Part 18 🔞

236 10 2
                                        

Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Ia lembur sebentar malam ini. Hari ini Tania bisa melewatinya dengan cukup tenang. Di kantor ia tidak bertemu Kevin ataupun Aina.

Kabar yang beredar mereka berdua sedang dikirim untuk memantau cabang perusahaan. Tania tau ini pasti karena Alvaro.

Alvaro memang sengaja mengirim kedua orang tersebut pergi sementara waktu. Semenjak kejadian di restoran, ia ingin membuat Tania nyaman terlebih dahulu, dengan tidak bertemu Kevin dan Aina.

"Tania, keruanganku sekarang." Tania terkejut mendengar suara interkom di mejanya.

Ia sedang membereskan mejanya bersiap pulang. Namun Alvaro menelfonnya dan menyuruhnya datang ke ruangannya. Dengan enggan ia berjalan keruangan Alvaro.

Seharian ini ia juga tidak bertemu Alvaro. Ia sedang bertemu client di luar kantor.

Tania bisa melihat beberapa penjaga di depan ruangan Alvaro, tidak seperti biasanya. Ada dua pria berbadan besar dengan setelan jas.

Tanpa Tania bicara, seakan mengerti salah satu dari mereka mempersilahkan Tania masuk ke ruangan Alvaro.

Tania masuk keruangan kantor Alvaro.
Tepat setelah Tania masuk, dan baru saja ia menutup pintu, Tania mendengar suara tembakan pistol tak jauh darinya.

Tania cepat membalik badannya menghadap kedepan.

Ternyata itu adalah Alvaro. Alvaro sedang berdiri didepan pria yang sedang terbaring berdarah-darah di lantai ruangan.

Tania melihat pistol ditangan Alvaro, yang artinya tembakan itu berasal dari Alvaro.

"Mr. Gavriel dengar dulu, ini bukan seperti yang......"

Sebelum pria itu selesai berbicara, Alvaro sudah menembak kepalanya, membuat pria itu mati ditempat.

Tania menahan nafasnya, melihat pemadangan didepannya. Pria mati didepannya, darah dimana-mana, suara tembakan yang sebelumnya belum pernah ia dengar.

"Baby, sayangku." Alvaro menatap Tania, tatapan tajam tadi menghilang menjadi tatapan lembut.

Tania menatap horor Alvaro. Tangan kanannya masih memegang pistol, kemeja putihnya terlihat bercak darah.

Tangan Alvaro yang luka-luka, pasti itu ia gunakan untuk memukul pria yang sudah terkapar itu.

"Maaf baby, kamu harus melihat ini semua. Business is business baby, tikus itu mencoba mengakali businessku. Jadi harus aku basmi bukan?" Alvaro berucap seperti anak kecil didepan Tania.

Tanpa terasa Tania meneteskan air matanya. Ia menggelengkan kepalanya, ia ketakutan.

Ia membalik badannya kehadapan pintu, ia mencoba membuka pegangan pintu berkali-kali berharap pintu itu terbuka.

"Tolong, buka pintunya!" Tania menggedor pintunya, mencoba meminta tolong pada orang diluar ruangan, walau ia tau tidak akan ada yang membantunya.

"Hei baby kenapa? Sstt, ada aku disini." Alvaro mendekat ke arah Tania, ia menyeringai melihat ketakutan dimata Tania.

"Sstt, just relax baby."

Tubuh Tania hampir melompat dari tempatnya berdiri ketika mendengar suara Alvaro tepat dibelakangnya.

Dengan cepat Tania menoleh kebelakang. Dan benar, Alvaro sudah berdiri bahkan memeluk tubuhnya deri belakang. Jantung Tania langsung berdetak dengan cepat.

Tania menelan ludanya. Ia harus kabur sekarang.

Tapi belum sempat Tania kabur. Alvaro sudah menghimpit tubuhnya pada pintu. Alvaro lalu membalik tubuh Tania.

ImmortalityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang