Part 19

168 11 0
                                        

Alvaro menatap Tania yang sedang tertidur disebelahnya. Ia memutuskan membawa Tania pulang kerumahnya. Alvaro merasa enggan berjauhan dengan Tania.

Ia memperhatikan wajah mungil Tania, bulu mata yang lentik, hidung mungil macung, bibir pink yang menggoda. Entah bagaimana hidupnya sekarang kalau malam itu ia tidak bertemu Tania.

Alvaro merengkuh Tania ke pelukannya. Ia memilih ikut memasuki alam mimpi bersama Tania.

🔹️🔹️🔹️🔹️

Tania merasa tidurnya terganggu karena mendengar suara alarm. Ia merasa itu bukan suara miliknya.

Matanya mulai terbuka, ia mencoba melihat sekelilingnya. Ketika ingin bangun, Tania merasa ada tangan kekar yang melingkari perutnya.

Ia melihat tangan kekar yang memiliki tato dibagian lengan atas. Tania menaikkan tatapannya, sampai ia menyadari bahwa disebelahnya ada Alvaro yang masih tenang tertidur.

Tania jadi ingat kejadian kemarin, tubuhnya bergetar ketakutan.

Alvaro pembunuh? pikir Tania.

Sampai ia merasa pergerakan disebelahnya. Alvaro mulai terbangun.

"Good morning..." suara serak khas bangun tidur Alvaro.

Tania diam kaku. Ia benar-benar takut, apa ia juga akan dibunuh Alvaro?

Alvaro mengambil handphonenya dan mematikan alarmnya. Lalu dengan cepat ia kembali memeluk Tania. Dahi Alvaro mengernyit, lengannya memegang dahi, dan leher Tania.

"Kamu demam, baby." Alvaro bangun dari tidurnya. Ia membenahi selimut Tania.

Alvaro bangun dari tidurnya, menuju luar kamarnya. Tak lama ia kembali membawa tempat dan air hangat serta kain lembut untuk mengompres Tania.

Tania bahkan sampai tidak sadar kalau badannya sedang demam. Mungkin karena rasa takutnya.

Alvaro lalu mengompres dahi Tania.

"Kamu hari ini tidak perlu masuk, istirahat disini samapai demammu turun." Tania hanya diam memperhatikan Alvaro yang dengan telaten merawatnya. Ia juga mengambilkan obat dan meminta Tania meminumnya.

Ia melihat kali ini sosok Alvaro yang berbeda dari yang kemarin. Alvaro yang ini peduli, penuh kelembutan. Berbeda dengan Alvaro yang kemarin penuh kekejaman.

"Sekarang kamu istirahat. Aku mau mandi bersiap-siap ke kantor."

Alvaro berjalan menuju kamar mandi. Ia benar-benar bertingkah seperti biasa saja. Seperti kemarin tidak terjadi hal yang kejam.

Ketika Alvaro sedang mandi. Asisten rumah tangga mengetuk pintu dan membawakan makanan untuk Tania. Tania mengucapkan terimakasih, dan asisten itu pamit pergi.

Makanan yang diantarkan adalah bubur, air putih dan hot chocolate. Sebenarnya ia enggan untuk makan, namun ia takut Alvaro akan marah.

Tania akhirnya memilih untuk makan. Ditengah-tengah ia sedang makan, Alvaro sudah kembali dengan pakaian lengkapnya untuk bekerja, luar biasa tampan.

Alvaro tersenyum tipis melihat Tania sedang makan.

"Makan yang banyak, agar kamu punya tenaga untuk nanti malam."

Dahi Tania mengernyit, nanti malam?

"Nanti malam? Memang kenapa nanti malam?" tanya Tania.

"Nanti malam mommy, daddy mengundang aku untuk dinner. Kita akan datang."

Tania terdiam, kalau ia harus bertemu mommy daddy Alvaro, berarti ia akan bertemu Kevin.

"Kenapa aku harus ikut? Kan yang diundang kamu."

ImmortalityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang