Aku dengan dress putih diatas lutut dengan rambut dijepit menyamping dan curl dibagian bawahnya sedang tersenyum sambil melepas balon pink yang sedang aku pegang.
Setelah membulak - balik buku itu, pandanganku terhenti pada seorang cowok culun dengan kacamata hampir bulat dengan kemeja yang dilipat sedang duduk diatas kursi sambil tersenyum.
"Azhar, lo kemana aja? gue kangen sama lo. kenapa lo pindah? kenapa lo ninggalin gue?" tanpa kusadari akupun mulai meneteskan air mata.
**********
Brienna🌸: kemana aja? kok gangabarin
Devano Arnanta: maaf td gasempet megang hp
Brienna🌸: cuek bgt tumben
Devano Arnanta: slh trs
Devano Arnanta: terserah
Udah beda.
**********
Malam itu aku memutuskan untuk pergi kerumah Naya. Aku menceritakan semua hal yang terjadi.
"Kalo emang samasama udah gacocok, yaudah lepasin. lo sahabatan udah 8 tahun sama dia. mungkin lo lebih cocok jadi sahabat?".
Mungkin, pikirku.
"Nay, lo inget Azhar?" tanyaku sambil tersenyum pada Naya.
"inget. kenapa? lo ketemu sama dia?".
"ngga. gue... gue tadi ke perpustakaan rumah gue, terus gue liat buku tahunan SD dan... gue... gue..."
Gue kangen dia, tambahku dalam hati.
"Dia pindah kemanasi brie? ngilang gitu aja masa" tanya Naya. Dan akupun hanya mengangkat kedua bahu ku dan menggelengkan kepalaku.
"Nay gue nginep ya, nyokap lagi ke Medan, om gue mau nikah".
"Nginep nginep ae ribet amat" celetuk Naya dengan santainya.
Selepas pulang sekolah aku langsung menaiki undakan tangga menuju ruang les ku.
"Haloo brienna, apa kabar?" sambut Kak Christine, guru les vocal ku.
"yeaa insyaallah I'm fine" ujarku sambil menaruh tas dan duduk dikursi yang ada didepan Kak Christine.
"waahh lagi kenapa nih? What's wrong with you?".
"Nope" kataku sambil tersenyum.
Akupun memulai berlatih nafas dan nada seperti biasa. Seketika aku ingat ada PR Seni Budaya disuruh menyanyikan lagu wajib dan lagu bebas. Akupun langsung memberi tau Kak Christine tentang tugasku tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashlight
Teen FictionDisaat keterpurukan menimpanya, Shabrienna Variezsa hampir kehilangan jati dirinya. Ia terus menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Hingga ia bertemu dengan Samudera, cowok paling dingin yang menjadi salah satu "most wanted guy" disekolahnya...
