Part 12

350 13 2
                                        


TANIA'S POV:

Dalam diam aku sedang berada di mobil si brengsek ini. Ya, Alvaro siapa lagi.

Entah apa yang ia mau, aku pun tak mengerti. Dengan pias aku melihat tanganku yang sedang digenggam hangat dengan sebelah tangan Alvaro, sedangkan sebelah lagi ia gunakan untuk menyetir.

Sejak kejadian yang memalukan bagiku tadi di kantor, Alvaro bersikeras mengantarku kembali kerumah. Tentu dengan segala ancamannya.

Sesekali Alvaro mengecup tanganku yg ia genggam. Sialnya setiap ia mengecup tanganku, membuat vaginaku berdenyut.

Aku mengingat kejadian beberapa waktu lalu di kantor Alvaro. Kegiatan oral yang panas bagiku. Bahkan dengan Kevin aku tidak pernah melakukan lebih dari kiss.

Mengingatnya membuatku muak, dan aku membuang pandangku dari wajah Alvaro, yang sialnya tampan itu.

Aku benar-benar tidak mengerti dengan tubuh ini. Otakku mengatakan tidak, sedangkan tubuhku menghianatiku.

"Secepatnya kita akan membicarakan pernikahan, baby." suara Alvaro memecah keheningan.

Secepat kilat kepalaku menoleh kearahnya.

"Apa yang kamu maksud pernikahan? Siapa yang menikah?" tanyaku setengah bingung.

Alvaro menyeringai, dengan sedikit mengeratkan tangan di tanganku ia berkata,
"Tentu saja pernikahan kita, baby."

"Kita tidak saling mengenal Alvaro, awal mula pertemuan kita dan semua ini dimulai dari kesalahan."

"Tidak ada kesalahan baby, ini takdir."

Berdebat dengan Alvaro membuatku pusing, sehingga aku memilih menghela nafas dan memejamkan mata sesaat.

🔹️🔹️🔹️🔹️

Kini mobil Alvaro sudah sampai di depan rumahku. Karena sudah terlalu malam kondisi sekitar rumahku pun sudah sangat sepi.

Saat ingin membuka pintu mobil dari dalam, entah bagaimana caranya Alvaro menarik diriku dengan mudah, sehingga kini aku berhadapan dengannya, berada diatas pangkuannya.

Dengan bingung refleks aku memedang pundaknya. Kedua tangan Alvaro sudah berada dipinggangku, dan mengelusnya halus.

"Kamu sangat cantik Tania." bisik Alvaro dengan suara dalamnya.

Seakan sudah mengerti bahwa ini alaram bahaya, dengan gelisah aku mencoba turun dari pangkuan Alvaro.

"Sst ssstt sstttt, baby jangan banyak gerak. Kamu bisa membangunkannya." terdengar geraman di dalam ucapan Alvaro.

Dan sialnya aku bisa merasakan kejantanan Alvaro diantara vaginanya. Aku membelalakan mata, panik.

Alvaro menyeringai melihat kepanikanku, "Tenang baby, kali ini bukan aku yang akan dipuaskan, tapi dirimu." ucap Alvaro percaya diri.

Belum mengerti apa yang ia bicarakan, kedua tangan Alvaro sudah menaikkan dress-ku sampai pinggang.

"Alvaro!"

Dengan gelap mata Alvaro menyentuh vaginaku yang masih ditutupi celana dalam, lalu menyingkapnya. Tanganku dicekal kuat kebelakang dengan sebelah tangannya.

Aku tersentak kaget karena Alvaro mulai memasukan jari tengahnya kedalam vaginaku agar masuk sepenuhnya.

Aku mencoba nemahan eranganku.
"Nnngghhh."

Setelah setengah jarinya masuk, Alvaro dengan keras menghentakan kasar jarinya kedalamku agar masuk sepenuhnya.

Dan disitu aku benar-benar tidak bisa menahan eranganku "Aahhhh!" Kepalaku sampai mendongak, dan kakiku bergetar hebat. Benar- benar badan ini menghianatiku.

ImmortalityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang