Dua Puluh

283 38 0
                                        

Jessi masih terdiam di kursi sisi kiri sambil melipat tangan di depan dada dan bibir yang mengerucut. Aku tahu dia cemburu. Aku sudah menjelaskan berulang kali kalau perkataanku soal meminta nomornya Jesslyn hanya gurauan. Namun, Jessi sepertinya tak memperdulikan itu.

"Jess, aku cuma becanda. Lagian, emang apa salahnya aku ngesave nomernya Jesslyn?" kutanya sambil masih fokus menyetir pulang.

"Hmm... Pikir sendiri."

Nadanya dingin. Sempat aku melihat dia melirik dengan sinis.

"Terserah deh."

Akhirnya kita sampai rumah setelah melewati perjalanan yang sunyi senyap serta dingin itu. Jessi masih terdiam. Dia memilih untuk langsung masuk ke rumah begitu saja tanpa menungguku seperti biasanya. Aku memilih cuek kalau dia memang cuek seperti itu. Tidak seterusnya aku harus mohon-mohon padanya, tidak seterusnya juga aku memanjakan dia.

Kulihat Jessi sedang duduk di ruang tengah lantai dua. Dia merebahkan tubuhnya sambil menatap layar hp yang ada di tangannya. Wajahnya masih kusut, bibirnya masih cemberut. Aku berjalan melewati tanpa mempedulikannya.

Biar lah, mending aku tidur, pikirku.

***

Tidurku terusik ketika aku merasakan ada sesuatu yang memukul-mukul perutku dengan pelan. Beberapa kali aku tepis, tapi hal itu malah semakin gencar menggangguku. Akhirnya aku memilih untuk membuka mata dan melihat siapa yang usil itu.

"Jessi!"

Benar dugaanku, orang yang memukul-mukul perutku itu Jessi. Dia sudah di dalam selimutku dengan... telanjang?

"Kamu ngapain?" Aku menyingkap selimut membuat tubuh Jessi yang polos tanpa baju itu jadi terlihat. Dia sempat menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menutupi payudara kecil miliknya yang menggantung bebas.

"Aku bosen." Jessi beringsut, merebahkan tubuhnya di sebelahku lalu memunggungi. Entah sejak kapan dia sudah memegang hp. Dan kini fokusnya ke layar hpnya itu, tak mempedulikan aku.

"Masih marah?"

"Masih."

"Terus kenapa kesini kalo masih marah?"

"Bosen."

Rrrrrrr.... Kenapa se menyebalkan ini adikku? Apa dia sedang pms? Hmm... Sepertinya tidak. Lantas aku harus bagaimana? Aku cuma pengen tidur. Toh lagian masih jam tiga sore ini!

Aku ikut memunggungi tubuh Jessi dan memilih untuk memejamkan mata lagi. Rencananya mau tidur sampai nanti jam enam, biar bangun bisa langsung nyiapin makan malam buat dia, tapi apa daya. Sepertinya Jessi tak mau melihat aku tidur.

"Kaaaaakkk..." Jessi memeluk dari belakang. Dia mengguncang-guncangkan tubuhku lumayan kencang. Mengganggu sekali!

"Apaaaaa?!" Aku sedikit mendorong tubuhnya menjauh. Tanganku tak sengaja mengenai dadanya.

"Bosen akutuuuhhh... Ngapain kek gitu," rengeknya.

"Mau ngapain? Aku ngantuk, Jess. Tidur aja biar nggak bosen."

"Nggak ngantuk," jawabnya cepat.

"Ya ngapain kek sana. Lagian kamu juga kenapa telanjang gitu?"

"Gerah."

Serius, cara menjawabnya sangat menyebalkan. Singkat, padat, nggak jelas dengan nada dingin. Sebenarnya apa yang dia mau, sih?!

Aku bangkit, duduk bersila di hadapannya. Jessi juga ikut duduk di depanku. Dia membuang pandangannya seakan menghindari tatapan mataku. Padahal mataku melihat ke dadanya yang bulat itu. Aku juga melihat putingnya yang sudah mencuat, dan aku yakin itu sudah keras. Apa dia... sange?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: a day ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pikk-usiskoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang