Bab 18

1.5K 237 13
                                        

Akhir-akhir ini Rani lebih senang bersenandung, meski yang sering dinyanyikannya adalah lagu anak-anak. Rani mendekatkan hidung ke baju Melani dan mencium aroma cologne yang begitu harum. Lalu membubuhkan bando di kepala bayi itu.

Rani kemudian meletakkan Melani ke ayunan bayi. Teringat akan Guntur, Rani langsung kembali keluar, dan sedikit tersentak saat Guntur berpapasan dengannya di depan pintu.

Rani melirik ke arah tangan kanan Guntur yang memegang sesuatu. Ketika di perhatikan, Guntur langsung melirik ke arah lain, dan bawaannya langsung tersembunyi di belakang tubuhnya.

Senyum Rani tertahan, itu adalah bekal yang biasa di siapkannya di dalam tas kanvas. Kemarin-kemarin sih, Rani harus memberikannya terlebih dahulu baru pria itu menerimanya, tapi karena hari ini Rani masih sibuk dengan Melani yang sedikit rewel, ternyata Guntur tak lupa membawanya.

"Abang mau langsung pergi?" tanya Rani.

"Kenapa?" tanya Guntur langsung.

"Tolong lihat Melani sebentar. Aku mau membersihkan pampers."

Guntur mengangguk dan langsung masuk ke kamar.

Senyum Rani terkembang begitu riang, dan dia menyelesaikan sisa pekerjaannya.

Ketika Rani kembali, Guntur terlihat membungkuk di wajah Melani.

"Melani sangat wangi, kan, sekarang?"

Guntur langsung tersentak bangun. Mau tak mau Guntur harus mengakuinya.

Senyum Rani mengembang lebar saat pria itu mengangguk.

"Melani juga senang dengan mainannya."

Guntur memperhatikan Melani lebih aktif saat mainan di atas kepalanya, berputar dan memainkan musik.

"Melani kayaknya sudah butuh pijat."

"Sepertinya Bi Sri tahu tukang pijat bayi di sekitar sini, nanti aku tanyakan," sahut Guntur.

Alis Rani terangkat ketika duduk di sebelah Guntur, dan meraih ponselnya yang tergeletak sembarang di atas ranjang. "Sekarang... coba Abang gendong Melani."

Guntur langsung melirik kikuk. "Nanti saja, kalau Melani sudah bisa mengangkat kepala."

Rani langsung mengerutkan keningnya. "Coba dulu," sela Rani berdiri dan mengangkat tubuh Melani. "Abang duduk yang benar!"

Dan seolah terkomando, Guntur menegapkan bahunya, sambil duduk tegak di pinggir ranjang.

Rani kemudian memosisikan Melani ke lengan Guntur, membuat tubuh Guntur semakin kaku. Rani tak mampu menahan rasa gelinya.

Dia kemudian, mengarahkan ponsel, dan berkata. "Senyum sedikit!"

"Sudahlah, itu tidak perlu," gerutu Guntur saat tahu Rani akan memotretnya.

"Perlu dong. Aku juga sudah sering berfoto dengan Melani. Jadi, sekarang waktunya melani yang sudah cantik foto dengan Papanya."

Wajah Guntur langsung terangkat, sebutan 'Papa' sepertinya tidak pas dengannya.

"Senyum!" seru Rani lagi.

Namun, Guntur tetap menatap lurus dengan ekspresi dingin.

Rani tetap memotret, meski wajahnya kemudian cemberut. Rani kemudian meletakkan ponselnya, dan menggendong Melani ke pundaknya. "Papa nggak asik, iya kan?" gumamnya ke Melani menyindir Guntur.

Tapi di saat bersamaan Guntur merasakan tubuhnya semakin kaku. Ada desir aneh merayap ke sudut hatinya.

Guntur menatap Rani sedikit lebih lama. Jika tanpa kebohongannya bertahun-tahun silam, Rani adalah wanita sempurna.

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang