TANIA'S POV:
Nafasku masih terengah. Badan bagian depanku masih menempel di meja kerja Alvaro. Kejantanannya masih berada didalamku.
"Al, keluarkan kejantananmu itu." ucapku masih dengan nafas yang tersendat, ku melirik ke belakang melihat betapa tampannya wajah Alvaro.
Wajah yang berkeringat, rambut yang berantakan, kancing kemeja yang sudah terlepas, mulutnya yang terbuka mengatur nafasnya.
Sial, vaginaku berkedut tanpa ku minta.
"Wow, kenapa vaginamu berkedut baby. Apa kau mau ronde selanjutnya?" goda Alvaro.
"Al, ku mohon ini sudah semakin larut malam. Aku harus pulang."
"Kita bisa ke rumahku, kita bisa melanjutkannya kembali." Alvaro menggodaku kembali. Ia menggerakan bokongnya lambat, sehingga kejantannnya menggoda vaginaku.
Aku memejamkan mata, tidak boleh, ini tidak boleh lebih lanjut, batinku.
"Aku mohon Al, besok aku masih harus melanjutkan pekerjaanku di kantor ini."
Aku bisa mendengar Alvaro menggeram kesal. Ia mengecup pundakku, lalu menarik dirinya, sehingga kejantanannya pun terlepas.
Aku bernafas lega, mencoba menegakan tubuhku, namun kakiku masih bergetar karena orgasme tadi.
Aku masih memunggungi Alvaro, berpegangan pada meja kerjanya. Sampai aku merasa, Alvaro memegang pergelangan kakiku satu. Ia membantuku memakaikan celana dalam baru.
Dari mana ia punya celana dalam wanita, baru? Pikir Tania.
Ia merapihkan rokku. Membalikkan tubuhku, ia membantu membenahi kemejaku, rambutku.
"Aku berjaga-jaga menyimpan dalaman wanita. Agar kalau sampai terjadi yang seperti tadi, paling tidak kamu masih bisa memakai dalaman, bukan?" ucap Alvaro sambil menyeringai, melihat kebingungan di wajahku.
Benar-benar gila, dia bahkan sudah mempersiapkannya?
Aku melihat penampilan Alvaro yang sudah lebih baik.
Alvaro menuju bangku kerjanya. Ia mengambil jasnya, lalu berjalan kearahku. Merangkul pinggangku, menuntunku keluar ruangannya.
"Kita mau kemana?" tanyaku bingung, sekarang sudah berada di lift. Karena sedari tadi Alvaro tidak banyak bicara kalau mau kemana.
"Aku akan mengantarmu pulang, baby. Atau kamu mau ikut aku pulang ke rumahku?" godanya, membuat pipiku memerah dan menggelengkan kepala.
Ia terkekeh, mendekatkan kepalanya dan mengecup hidungku.
Sampai diloby kantor, beberapa mata menatap ke arah ku. Alvaro dengan santai, tangan kanannya menenteng jas kerjanya, tangan sebelah kirinya menggenggam tanganku dengan mantap.
Risih, itu yang ku rasa. Apa yang ada dipikiran karyawan-karyawan melihat CEO mereka bergandengan tangan dengan mahasiswi magang.
Namun sepertinya Alvaro tidak peduli.
Sampai diluar, mobil Alvaro sudah terparkir, ia membuka-kan pintunya untukku masuk terlebih dahulu. Lalu ia memutar masuk ke bagian kemudi, dan melajukan mobilnya.
"Kita makan dulu, baby. Aku tau kamu pasti lapar."
Didalam mobilpun sebelah tangannya yang bebas, ia gunakan untuk menggenggam tanganku.
"Tidak bisa kita langsung pulang, sungguh aku lelah Al."
Alvaro menengok ke arahku, menatapku tajam. Dan aku merasa ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortality
General FictionCinta. Lebih susah kita menjaganya ketika ia ada, daripada mencarinya ketika ia belum ada.
