TANIA'S POV:
Aku hanya melihat wanita yang berada di depanku. Ya dia adalah Aina.
Ia meminta berbicara padaku, sebenarnya aku cukup kecewa padanya.
Kenapa ia bisa bilang kalau ia mencintai kekasihnya.
Sudah kurang lebih dua puluh menit mereka duduk, namun Aina masih belum memulai pembicaraannya.
Dengan muak, aku bangun dari dudukku untuk pergi meninggalkannya.
"Maafkan aku Tania."
Satu kalimat itu membuat tubuhku membeku. Aku ingin menangis, segampang itu dia meminta maaf?
"Untuk apa Aina?" ucapku dingin.
"Untuk semua yang terjadi Tania, ku mohon."
Aku menghela nafas berat. Kubalikkan badanku menghadap dirinya yang masih duduk dibangkunya.
"Kenapa harus Kevin? Apa tak ada pria lain?"
Aina masih menunduk, tidak menjawab pertanyaan ku.
"Sungguh Aina, aku benar-benar lelah. Mulai sekarang kita tidak perlu terlalu dekat lagi."
Aina bangun dari duduknya, ia mencoba menggapai ku.
"Tania ku mohon, ada yang mau kubicarakan."
Aina menggapai tanganku, sedikit menariknya.
Aku meringis, entah kenapa pergelangan tanganku terasa sakit. Padahal cekalan tangan Aina pun tak kencang.
Aina pun sama terkejutnya, ia melihat pergelangan tanganku.
"Tanganmu kenapa Tania?" tanyanya panik.
Aku pun bingung, kenapa dan sejak kapan tanganku memar?
Mungkin karena ulah Alvaro beberapa hari lalu? Itu sudah lama kan?
"Engga kenapa-napa, hanya terbentur."
Aku melihat raut wajah Aina yang khawatir dan curiga.
"Ayok kita ke klinik Tania, aku temenin."
Aina mencoba menarik kembali tanganku untuk mengajaknya ke klinik.
Aku mencoba menolaknya. Mencoba melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.
"Engga usah Aina, lepas. Aku engga butuh bantuan kamu."
Sempat terjadi tarik menarik antara aku dan Aina.
Yang bikin aku sangat terkejut adalah. Tiba-tiba ia melepaskan tangaku, dan ia menjatuhkan dirinya sendiri. Seolah terdorong oleh ku, lalu ia meringis.
Keterkejutanku belum habis ketika Kevin berlali dari arah belakangku menuju Aina yg sejang terjatuh.
"Kamu apa-apaan sih Tania, kenapa ngedorong Aina sampai begini? Dia ini sahabat kamu."
Seperti disambar petir disiang hari yang terik, mendengar ucapan Kevin kepadaku, tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
Bibirku kelu, bingung mau menjelaskan apa.
Untuk apa Aina menjatuhkan dirinya didepan Kevin, membuat seolah-olah aku mau mencelakainya?
Kevin membantu Aina bangun dari jatuhnya, sedikit merangkul bahunya.
Aku benar-benar menangis, tidak bisa menahan air mata lagi.
Sampai aikhirnya mereka berdua berlalu menginggalkanku sendiri.
TANIA'S POV END
🔹️🔹️🔹️🔹️
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortality
RomanceCinta. Lebih susah kita menjaganya ketika ia ada, daripada mencarinya ketika ia belum ada.
