11: Meet with The Past

2.4K 222 20
                                        

"Dia sudah sadar, Sir!"

Aku langsung bangkit dari tempat dudukku untuk melihat manusia baru yang hampir gagal kami reinkarnasi. Aku mengamati dari jauh pria itu. Tidak berbeda dengan yang dulu.

"Anda mau memberi nama tengah apa, Sir?" tanya salah satu pekerjaku.

"It's Nicholas."

Ia mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan reinkarnasi dan menambahkan nama tengah baru pada nama lengkap orang itu.

Aku meraih handy talkie dari mejaku dan mulai berbicara dengan Alejandro yang berada jauh dariku.

"Alejandro?"

Buzz. Tak lama kemudian, aku mendengar suara Alejandro dari seberang sana. "Yes, Mr. Kaplan?"

"Tolong panggilkan Mitch. Suruh dia ke laboratorium utama." Ia terdiam sejenak lalu menjawab dengan tegas, "Baik, Pak."

Aku duduk di kursi berlengan berwarna hitam, menunggu Mitch. Jantungku bagaikan drum yang dipukul dengan pemukulnya. Apakah Mitch akan terkejut? Atau malahan senang dengan apa yang terjadi?

"Avi? Apakah kau memanggilku?"

Aku langsung memutar tubuhku dan mendapati Mitch berdiri tepat di belakangku. Ia masih mengenakan jaket kerjanya.

"Ya, Mitch. Ada yang mau aku tunjukkan padamu." Ia menaikkan alisnya sebelah. "Ada apa memangnya?"

Aku langsung menarik tangannya dan berjalan menuju ruang reinkarnasi. "Ikutlah aku. Baru saja kami mereinkarnasi seseorang. Kau pasti tidak menyangka siapa yang baru saja kami reinkarnasi."

Tak lama kemudian, kami tiba di depan pintu ruang reinkarnasi. Aku membuka pintu itu dan mengajak Mitch masuk ke dalam...

***

Aku terpaku ketika melihat pria jangkung yang duduk di atas tempat tidur rawat itu. Pria yang sangat kukenal.

Rambut pirangnya, mata birunya yang indah. Sama sekali tidak berubah sejak terakhir kalinya kami bertemu.

"Scott..." ucapku secara tak sadar.

Pria itu menoleh dan sangat terkejut ketika melihatku. Ia segera turun dari tempat tidur rawat itu dan berjalan tertatih-tatih ke arahku.

Tak lama kemudian, aku merasakan tubuhku dan tubuhnya saling menempel satu sama lain. Tangannya melingkar di pinggangku dan memelukku dengan erat.

"Mitch," bisiknya dengan lirih. Kepalanya bertumpu pada bahuku, dan aku merasakan jaket kerja serta kemeja yang kukenakan mulai basah. Scott menangis.

Isakannya mulai terdengar. Entah mengapa, aku hanya berdiri mematung. Aku menatap Avi dan ia menatapku kembali.

Selang beberapa waktu kemudian, aku merasakan pelukannya merenggang. Aku mendongakkan kepalaku untuk menatapnya. Uh, dari dulu ia terlalu tinggi bagiku.

"Mitch, aku kira aku akan kehilanganmu selamanya." Kedua tangannya menangkup pipi kanan dan kiriku. Aku hanya tersenyum canggung. Karena tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya diam.

"Kau tidak apa-apa, babe?"

"Babe?" Tubuhku langsung menegang. Ia masih memanggilku babe? Oh ayolah. Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kenapa dia masih memanggilku seperti itu?

"Maaf, kita sudah tidak ada apa-apa lagi," kataku dengan pelan.

Ia menatapku dengan nanar. Matanya kembali berkaca-kaca. Huh, sejak kapan sih, Scott jadi cengeng seperti ini?

"Kumohon, Mitch. Kembalilah padaku."

DEG. Kembali padanya?

"Aku... aku..." Kualihkan pandanganku darinya. Kutatap mata hijau Avi, kuharapkan sebuah jawaban darinya. Mata hijau Avi juga menatapku penuh arti, seolah-olah ia mengatakan terima-saja-cintanya.

Aku agak ragu karena aku bukan homoseksual lagi. Aku normal. Wanita yang kusukai, bukan pria. Tapi... Scott sepertinya masih mencintaiku. Aku takut melukai hatinya kalau aku menolaknya.

"Baiklah."

Ia langsung terlihat senang. Ditariknya tubuhku ke dalam pelukan hangatnya. Pelukan seorang sahabat yang sangat kurindukan.[]

Sorry for the late update. Kemarin sibuk banget. So, semoga chapter yang ini nggak bikin kalian kecewa. Jangan lupa kasih bintang sama tinggalkan komentar di bawah. Kritik dan saran sangat membantu.

Love,

Silvertongue.

The EartheniansTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang