Chapter Five

147K 3K 43
                                        

Cameron Blake (Young, Sexy, Powerful and Dangerous.)

All rights reserved to SweetImagination

Chapter Five

"Kamu sudah membereskan semua barangmu?" Tanya abah.

Aku menoleh dan tersenyum. "Sudah, abah."

"Kamila, kau tidak perlu pakai cadar setiap saat. Lagipula itu tidak wajib, dan kita ini bukan sedang di Saudi." Ucap Abahku.

Aku mengangguk dan tersenyum. "Iya, abah. Aku mengerti. Namun, pasti akan banyak orang diluar sana kan saat kita keluar. Banyak wartawan. Aku hanya tidak nyaman jika akan ada banyak orang yang melihat wajahku." Ucapku, menjelaskan.

Sebenarnya bukan itu. Jika ada yang mengenaliku, aku tidak akan bisa kabur dan berpesta ria lagi.

"Baiklah, terserah kamu, anakku." Ucap Ayahku sambil berjalan meninggalkan kamarku.

Aku memakai gamis biru muda yang memiliki karet di pinggang sehingga sedikit kencang disana dan aku memakai hijab berwarna serasi lalu memakai cadar berwarna biru yang lebih gelap sedikit.

•••

"Tuan El Mahfud, apakah anda berniat datang lagi ke Jakarta?"

"Apakah Ali akan meneruskan semua bisnis mu?"

"El Mahfud, anakmu sungguh cantik."

Setelah beberapa menit keluargaku melewati banyak orang itu dan ayahku menjawab pertanyaan mereka sebisanya. Akhirnya kita pun bisa masuk ke dalam jet pribadi kita.

Aku duduk di pinggir agar bisa melihat keluar jendela. Aku sangat suka melihat keluar jendela.

Aku sungguh tidak ingin pergi ke Istanbul saat ini. Ayahku berniat untuk membangun hotel lagi disana. Jadi, dia ingin melihat keadaan dan tempat yang cocok.

Aku tidak ingin pergi ke Istanbul. Aku masih ingin di Jakarta. Karena mungkin, Cameron masih mencariku.

"Lihat ini, abah." Ucap Abangku kencang. Aku pun menoleh dan melihat abangku menunjukkan iPad nya. "Si sialan Cameron sudah sampai di London tadi pagi jam tiga untuk mengurus pembangunan perusahaan baru nya itu."

Oh. Dia sudah pergi. Mungkin, aku tidak seharusnya banyak berharap.

Alarmku bunyi dan aku pun terbangun dari tidurku karena terkejut. Aku pun mencari alarm ku itu dan membantingnya ke lantai sampai dia tidak bunyi lagi.

Namun, bukan berarti aku bisa kembali tidur. Menjadi seorang penerus perusahaan sang billionaire membuatku sadar bahwa hidupku itu tidak kenal lelah.

Aku baru sampai tadi malam jam 10-an di bandara London. Aku akan membicarakan lokasi pembangunan perusahaan baru ku itu.

Aku pun bangun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Tentu saja 'Cameron kecil' juga bangun. Aku pun mendiamkan nya saja. Seumur hidupku aku tidak suka masturbasi. Karena, ya, tak tahu. Tapi saat aku muda, aku sering masturbasi sambil memikirkan tubuh sexy Bella.

Setelah aku menyelesaikan rutinitas pagiku, aku pun kembali ke kamar ku. Aku memakai kemeja biru tuaku, dan dasi merah maroon ku. Aku memakai jas hitam yang pas di tubuhku lalu menyisir rambutku, membuatnya terlihat menggoda.

Aku suka menggoda wanita, namun hanya sekedar lirik lirik an. Tak pernah sejauh seperti bersama Kamila.

Aku masih bisa merasakan ciuman bergairah nya itu dan aku masih membutuhkannya. Mungkin, karena aku sudah terlalu lama sendiri.

•••

"Jadi, bagaimana, Mr. Blake?"

Aku menatapi sekitar jalanan dan juga gedung yang sudah kurang menarik ini.

"Deal. Tapi aku ingin kamu rombak habis gedung ini. Buat jadi perusahaan berkelas seperti milikku di New York." Ucapku.

"Yes, Mr. Blake."

Aku pun berjalan menuju limosinku dan masuk ke dalam nya. Aku akan pergi kembali ke New York dalam beberapa jam, sudah lima hari aku meninggalkan perusahaan ku dan aku pikir, itu lebih dari banyak.

Aku membuka iPadku dan membaca berita. Dan satu berita menangkap perhatianku.

Cameron BlakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang