Sudah hampir satu minggu sejak kejadian itu, Jessi seperti tidak menganggapku ada di rumah. Tiap pulang sekolah, Jessi akan langsung masuk kamar. Soal makan, dia memesan lewat aplikasi online. Awalnya aku mengira dia akan memohon untuk memasak sesuatu pada hari ketiga, tapi aku lupa kalau dia masih diberi uang sama Mami. Pesan makan dua kali sehari tidak jadi masalah bagi Jessi sampai hari Sabtu ini.
Aku sendiri juga bingung harus apa. Saat Jessi keluar kamar untuk mengambil makanan, dia langsung melengos ketika melihat aku. Percuma juga aku kejar kalau dia tetep ga peduli sama apa yang aku omongin.
Di Sabtu yang cerah ini, daripada bosen di kamar, aku memilih untuk nyantai di ruang tengah sambil nonton netflix. Rencana awalnya aku ingin memasak untuk sarapan, tapi mengingat Jessi masih marah dan enggan memakan masakanku, niat itu aku urungkan.
"Kak."
Merasa dipanggil, aku langsung refleks untuk menoleh. Ada perasaan bersyukur kala itu ketika untuk pertama kalinya setelah kejadian minggu kemarin Jessi mau memanggilku lagi. Dia berdiri di belakangku tak begitu jauh, dekat dengan pantry dapur.
"Kenapa?" kujawab. Saat itu aku berusaha bersikap biasa saja walaupun aslinya aku sedang kegirangan.
"Kamu nggak masak?" Jessi berjalan ke dapur.
Mataku kembali fokus ke layar tv. "Nggak."
"Kenapa nggak masak?" tanya Jessi lagi. Nadanya kedengeran jutek banget.
"Males makan sendiri," kujawab tidak kalah juteknya. Jual mahal dikit.
Sempat aku melirik ke arah Jessi, ternyata dia sedang sibuk mencari-cari di kabinet dapur. Harusnya ada sesuatu di sana yang bisa dia makan karena minggu kemarin aku baru belanja bulanan dengan Azizi.
"Masak apa ya?" ucap Jessi. Sepertinya buat dirinya sendiri. "Tapi gak ada apa-apa lagi selain mie. Masak aku makan mie? Tapi udah lama sih nggak makan mie sih."
Nggak ada apa-apa selain mie? Boong banget tu anak, batinku.
"Aku mau masak mie. Sekalian nggak?" tawar Jessi. Saat dia menoleh ke arahku, aku cepat-cepat melihat ke tv lagi.
"Gak usah. Aku mau masak sendiri aja. Emang kamu bisa nyalain kompor?"
"Ngeremehin apa gimana?"
Aku yakin ekspresi Jessi pasti sangat kesal saat merespon itu. Sayangnya aku lagi nggak bisa liat. Bukannya gak bisa, lagi jual mahal aja.
"Masak mie, gampang. Kalo nggak mau, ya, gak usah ngejek."
Jutek banget, heran.
Kubiarkan saja Jessi di dapur, sesekali aku menoleh untuk memastikan juga. Jessi terlihat panik saat menyalakan kompor. Walaupun rasanya ingin membantu, tapi aku berusaha untuk cuek.
Beberapa menit kemudian Jessi datang lengkap dengan piring berisi mie goreng dan gelas barbie di tangan kirinya. Dengan santai dia duduk di sebelahku. Piring dan gelas itu diletakkan di meja tanpa mengucapkan apapun.
Aroma mie goreng di pagi hari memang juara. Perutku yang masih kosong rasanya meraung dan meronta-ronta untuk meminta makan. Ingin rasanya aku rampas mie yang Jessi buat. Sadar akan resikonya, aku memilih untuk diam.
Ting Ting Ting
Bunyi garpu dan piring yang beradu. Jessi sedang sibuk mengaduk mie nya.
"Aku lagi ngaduk mie. Ini kegiatan yang harus dilewati dengan fokus penuh. Jangan ganggu," jelas Jessi.
Lah? Siapa yang ganggu? Orang aku lagi nonton tv, batinku.
Tint Ting Ting
Jujur, suara garpu sama piring itu ganggu banget, ditambah aroma mie yang semerbak benar-benar bikin aku nggak fokus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
Fiksi PenggemarAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
