Part 17

200 13 1
                                        

Alvaro berlari menggendong Tania, ia menuju mobilnya. Tania didudukkan di bangku penumpang, lalu Alvaro memasangkan safety belt nya.

Ketika sudah memastikan Tania aman, ia langsung berlari ke bangku pengemudi. Alvaro mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Walau ia panik, namun Alvaro juga tidak mau gegabah dalam membawa kendaraan. Tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Tania.

Sesekali ia melirik Tania yang hanya diam, menatap jendela disebelahnya. Alvaro penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, namun ia sadar kalau itu tidak bisa ditanyakan sekarang.

Lagi pula Alvaro bisa dengan mudah tau segalanya tanpa harus bertanya pada Tania.

🔹️🔹️🔹️🔹️

Alvaro membawa Tania kerumahnya. Ia tidak ingin meninggalkan Tania sendiri.

"Kita dimana?" itu kalimat pertama yang  Tania ucapkan, setelah daritadi ia diam. Ia bingung dengan lokasinya berada sekarang

"Kamu dirumah aku. Malam ini istirahat denganku." itu perintah, Tania paham.

Alvaro sudah berdiri disamping pintu mobil Tania. Sudah membukakan pintu dan nununggu Tania turun dari mobil.

"Antar aku kerumahku saja Al." Tania berbisik. Ia takut melawan Alvaro, namun ia benar-benar sedang ingin sendiri.

"Sekarang turun, baby. Tidak ada bantahan untuk malam ini."

Tania menghela nafasnya. Ia lelah, benar-benar lelah menghadapi Alvaro, belum lagi tadi berhadapan dengan Aina. Akhirnya ia menerima uluran tangan Alvaro, menuntunnya keluar dari dalam mobil.

Tania berjalan disebelah Alvaro, yang merengkuh pinggangnya. Tangan Alvaro terasa pas dipinggang Tania. Ia melirik kearah Alvaro. Walau sudah larut malam, Alvaro tetap terlihat tampan.

Harus Tania akui.

Tania berpikir Alvaro akan menempatkan ia di kamar tamu. Namun ketika memasuki kamar itu, ia langsung tau kalau pikirannya salah.

Dari ornamen yang terlihat dan wangi ruangan. Tania tau kalau itu kamar pribadi Alvaro.

Tania duduk di sofa kamar Alvaro.
"Al, boleh aku tidur di kamar tamu saja?"

Alvaro tidak menjawab. Ia hanya menatap Tania tajam sebagai jawaban, membuat Tania hanya meringis.

"Kamu boleh membersihkan tubuhmu, kamar mandinya sebelah sana." ucap Alvaro sambil menunjuk sebuah ruangan.

Tania terdiam. Mandi adalah godaan besar untuk Tania.

Tapi, mandi dengan Alvaro saru ruangan dengannya?
Tania takut ketika sedang membersihkan tubuhnya, Alvaro akan masuk ke kamar mandi.

Seakan tau dengan isi kepala Tania, Alvaro hanya menyeringai.
"Aku tidak akan masuk ke kamar mandi kalau kamu tidak ingin, baby. Tapi, kalau kamu menginginkannya, aku bisa bergabung dengan mu." goda Alvaro sambil membuka jas, dasi dan kemejanya.

Tania yang malu merasa ucapan Alvaro ada benarnya. Ia langsung berlari menuju kamar mandi.

Alvaro yang memperhatikannya hanya terkekeh. Tania langsung mengunci pintu kamar mandi, agar Alvaro tidak dapat membukanya.

Tania membasuh tubuhnya, membiarkan tubuhnnya terguyur air hangat dari shower. Ia menikmati guyuran air hangat.

Ingatannya berlari pada persahabatan Aina dan dirinya. Ia bingung kini mengapa menjadi seperti ini.

Belum lagi kejadian tadi di kamar mandi restoran. Ia bingung mengapa Aina bisa mengetaui tentang dirinya dan Alvaro. Mengingatkan ia akan kejadian malam itu.

ImmortalityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang