Semalam setelah aku dikentangin sama Jessi, Jesslyn mengirim lokasinya lewat chat. Dia juga mengirim dua foto. Yang pertama foto vaginanya yang masih basah dengan lendir, dan yang kedua foto dadanya. Dua foto itu tanpa wajah dan tanpa penjelasan lebih lanjut apa maksudnya. Sepertinya dia memang sengaja menggodaku.
Rejeki jangan ditolak, begitulah prinsip hidupku selama ini. Alhasil, di hari minggu yang cerah ini, aku sudah bersiap untuk pergi ke rumah Jesslyn. Sekarang aku sedang fokus-fokusnya menata penampilan di depan cermin, namun tiba-tiba...
"You mau kemana?"
"Whaaaa! Ngagetin aja kamu, Jess!" Entah dari mana tiba-tiba anak ini nongol begitu saja di belakangku.
"Mau kemana? Wangi banget pagi-pagi gini." tanya Jessi lagi.
Aku memilih diam dan tidak menjawab. Mana mungkin aku terang-terangan bilang padanya kalau mau ke rumah Jesslyn. Kalau dia tau, sudah pasti dia akan ikut ke sana dan niat awal untuk senang-senang dengan Jesslyn tak mungkin terealisasi.
"Malah diem aja. Mau kemana?" tanya Jessi lagi dengan muka penuh selidik. Posisinya menjadi tepat di hadapanku sambil melipat tangannya di depan dada.
"Bukan urusan anak kecil," kubilang.
"Ikut."
Hmmm... benar dugaanku.
"Ngapain ikut? Aku mau pergi sama temen-temenku."
Tatapan penuh selidik di wajahnya masih belum hilang. Matanya masih memicing dengan kedua alis yang bertaut di tengah dahinya.
"Mau kemana?"
Ngeselin juga ni lama-lama. Aku pun memikirkan suatu tempat yang Jessi tak akan mau ikut jika aku kesana. Pilihanku jatuh kepada...
"Futsal."
"Mana mungkin futsal pake kemeja gini? Futsal ya pake baju futsal, lah! Aneh you."
Bodohnya aku, kenapa aku menjawab tidak sesuai dengan apa yang aku pakai sekarang.
"Jawab jujur. Mau kemana?"
Pertanyaan itu dilontarkan lagi. Sepertinya Jessi tak akan berhenti kalau aku belum menjawab dengan jujur.
"Kenapa sih posesif banget? Aku mau ke rumah Jesslyn."
"Hah? Ke rumah Ci Jesslyn sepagi ini? Ngapain? Kalo ke rumah Ci Jesslyn, aku ikut lah!"
"Ngapain? Aku mau ngedate."
"Kamu tega ninggalin aku di rumah sendirian sementara kamu main sama temenku?" Tatapan Jessi makin mengintimidasi. Jaraknya semakin dekat hingga aku bisa merasakan tangan yang sedang terlipat di depan dada itu mengenai perutku.
"Tega," jawabku cepat. Aku masih sibuk menata rambut sekarang dan bodo amat soal Jessi kalau marah.
Jessi mendesah pelan, lalu tangannya sudah tidak melipat lagi di depan dada. "Tunggu bentar. Lima menit lagi aku balik." Kemudian dia pergi begitu saja dengan langkah kaki yang terlihat tergesa.
Sepertinya ini kesempatan untuk kabur, batinku.
Saat Jessi keluar dari kamarku, cepat-cepat aku mengambil tas dan berniat untuk pergi. Ketika melewati depan kamar Jessi, aku sengaja mengendap-endap agar dia tidak mendengar langkah kakiku. Begitu kurasa cukup jauh, aku langsung turun dan buru-buru menyalakan mesin mobil.
Baru beberapa meter mobilku melaju, aku merasa ada yang kurang. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di rumah dan aku yakin apa yang tertinggal itu sudah pasti bukan Jessi.
Oke. Aku memelankan laju mobilku sambil mengingat-ingat apa yang tertinggal. Saat aku meraba kantong celanaku, ternyata dompet dan hpku ketinggalan!
Sialan! Nggak mungkin aku keluar rumah tanpa dompet atau hp. Kalaupun dompetku saja yang tertinggal, aku tak begitu mempermasalahkan. Tapi ini hp juga!
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
