Siang ini aku sedang bersantai di ruang tengah sendirian sambil menonton serial netflix kesukaanku. Harusnya aku ada kelas siang ini, tapi tiba-tiba saja dosen mata kuliah itu membatalkan. Sebagai ganti kelas, aku diberi tugas. Karena tugasnya gampang, aku memilih untuk mengerjakannya nanti malam.
Rasanya sepi hari ini. Jessi sekolah, ditambah dia ada ekskul. Katanya, dia akan pulang setelah maghrib nanti dan bilang padaku untuk tidak usah menjemput.
Hadeh, aku harus menghabiskan waktu sampai nanti malam sendirian kalau begini.
Ting
Hpku berbunyi, menunjukkan sebuah notifikasi di layar kunci. Kulihat chat itu dari Beno, penjaga warnet ku. Walaupun hanya lantai atas dan bawah, Beno selalu menghubungiku lewat chat terlebih dulu karena tak ada yang boleh naik ke lantai dua selain aku dan Jessi. Kubuka chat itu buru-buru.
Ada yang nyariin lo
Nyariin? Siapa? Temen kuliah, kah? Nggak mungkin, sih. Temenku nggak ada yang tau rumahku.
Buru-buru aku turun untuk melihat siapa yang datang. Saat sampai di depan, aku sedikit bingung karena orang yang mencariku itu adalah Azizi.
"Loh? Jessi nya belom pulang, Zee. Kamu nggak dikabarin?" kutanya sambil mempersilahkan dia masuk.
"Katanya aku disuruh ke rumah dulu, Kak," dia menjawab sambil mengekor di belakangku. Aku mengajaknya untuk naik ke lantai dua.
"Duduk dulu aja," pintaku sesampainya di ruang tengah. Azizi mengangguk kecil sambil tersenyum. Aku memilih untuk pergi ke dapur mencari suguhan.
"Kamu emang gak tau kalo Jessi hari ini ada ekskul sampai nanti abis maghrib?" kutanya lagi sambil meletakkan baki penuh dengan jajan dan minuman kaleng.
"Enggak, Kak. Aku sama Jessi 'kan beda sekolah." Azizi mengambil satu minuman kaleng setelah aku persilahkan. Dibuka minuman itu dan langsung diminum. "Katanya aku disuruh nunggu dulu aja," sambung Azizi setelah minum.
"Waduh, kayaknya ngerjain kamu tuh, Zee. Coba telpon aja deh."
Azizi sempat terkekeh sebelum mengeluarkan hpnya. Setelah itu dia terlihat buru-buru menelepon Jessi. Azizi sengaja me-loudspeaker agar aku bisa mendengar perbincangan mereka.
Cukup dua nada tunggu yang terdengar. Jessi mengangkat telepon itu.
"Halo. Kenapa, Zee?" tanya Jessi di ujung sana.
"Kamu pulang jam berapa, Jess? Aku udah di rumahmu."
"Lah? 'Kan aku bilangnya sore aja, Zee, bukan sekarang. Aku baru pulang nanti jam enam."
Azizi seketika bingung. Mulutnya menganga dan matanya terlihat kesal. Aku bisa menebak kalau di ujung sana pasti Jessi sedang menghela nafasnya.
"Hadeeehhhh... Aku udah buru-buru dari sekolah ke rumahmu padahal. Ya, udah. Aku tungguin aja sampe kamu pulang," sahut Azizi. Aku hanya bisa diam menahan tawa di sebelahnya.
"Mending kamu pulang aja, Zee. Lagian masih jam dua siang ini. Takutnya kalo kamu nanti di usilin sama Kakakku," ucap Jessi di ujung sana.
"Emang Kakakmu usil?" Azizi bertanya sambil sedikit melirik ke arahku. Aku pura-pura tidak tau.
"Pokoknya kamu pulang aja. Kakakku bahaya."
Waduh. Kenapa aku kena framing jelek kayak gitu? Buru-buru aku menarik hp Azizi dari hadapannya.
"Heh, jangan fitnah!" kataku.
"Kak, kenapa hp Azizi ada di kamu? Balikin!"
"Gak mau. Azizi biar di sini aja sambil nunggu kamu. Hehehe."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
