Meskipun hari ini tak seperti yang Rani harapkan, akan tetapi Guntur yang sudah mau berbicara lagi padanya, adalah segalanya bagi Rani.
Tapi mengapa Rani tetap saja kesulitan memilih baju? Padahal, kan, hari ini bukan acara pergi piknik. Bahkan, Guntur sudah mewanti-wanti hanya mengambil uang lalu pulang. Namun, dress santai yang dipakai Rani, adalah pilihan yang ketiga setelah bergonta-ganti pilihan tadi. Rani benar-benar merutuki dirinya sendiri, padahal mereka hanya akan ke kota bukan pergi ke acara yang 'wah'.
Rani kembali mematut tampilannya di cermin. Bajunya berwarna hijau toska terlihat cukup sopan sepanjang lutut, dengan aksen kerah berkedut dan tangan menggelembung, juga model berkancing sampai bawah.
Sudah pukul delapan, persiapan Rani sudah komplit, dia menggendong Melani ke depan duduk di teras sambil menunggu Guntur selesai dengan pekerjaannya di kedai.
"Mau ke mana Kak?" Rani tersentak, entah bagaimana ceritanya Ika tiba-tiba nongol dan memperhatikannya dari atas ke bawah.
"Belanja. Ke kota." Entah mengapa Rani tak bisa menahan diri untuk terus bersikap sombong di depan Ika. Dia begitu sebal saat Ika selalu tanya ini itu, ya sudah, sekalian saja dia panas-panasi.
"Oh... udah akur lagi ya?"
Mata Rani langsung berkilat tak senang. "Siapa... yang bilang nggak akur?" jawab Rani mengelak. Apa Guntur yang bercerita kepada Ika? Ah, rasanya tak mungkin Guntur seember itu.
"Yah... Nggak perlu dibilang juga udah tahu Kak. Namanya berumah tangga memang begitu," sahut Ika dengan gaya sok jumawa dan berpengalaman.
Rani menahan diri dengan tersenyum tipis. Jika dia menjawab ucapan Ika bisa panjang ceritanya, bisa jadi juga sampai ke telinga seisi kampung.
"Jadi, baikkannya, karena disogok belanja ke kota ya Kak?"
Bahu Rani langsung menegap kenapa kesannya dia jadi matre sekali? Rani ingin menyeletuk sinis, 'kalau tak tahu masalahnya jangan komentar' akan tetapi dia menahannya sekuat yang lidahnya bisa. "Jangan terlalu gampang mengambil kesimpulan ya. Tanpa perlu disogok uang di tabunganku sudah banyak."
Ika malah mengibaskan tangannya. "Ya ampun Kak Rani, bercanda loh, gitu aja bawa perasaan." Perempuan itu malah berlalu dengan santai, membuat Rani menahan berang.
Tak lama Guntur muncul, membuat Rani mengerjap dan memalingkan pandangan. Akan tetapi, pria itu tetap di sana, saat Rani kembali menoleh Guntur seperti memandang penampilannya, tetapi tak mengatakan apa pun dan langsung ke dalam.
Rani sampai memutar kepalanya, apa dia benar-benar salah kostum??
Rani segera menuju kamarnya, dilihatnya lagi dari balik cermin, bahkan tak ada yang mencolok di sana. Jika Guntur protes, fix, mata pria itu perlu dicongkel!
Rani masih tenggelam dalam dugaan-dugaannya, ketika pintu kamarnya terketuk.
"Rani!"
"Iya...!"
Rani langsung keluar dengan tas berisi perlengkapan Melani. Sejenak Rani terdiam, Guntur hanya mengenakan kaus dan celana ponggol berkantung banyak seperti biasanya. Apa dia benar-benar salah kostum?
***
Sepanjang jalan, tak ada percakapan, tak ada musik, hanya ada indra penciuman Guntur yang dipenuhi wangi parfum Rani. Kalau boleh jujur, seumur hidup Guntur tak pernah mencium aroma parfum selembut ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
