Bab 16

2.1K 242 10
                                        

Selama berhari-hari mereka saling diam.

Seharusnya Guntur tenang karena tak ada yang mengganggunya, tetapi hati Guntur kembali kosong seperti yang sudah-sudah. Bukankah Guntur tak pernah mendapat hiburan bagi dirinya sendiri, segala sesuatunya hanya berjalan monoton, dan yang dilakukannya hanyalah bekerja keras setiap hari.

Akan tetapi kehadiran Rani di sini tentu saja membawa suasana yang berbeda. Guntur ingin menganggap Rani sebagai benda-benda mati di sekelilingnya, namun suara merdu wanita itu yang tengah berbicara kepada Melani selalu memenuhi keheningan rumah.

Biasanya ditambah dengan omelan Rani, rumah akan jadi lebih ramai. Rahang Guntur mengeras. Tidak, dia tidak membutuhkan semua itu.

Dan kini, Rani seperti berusaha keras agar tak menampakkan batang hidungnya. Rani hanya terus berada di kamar ketika pagi hari, yang diyakini Guntur sampai Guntur pergi bekerja. Dan di malam hari, mereka akan tetap bertemu ketika Rani terpaksa ke dapur atau ke kamar mandi.

Namun, yang sungguh mengherankan, Rani tetap memasak. Awalnya Guntur beranggapan wanita itu pasti butuh makan dan pasti perlu memasak. Akan tetapi, setiap malam, Rani tak lagi keluar untuk makan, sedangkan sayuran masih menyisa banyak di meja makan.

Hari pertama Guntur tak menyolek makanan itu sama sekali, tetapi hari kedua, Rani berkata tanpa menatapnya, "Aku tetap masak untuk Abang." Ada sesuatu yang menusuk di ulu hati Guntur meski enggan lelaki itu akui. Tetapi, sejak itu, Guntur memakan masakan Rani seperti biasa, lagi pula, mubajir, kan? Alasan lainnya, karena memang masakan Rani enak, untuk satu itu, Guntur berulang kali mengumpati dirinya.

Apa wanita itu berniat membuat Guntur merasa bersalah?

Guntur baru saja selesai dengan pekerjaannya di kedai, dan tubuhnya mematung ketika melewati depan pintu kamar depan. Dia mendengar nyanyian Rani untuk Melani dalam bahasa inggris, terdengar begitu bergembira.

Manik mata Guntur menatap salah satu sudut lantai dengan lurus, sementara pikirannya melalang buana. Guntur melanjutkan langkahnya, dia mandi sebentar lalu membuka lemari kamar belakang, yang isinya bahkan telah dirapikan Rani. Namun, kali itu Guntur menuju rak lemari yang lain, baju yang sangat jarang dipakainya, sebab dia jarang pergi kecuali urusan kerja.

Sebuah kemeja berada di tangan Guntur, biasa Guntur tak begitu peduli apakah kemeja itu bau apak, belum tergosok, dan sebagainya. Tetapi kali ini dia menciumnya, dan berbau sedikit tidak sedap. Guntur meletakkannya kembali dengan kesal, dan mengambil kaus berkerah lainnya yang sedikit bagus tetapi sudah sering dia pakai.

Guntur bersikap sesantai mungkin ketika kembali ke depan. Nyanyian Rani masih terdengar. Guntur tak berpikiran apa pun saat membuka pintu kamar begitu saja. Namun, pandangan yang diterimanya langsung membuat tubuh Guntur kaku dan segera menutup pintu dengan kencang.

Di dalam kamar, Rani bahkan tak sempat lagi menarik apa pun untuk menutupi tubuhnya. Dia hanya mengenakan bra dan celana dalam. Dan langsung mencari piama yang dibukanya tadi.

Di depan pintu Guntur menyumpah-nyumpah. Otaknya dengan begitu cepat menyimpan potret tubuh putih mulus Rani yang berbaring menyamping di ranjang dengan pose mengundang, berbalut BH dan celana dalam senada, berikut dengan rambut panjangnya yang tergera.

Pintu kembali terbuka, dan Guntur tak sempat berlalu dari sana.

"Ada apa?" tanya Rani panik, yang justru membuat Guntur berdiri canggung.

"Kenapa cuma pakai—" suara Guntur langsung tertelan dan berdeham keras. "Ganti bajumu."

"Aku sudah memakai bajuku kembali, buat apa ganti baju?" tanya Rani heran.

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang