Part 14

284 12 1
                                        

Tania menjalani hari-harinya seperti biasa. Yang ia sadari sudah dua hari tidak melihat Aina dikelas.

Hati kecilnya, Tania masih peduli dengan Aina walau apa yang sudah terjadi.

Tania menuju lokernya ketika selasai kelas, untuk menaruh buku pelajarannya. Ketika menutup pintu loker, ia terkejut selihat Kevin sudah berada di sebelahnya.

Malas melihat wajahnya, Tania mengabaikannya dan berlalu.

"Sebentar Tania, please kita harus bicara." Kevin mencoba menahan Tania.

"Udah Kev, ini sudah selesai. Kamu mau gimana lagi?"

"Bisa kita duduk sebentar, agar semua jelas."

Dan disinilah mereka berdua, ditaman kampus yang cukup lengang.

"Apa__apa hubungan kita berakhir begini saja Tania?"

Tania menahan nafasnya, air matanya mendesak keluar namun ia coba menahannya.

"Sudak Kevin, hubungan yang sudah tidak ada dasar kepercayaan sudah tidak bisa di jalankan..." bisik Tania tersendat

"Semoga kamu dan Aina berbahagia dengan hubungan kalian." tambah Tania.

Kevin tercengang, lidahnya kelu. Ketika nama Aina ia dengar, memori kejadian beberapa malam kemarin kembali terulang.

Walau ia mabuk ia bisa ingat apa yang terjadi. Apa yang ia lalukan dengan Aina.

"Tania__"

Belum Tania melanjutkan ucapannya, ia sudah mengambil handphone nya dan menterahkan ke Kevin. Tania memutar video di handphonenya, Kevin melihatnya dengan tercengang.

FLASHBACK:

Alvaro memasuki sebuah club malam. Di balik kesuksesannya, ia juga memiliki bisnis gelap dan beberapa club malam. Namun tidak banyak orang yang tau.

Salah satu club malam yang ia miliki adalah club dimana Shofia bekerja.

Setelah kejaian malam itu, Alvaro membeli club malam dimana Shofia bekerja, karena ia merasa akan ada keseruan di dalamnya.

Kini firasatnya benar, ketika ia sedang di club. Ia melihat Kevin adiknya yang tengah masuk kedalam club.

Ia tau adiknya sedang kalut. Kevin menuju bar, ia melihat adiknya itu bingung hendak memesan minum apa. Karena ia tau Kevin tidak pandai dalam urusan dunia malam.

Dengan menyeringai, ia memanggil tangan kanannya.

"Berikan obat ini kepada bartender itu, suruh dia memasukannya ke minuman pria berbaju biru itu."

Alvaro menyesap winenya dengan smirk nya. Ia sudah menunggu-nunggu akan ada keseruan apa.

🔹️🔹️🔹️🔹️

Dengan bingung Kevin memesan minumannya. Sekali teguk ia merasakan rasa aneh di tenggorokannya karena minuman yang tidak biasa ia rasakan.

Kevin mulai merasa melayang di kepalanya. Semua itu tidak luput di penglihatannya. Sampai bintang utamanya keluar.

Alvaro memang sengaja meminta tangan kananya untuk menghubungi Daniel, agar Shofia bisa bekerja malam ini.

Sebenarnya Shofia tidak ada jadwal kerja malam ini. Namun ketika ia mendapatkan laporan Kevin menuju club, ia langsung meminta Shofia bekerja malam ini.

Seakan semesta mendukung Alvaro. Terjadilah kejadian yang diluar pikiran Shofia dan Kevin. Alvaro meyeringai senang, rencananya berhasil.

Ia pun sudah memasang beberapa camera di kamar hotel itu. Semua aktifitas didalam kamar terekam jelas.

ImmortalityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang