“Tapi aku tidak bisa ikut denganmu sekarang,” ucap Rani yang berhasil menarik tangannya dari cengkeraman Guntur.
“Bisa,” ujar pria itu tegas.
“Aku tidak bisa berhenti bekerja begitu saja—“
“Aku juga tidak bisa masuk penjara begitu saja. Apalagi dengan kesalahan yang tidak kuperbuat.”
Napas Rani kembali tertahan, kepalanya menjadi benar-benar berat. “To-tolong jangan buat keributan di sini,” bujuk Rani mendengar suara Guntur yang meninggi. “Aku harus mengajukan surat resign sebulan sebelum pengunduran diri. Begitu aturannya.”
“Bahkan sedetik pun kamu tidak akan bisa kabur.”
Rani menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kabur? Dia bahkan tak tahu ke mana Guntur akan membawanya. Kembali ke kampung? Mungkinkah?
“Tunggu. Tunggu. Terlalu banyak...” ucapan Rani terhenti, karena kepalanya sangat pusing dan isi otaknya sangat penuh. Meski Rani sudah sangat terbiasa dengan mimpi buruk akan tetapi dia tak menyangka ada hari yang lebih buruk dari hari ini. “B-berapa yang kamu inginkan? Aku juga bisa menyewa jasa pengasuh untuk mengurus anakmu.”
“Berapa?” ujar Guntur menyeringai namun jelas kemarahannya mencapai puncak tertinggi. “Bahkan menjual tubuhmu pun kamu tidak akan bisa membalas semua perbuatanmu padaku. Aku dikurung, dihajar, diinjak, dicambuk, diludahi, hanya untuk mengakui perbuatan yang tak kulakukan,” desis pria itu membuat Rani semakin merinding.
Darah seolah menghilang dari wajah Rani yang kian memucat. Perkataan Guntur menikam Rani tepat di jantungnya. “A-aku. Waktu itu aku masih muda dan tak terkendali. Aku memohon pemaklumanmu sedikit saja.”
“Bahkan sedikit saja kamu tak memikirkan imbas kebohonganmu waktu itu,” desis pria itu semakin marah.
Sengat begitu panas pada pelupuk mata Rani. Panik dan putus asa menderanya. “Oke... oke... tapi aku tidak bisa ikut denganmu hari ini juga... Tolong berpikirlah sejenak. Aku berjanji tidak akan lari.”
Rani tersentak dengan bola mata seolah hendak keluar dari sarangnya ketika Guntur menarik dan mencengkeram pergelangan tangannya.
“A-ada banyak orang di sini, kamu tidak akan bisa macam-macam.”
“Kamu yakin aku tidak bisa melakukannya?” tantang Guntur dengan wajah merah padam.
Rani menahan napas. Dengan bergetar dia berkata, “Aku akan mengasuh anakmu selama dua tahun juga. Iya kan? Aku butuh kepastian. Apa setelah itu utangku lunas? Dan kamu membiarkanku bebas?”
Pria itu tak menjawab.
“Aku butuh kepastian.”
“Iya,” sentak Guntur dengan nada kasar.
“Tetapi aku tidak bisa resign begitu saja perusahaan punya peraturannya sendiri. Aku berjanji tidak akan kabur,” ulang Rani. “D-dan sekarang aku harus kembali bekerja. Kita bertemu kembali setelah aku pulang kerja. Bagaimana?”
“Kemarikan ponsel dan dompetmu.”
Rani menghela napas sesaat dan memberikannya. Rani tahu jika dia ingin lari, dia bisa melakukannya. Ponsel dan dompetnya bukan halangan besar. Tapi kali ini dia tak ingin lari lagi. Rani berharap Guntur dapat melihat kesungguhan di matanya.
“Aku akan merawat anakmu dengan baik seperti keinginanmu. Terkecuali kamu melanggar aturan, aku juga akan melanggar kesepakatan—“
“Aku yang memegang permainan,” sela Guntur dengan kasar. Pria itu lantas berdiri. “Aku tahu kamu tetap bisa kabur. Tetapi jika sekali lagi aku berhasil menemukanmu—“
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomantikGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
