Chapter Sixteen

83.7K 2K 10
                                        

Cameron Blake (Young, Sexy, Powerful and Dangerous.)

All rights reserved to SweetImagination

Chapter Sixteen

Cameron menatap lekat ke luar sel nya. Matanya penuh dendam dan amarah. Sudah satu bulan dia berada di dalam sel sialan itu. Tak ada yang berani mendekatinya karena setiap ada yang menggodanya, walaupun badannya besar pasti akan kalah dalam satu tonjokan. Cameron tak terkalahkan. Seluruh narapidana di sel itu kebingungan bagaimana bisa lelaki manja sepertinya bisa sekuat itu. Ada satu alasan,

Dendam yang membara.

Oh, Kamila. Cameron membencimu. Cameron sungguh membencimu. Setiap hari dia menghitung jam untuk bertemu denganmu. Satu bulan telah berlalu. 59 bulan lagi untuk keluar dari sini.

Limapuluhsembilan bulan lagi dan aku akan keluar dari sini. Ucap Cameron dalam hatinya.

Tigapuluhsatu hari didalam sel telah membuatnya lupa caranya tersenyum. Dia hanya memandang keluar sel dari kasurnya tanpa sepatah kata tau sebuah senyuman pun.

Terkadang dia menyempatkan diri untuk berolahraga seperti mengangkat bangku di selnya itu, push-ups, sit-ups, dan olahraga lainnya yang bisa dilakukan di dalam selnya. Badannya menjadi tambah kekar setiap harinya. Luka memar ditubuhnya akibat perkelahian membuatnya menjadi terlihat lebih sangar, belum lagi jaggut dan rambutnya yang memanjang.

Cameron menoleh saat ada suara besi yang bergesekan. Sipir penjara membuka pintu selnya.

"Cameron Blake, aren't you?" Tanya si sipir tersebut. "Selamat. Kau dibebaskan."

Cameron mengerutkan keningnya namun mengikuti si sipir berjalan keluar dan menuju lorong gelap tersebut. Cameron mengikuti sipir tersebut berjalan menuju sebuah ruangan. Dan nampak ada bayangan dua orang lelaki.

Cameron diajak masuk ke dalam ruangan dan untuk sekalinya, Cameron tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.

"Stevie? Colton?" Panggil Cameron.

Stevie/Steven Maloley, anak dari sahabat ayah Cameron, Nate Maloley. Dan Colton Wilkinson, anak dari sahabat ayah Cameron juga, Sammy Wilkinson.

Mereka berdiri dan memeluk Cameron. "Wow, seriously? Kau sangat jelek, Cameron." Ucap Stevie.

Cameron tertawa dan mengangguk. "Aku terima itu. Bagaimana bisa kau mengeluarkan kudari penjara?"

Colton mengindikkan bahu dan tersenyum. "Money, my brother. Money got you out of this jail."

Cameron tertawa kecil lalu mengerutkan kening. "Tapi butuh uang yang banya-"

"Kita membayarmu dengan uang kita, sebesar dua juta pounds. Sialan, jika kau tidak menjadi gigolo yang baik bagi kita, kita akan menjualmu lagi." Ucap Stevie.

Mereka bertiga pun tertawa.

"Sudahlah bercandanya, saatnya membersihkan mu, Cameron. Kita akan ke salon." Ucap Colton.

"Salon? Hell no." Ucap Cameron.

"Ini salon lelaki, bodoh." Jawab Stevie dan Colton bersamaan.

Cameron Blake baru saja keluar dari penjara. Media bilang tuduhan atas nya salah.

Cameron Blake looking stunning as usual.

Cameron Blake just got out of the jail and looking fine as hell.

Tulisan tulisan itu tertera di majalah majalah dan orang percaya bahwa tuduhan atas Cameron itu salah. See? Money can do anything.

Cameron tersenyum menatap ke luar jendela pesawat jetnya. Dia menggertakkan jari jemarinya, dia ingin sekali bertemu dengan Kamila.

Pesawat jet Cameron sampai di New York pada jam tujuh malam. Colton dan Stevie pun langsung mengajak Cameron untuk berpesta. Namun, Cameron menolak, dia ingin pergi ke perusahaannya. Dia merindukan kekuasaannya.

Cameron pun menaiki mobil limosinnya, disupiri oleh supir terpercayanya. Cameron tersenyum. Semenjak dia keluar dari penjara, dia tersenyum. Tak bisa berhenti tersenyum.

Setibanya di gedung nya, seseorang membukakan pintu untuk Cameron.

"Welcome back, Mr. Blake." Ucap seseorang.

Cameron tersenyum dan mengangguk. Cameron menatap gedungnya yang setinggi langit itu dan tersenyum, he smirks, sexily.

Akhirnya, dia bisa merasa seberkuasa ini lagi.

Dia pun masuk ke gedungnya. Semua pekerja menghentikan pekerjaan masing masing sejenak untuk memberi hormat kepada bos nya. Cameron mengangguk ke semuanya.

Dia menaiki lift untuk menuju ke lantainya. Dia mengaca di cermin lift, and yeah, he's looking good.

Cameron sampai di lantainya dan langsung berjalan dengan gagah menuju ruangan nya, dia membuka pintunya. Dan Kenneth sudah menunggunya dengan senyuman dan sebotol anggur merah.

"Welcome back, Mr. Blake. Do you miss your desk?" Tanya nya.

Cameron tertawa kecil sambil mengambil sebuah gelas. Kenneth menuangkan anggur merahnya. Cameron tersenyum dan melakukan cheers dengan Kenneth. Lalu mereka meminum anggu merah itu bersama.

Cameron berjalan menuju bangku mahal nya dan mengelusnya. This is me. Ucapnya di dalam hati. Dia pun menghadap keluar, ke jendela di belakang bangkunya dan tersenyum sambil menikmati pemandangan. Dari ketinggian seperti ini, semua orang tentu merasa sungguh tinggi dan bekuasa.

This is me. Cameron fuckin' Blake. This is where I belong.

Vote dong. :( sorry singkat

Cameron BlakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang