Kevin dan Aina sedang duduk di coffee shop, kurang lebih sudah setengah jam dari pesanan mereka datang, belum ada yang membuka pembicaraan.
"Jadi apa maksud semua ini Aina?" tanya Kevin akhirnya.
Aina terdiam, ia bingung apa yang harus ia katakan.
FLASHBACK:
"Ikuti terus permainan ini Aina, atau harus ku panggil Shofia?" Alvaro tersenyum simpul menatap Aina di depannya.
"Apa sebenarnya keinginanmu Alvaro?" Aina merasa tidak habis fikir.
Kini Aina sedang berada di ruangan kantor Alvaro. Tepat sejam lalu Alvaro meminta Aina untuk datang ke kantornya.
"Seperti yang kamu tahu, yang aku inginkan adalah Tania__"
"Tania tidak ada urusan apa-apa Alvaro, urusan ini hanya antara kita berdua!" cecar Aina mencoba melawan.
"Tidak sayang ini urusan kita bertiga_" Alvaro menggelengkan kepalanya tenang.
Aina mengernyit bingung.
Alvaro yang melihat kebingungan Aina hanya tersenyum simpul.
"Kau membutuhkan uang untuk operasi Ibumu, bukan?" tembak Alvaro
Wajah Aina pias, pucat. Ia sampai sedikit melupakan Ibunya.
"Orang ketiganya adalah Ibu mu, dan tenang semua biaya Ibumu sudah ku selesaikan, berkat service yang diberikan sahabatmu, Tania." ucap Alvaro dengan smirk nya.
Aina benar-benar merasa terombang ambing. Dia bingung harus berbuat apa, dia diantara dua pilihan.
"Lalu aku harus apa__" bisik Aina sambil menunduk pasrah.
Alvaro berjalan mendekat kearah Aina. Ia memegang kedua pipi Aina dan mengangkatnya,
"Tetap berada di sisi Kevin." ucap Alvaro dengan suara tegasnya.
FLESHBACK END
"Aku mencintaimu Kevin." ucap Aina tanpa keraguan. Kini ia tidak bisa mundur, untuk kebaikan semua, pikirnya.
"Maksudnya? Kamu tau aku pacar sahabatmu bukan?" Kevin merasa tidak habis fikir.
"Tapi Tania sudah ngebohongin kamu, dia juga berhubungan dengan kakak kamu!"
Kevin membuang mukanya, ia tidak bisa mengingkari fakta itu. Ia merasa hidupnya kini dipermainkan.
"Kita bisa memulainya Kevin." Aina mencoba menggenggam tangan Kevin yang ada di atas meja.
Kevin yang masih kalut dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari bahwa Tania memasuki coffee shop itu. Ia melihat Aina yang sedang memegang tangan Kevin.
Kebetulan coffee shop itu, berada di pelataran kampus mereka. Tania membeku beberapa detik, sampai ia menguatkan hati dan melanjutkan jalannya memesan minuman.
"Hey my dear Tania, sudah lama aku tidak melihat mu__" sapa Diana staf coffee shop yang mengenal baik Tania.
"Hey Di, aku lagi sibuk mengurus tugas akhir, dan yuupp aku jadi jarang kesini." jawab Tania dengan senyum manisnya.
"Ngomong-ngomong__ eeemmm" Diana merasa kikuk.
Tania mengernyitkan alisnya "Kenapa Di?"
"Bukankah Kevin pacarmu? Kenapa sekarang jadi dekat dengan Aina? Dia sahabatmu kan, Tan?"
Tania tertegun, ia melihat kebelakang kearah meja Kevin dan Aina. Mengejutkannya Kevin dan Aina sedang melihat kearah Tania pula.
Tania langsung membuang pandangnya menghadap Diana, "Yaaa, mungkin perlu sesuatu yang baru." ujar Tania sambil mengangkat bahunya acuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortality
Roman d'amourCinta. Lebih susah kita menjaganya ketika ia ada, daripada mencarinya ketika ia belum ada.
