Entah berapa lama Tania tertidur di dalam mobil. Samar ia merasa mobil berhenti, dan ada tangan besar yang mengelus puncak kepalanya. Mata Tania enggan terbuka, ia masih lelah.
Alvaro menggendong Tania dengan hati-hati turun dari mobil, memasuki mansionnya. Ia menatap wajah Tania yang berada digendongannya, tidur begitu damai.
Ia memasuki lift menuju lantai tiga, dimana kamar utama berada. Ia tidak akan membiarkan Tania tidur di kamar tamu.
Para pekerja di mansion Alvaro cukup terkejut karena ini kali pertama bos mereka membawa wanita. Biasanya Alvaro tidak akan pernah sudi membawa wanita ke mansionnya.
Bahkan untuk keluarga Keith saja, mereka tidak pernah datang. Karena mansion ini benar-benar ia gunakan untuk dirinya pribadi.
Sesampainya dikamar, Alvaro merebahkan Tania dikasurnya. Alvaro membuka seluruh pakaian Tania, ia mengambil kaos dan celana miliknya dan akan ia kenakan pada Tania.
Dengan telaten, ia mengenakan pakaian ke Tania, tanpa Tania terganggu tidurnya. Dirasa Tania masih terlelap, kini Alvaro membuka seluruh pakaiannya dan memasuki kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Sekitar sepuluh menit, Alvaro sudah kembali hanya menggunakan celana pendek, berjalan kearah kasur membawa tablet ditangannya.
Ia duduk disamping Tania dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang, sejenak ia mengusap kepala Tania lembut. Kemudian ia mengotak atik tabletnya, ia masih memiliki beberapa pekerjaan.
Ketika ia tadi tau Tania ingin kabur, buru-buru ia meninggalkan semua pekerjaannya dan mengatur rencana. Sehingga kini ia sudah bersama Tania, dan memuluskan rencanannya.
"Kau urus semua, buat seakan-akan Tania sedang pergi berlibur, jangan meninggalkan jejak. Atur kembali tentang semua jadwal saya." Alvaro menutup telfonnya.
Beres mengerjakan pekerjaannya. Ia kini merebahkan tubuhnya. Ia merapatkan tubuhnya ke Tania dengan memeluk tubuh mungilnya.
Sejenak Alvaro memperhatikan wajah Tania. Ia pun bingung dengan apa yang ia rasa, Tania bukan lah tipenya. Jujur, banyak wanita yang sudah Alvaro kencani atau bermain-main, yang lebih dari Tania. Namun Tania seperti mempunyai magnet yang menarik dan mencuri perhatiannya dari pertama mereka bertemu.
🔹️🔹️🔹️🔹️
Perlahan Tania mulai bangun dari tidurnya. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun seperti ada yang menahannya. Dahinya mengernyit, perutnya tertiban sesuatu yang berat.
Apa ini? Pikir Tania
Tania memegang-megang benda yang melilit perutnya tanpa membuka matanya. Sesuatu yang besar, keras namun hangat.
Tania perlahan membuka matanya, kini matanya bertubrukan dengan dada bidang, pandangannya naik hingga kini ia melihat wajah Alvaro yang tidur dari arah bawah.
Tania tidak memungkiri bahwa Alvaro lelaki yang teramat tampan, bahkan melebihi Kevin, namun kenapa hatinya bisa seperti iblis, pikir Tania.
Ia melihat sekeliling, Tania tidak familiar dengan tempatnya berada saat ini. Kamar luas yang berornamen hitam dan merah, wangi ruangan yang hangat, dan yang lebih parahnya lagi ia berada dekat dengan Alvaro.
Dengan perlahan Tania mencoba melepaskan lilitan kaki dan tangan Alvaro pada tubuhnya. Ia masih berusaha ingin pergi dari Alvaro, walau ia tidak tahu ini berada dimana.
Setelah terlepas ia mencoba turun dari ranjang. Lantai dingin langsung menerjang telapak kaki Tania. Ia sedikit meringis ketika berdiri, kewanitaannya terasa nyeri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortality
Aktuelle LiteraturCinta. Lebih susah kita menjaganya ketika ia ada, daripada mencarinya ketika ia belum ada.
