Happy Reading!!
⚡⚡⚡
Seorang gadis tidur dengan tidak nyaman. Alisnya berkerut. Keringat bercucuran di pelipisnya. Hawa dingin menusuk kulitnya. Wajahnya tegang. Dia tidak henti gelisah saat tidurnya. Nafasnya tidak beraturan. Mimpi itu seakan nyata. Membuat bayangan nyata terasa menyeramkan di depan mata.
Jennifer tersentak. Ia segera bangun dari tidurnya. Dia mengusap wajahnya kasar. Beberapa hari ini dia sering mengalami mimpi buruk. Ya, setelah dia mendapatkan ramalan dari Professor Trelawney. Mimpi itu sungguh buruk, sangat buruk, bahkan dia takut jika itu benar terjadi di masa depan. Jennifer tidak salah lagi, dalam mimpinya Voldemort itu bangkit. Bukan Harry yang menghadapinya, melainkan Jennifer sendiri.
Jennifer takut jika dia melewatkan sesuatu yang bisa menggagalkan misinya. Bulan ini sudah hampir berakhir. Secara bersamaan tahun ketiga berjalan dengan cepat, membuat Jennifer semakin khawatir. Apa yang dia lewatkan? Semenjak mimpi buruk ini datang Jennifer tidak bisa berpikir jernih hanya untuk sekedar mengingat. Jennifer menghela nafas, dia susah untuk mengingatnya. Dia sekarang akan fokus untuk menghancurkan semua horcrux terlebih dahulu. Tapi, hanya satu masalahnya, bagaimana dia bisa menghancurkan horcrux di tubuh Harry?
Nagini. Itu juga. Dimana dia bisa menemukannya. Semuanya terasa sulit karena dia menjalani sendiri. Jennifer ingin menangis. Bebannya sungguh berat, mengapa ia harus menanggung ini semua sendirian.
"Sudahlah, aku harus menjernihkan pikiran terlebih dahulu." Bisik Jennifer pada dirinya sendiri agar menenangkan pikirannya sejenak.
Jennifer melihat sekeliling, teman-temannya masih menyelami alam mimpi. Dia menyibak selimutnya dan keluar, menuruni tempat tidurnya. Dia memakai jaket dan membawa tongkatnya. Jangan lupa dia membawa jubah gaib milik Harry yang dia pinjam beberapa hari yang lalu. Jennifer keluar dari kamarnya, ia ingin mencari udara segar. Mengendap-endap berjalan di asrama Gryffindor untuk menuju pintu asrama. Ia membuka pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Jennifer menyusuri koridor Hogwarts yang sepi. Dia sesekali menoleh kebelakang atau kesamping, memastikan tidak ada prefek yang berjaga. Angin malam menyapu kulitnya, begitu dingin. Tujuannya sekarang adalah menara astronomi. Jennifer menaiki tangga satu persatu yang berbentuk melingkar. Saat berada di atas dia melihat ke sekeliling, tidak mendapati siapapun. Ia bersyukur.
Jennifer melangkah menuju balkon. Menampakkan langit malam yang begitu cerah. Dia menghirup perlahan dan melepaskan semua bebannya untuk sesaat. Sudah beberapa hari dia seperti ini, tidak bisa tidur ketika mimpi buruk. Satu ia berharap, semoga mimpinya tidak menjadi kenyataan. Jennifer yang bingung berbuat apa mulai mengangkat jarinya, menghitung bintang satu persatu. Sungguh unik bukan?
"Apakah kau akan menghitung semua bintang itu?" celetuk orang yang berada di belakangnya.
Jennifer tersentak. Ia segera menoleh dan saat itu juga dia menyesal, melihat laki-laki berambut pirang sedang menatapnya. Jennifer berdecak, "Apa yang kau lakukan di sini, Malfoy?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu." Draco mendekat, berdiri di sampingnya sekarang dan melihat langit malam.
Jennifer menghela nafas, dia tidak peduli sekarang. Ia hanya perlu ketenangan. Tidak ada waktu untuk berdebat dengan Malfoy pirang satu ini.
"Kau sedang banyak pikiran ya?"
"Bukan urusanmu, ferret."
"Yah aku adalah pendengar yang baik."
Jennifer memandang Draco aneh. Tentu saja. Dia Malfoy jika kalian lupa. Ada apa dengannya. Masalahnya di sini adalah Jennifer adalah orang yang selalu dia bully, bukan teman, apalagi keluarga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Come to Hogwarts
RandomJennifer Rosemary, dia sangat menyukai film harry potter, dia mempunyai banyak karakter yang di sukai tapi sayang sekali ending nya mereka mati. Karena kecintaan nya terhadap harry potter dia memiliki banyak sekali aksesoris harry potter bahkan ia m...
