Entah jam berapa tepatnya Guntur pulang semalam. Yang jelas hari ini Rani bangun terlambat dengan mata bengkak, dia terbangun karena Melani yang merengek, dan sinar matahari telah menembus melalui celah jendela.
Kenapa Guntur tiba-tiba menyebut almarhumah ibu dan adiknya? Apa Rani melakukan sebuah kesalahan lain yang tak disengajanya? Tetapi apa?? Yang jelas semalam Guntur mendadak sangat marah padanya.
Rani memaksakan diri untuk bangun dengan kepala terasa berat, dan mengurus Melani. Ketika Rani keluar, Rani tak mendapati Guntur di rumah. Rani memandikan Melani seperti biasa, dan membersihkan rumah. Bi Sri datang tak lama kemudian. Rani masih mengarahkan pandangannya ke luar teras, tetapi tetap tak ada tanda-tanda Guntur akan muncul.
Rani menahan napasnya, sepertinya pria itu tetap akan menghindarinya. Ketika Rani ke belakang, tak lama terdengar deru mesin mobil Guntur, ketika berlari ke depan, dia mendapati Guntur telah pergi tanpa masuk ke dalam rumah.
Napas Rani terhela sesak.
Setelah Bi Sri melakukan tugasnya dan pulang, Rani meniatan satu hal dalam hatinya. Dia mengambil syal, payung, air mineral, dan menuju kedai.
"Lho, Kak Rani mau ke mana?" tanya Ika heran.
"Kamu tahu di mana kuburan Ibu Bang Guntur?"
Mata Ika langsung terbelalak. "Masa Kakak nggak tahu makamnya? Memangnya belum sempat jiarah—"
"Tidak tahu." Sela Rani dengan tegas, tak peduli dengan apa pun anggapan Ika. "Kalau aku tahu. Aku tidak akan bertanya."
"Oh... itu kak. Kakak tahu ada kuburan umum di sana kan?" Ika menunjukkan sisi kiri jalan.
Rani mengangguk.
"Tapi lumayan juga itu loh kak kalau jalan. Kakak mau jalan?"
"Siapa nama lengkap ibunya Bang Guntur?" potong Rani.
Ika kembali terheran-heran. "Masa Kakak nggak tahu nama mertua sendiri??"
"Tidak tahu," tegas Rani kembali menahan geram.
Ika menatap curiga, namun tetap berkata, "Kalau sudah sampai di kuburan, ambil jalan tengah, kakak cari di deretan sebelah kiri. Letaknya di tengah-tengah. Cari aja, Susanti binti Djaelani."
Rani mengangguk paham. "Oh ya, aku titip melani. Coba catat nomorku. Kalau Melani menangis langsung hubungi aku."
Rani menyebutkan nomor ponselnya, dan Ika segera mencatatnya.
"Oh ya, satu lagi. Tolong jangan katakan ini kepada Bang Guntur ya."
Tanpa membuang waktu Rani langsung jalan sendirian ke makam, tak peduli dengan panas yang terik, dia melangkahkan kakinya dengan cepat.
Sesampainya Rani di pemakaman umum yang tidak terlalu padat seperti di kota. Rani langsung berdebar. Dia melangkah pelan, dan membaca satu per satu nama di nisan.
Dada Rani berdesir, darah dalam nadinya seolah memacu begitu cepat, begitu menemukan makam ibu Guntur, tanpa diperintah air mata langsung mengaliri sisi wajah Rani.
Rani berjongkok di samping pusara. Perasaannya kian tak terkendali. Rani sangat menyadari perbuatannya pasti telah membuat susah hati dan penderitaan seorang Ibu.
Tak ada kata yang mampu keluar dari mulut Rani, dia hanya mengisi kesunyian dalam tangisan.
Dia telah membuat Guntur di penjara, dia telah menghancurkan hati seorang ibu, dia juga telah merusak nama baik keluarga Guntur.
Rani masih menggeleng-geleng, dengan air mata meluncur deras.
"Bu-Bukan Guntur yang melakukannya. Ibu pasti sangat tahu itu," ucap Rani dengan suara sesak terpatah-patah. "A-aku sangat bersalah. A-aku mohon ampun. Aku tak tahu bagaimana cara menebus dosa-dosaku. Tapi aku akan menjaga Melani dengan baik, aku janji."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
