Dua Puluh Satu

1.2K 43 0
                                        

Merasa kesal dengan kejadian barusan, aku memilih untuk diam, duduk dan merenung apa salahku di cerita ini. Selalu saja aku ditinggalkan begitu saja. Tak pernah sekalipun aku bisa mencapai klimaks.

Ah, sudah lah. Kalau dipikir lagi sepertinya malah tambah pusing. Lebih baik aku keluar dan melihat siapa orang yang nggak sopan mengganggu kenikmatanku dengan Jessi barusan.

"Kak," panggil Jessi saat aku baru keluar kamar. Dia mengintip dari ujung lorong dengan senyum manisnya.

"Apa?" dengan malas aku membalas. Sempat aku melirik sinis sebelum memilih berlalu melewatinya.

"Diihhh ... Sini dulu." Jessi menarik tanganku.

"Apasih?"

Bibir Jessi mengerucut melihat responku seperti itu. "Beliin makan buat aku sama temenku itu." Jessi menunjuk seorang gadis yang sedang duduk di sofa.

Saat itu karena aku masih kesal dengan Jessi jadi tak menyadari sudah ada orang di sana. Posisinya membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat rupanya seperti apa. Tapi aku yakin dia perempuan dengan rambut panjang. Teman sekelas Jessi, kah?

"Heh! Malah bengong. Beliin makan dulu!"

Aku sedikit terkesiap karena Jessi mendorong pundakku. Masih penasaran siapa perempuan itu.

"Dih! Suruh dia kenalan dulu sama aku. Enak aja minta makan tapi belom kenal," sahutku sinis.

Tepat setelah mengucapkan itu, si gadis yang sedang duduk di sofa akhirnya menoleh. Dia melihatku dengan senyum lebar. Dan kesan pertamaku saat melihatnya adalah, dia sangat manis. Benar-benar manis. Wajahnya ayu, bibirnya seksi, hidungnya mancung, matanya bulat.

"Zee, kenalin nih kakakku."

Ohhh... Dia namanya Zee, batinku.

Setelah itu, gadis yang dipanggil Zee berdiri. Dia berbalik dan berjalan ke arahku. Namun ada sesuatu yang bikin aku terkejut.

Glek.

Dadanya membusung dengan bulatan yang tercetak jelas dari balik kaosnya. Gila! Ukurannya jauh berbeda jika dibandingkan milik Jessi.

"Permisi, Kak, perkenalkan, namaku Azizi, tapi temen-temen biasanya manggil aku Zee." Azizi mengulurkan tangannya ke arahku. Kusambut tangan itu sambil tersenyum tipis. Saat bersalaman dengannya aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak melihat ke dadanya.

Serius. Dada itu bikin salah fokus!

"Ah, iya. Aku kakaknya anak nyebelin ini," kujawab sambil mengacak-acak rambut Jessi. Jessi mengerang dan menepis tanganku cepat Sambil merengut kesal.

"Kamu mau makan apa, Zee?" Aku melepaskan jabatan tanganku dengan Zee, lalu berlalu menuju ke dapur.

"Hah? Makan? Aku nggak laper, Kak."

Pernyataan itu mampu membuatku mematung. Aku menoleh, menatap Azizi dengan heran. Bukannya tadi Jessi bilang kalau dia minta dibelikan makanan buat mereka berdua? Lantas, apa ini cuma akal-akalan Jessi?

"Sssttt... Zeeeeee... Jangan bilang gitu. Bilang laper aja!" bisik Jessi, tapi bisikan itu bisa aku dengar dari dapur.

Benar dugaanku. Ternyata itu cuma akal-akalan Jessi.

"E-eh, i-iya, aku laper, Kak. Terserah mau beliin apa aja. Hehehe." Kekehan Azizi terdengar terpaksa. Sementara aku melihat Jessi sembunyi di belakang dinding yang memisahkan dapur dengan ruang tengah. Hish! Ngeselin banget tu bocah!

Aku menghela nafas sebelum mencari sesuatu yang bisa dimakan dari kabinet dapur. "Tanyain Jessi sekalian mau makan apa," kataku kemudian.

Mereka berdua bisik-bisik tanpa bisa kudengar apa yang sedang dibicarakan, sesekali mereka tertawa. Aku baru menyadari kalau Azizi punya lesung pipi di kedua sisinya. Lesung pipi itu terlihat jelas ketika dia tertawa.

Pikk-usiskoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang