Aku sedang sibuk sekarang. Berjalan kesana-kemari di dapur untuk menyelesaikan semua masakan yang kubuat. Aku tidak tahu apa makanan kesukaan Virgo dan bodohnya aku karena tidak bertanya lebih dulu tadi pagi, jadi aku membuatkan makanan yang biasanya tersaji di rumah nenek pada saat makan malam bersama. Untuk urusan rasa, aku jamin tidak akan terlalu mengecewakan karena aku belajar memasak dari ayah dan Kak Alan. Ya, kami semua bisa memasak. Ayah dan Kak Alan bahkan lebih hebat daripada aku.
Beberapa lama kemudian semuanya sudah tersaji di atas meja makan. Aku menatap puas pada hasil pekerjaanku dan aku harap Virgo juga akan menyukainya nanti. Kulirik jam dinding dengan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Sebentar lagi dia akan pulang. Entah kenapa aku jadi begitu antusias menunggu kedatangannya.
Tidak perlu menunggu lama, orang yang kutunggu akhirnya datang juga. Virgo masuk dengan jas yang sudah tersampir di tangan kirinya sedangkan dasi yang tadi pagi terpasang begitu rapi kini sudah bergeser dan mengendur. Dia kelihatan lelah sekali. Apa hari ini ada masalah di tempat kerjanya?
"Hai," aku berlari menyambutnya.
Dia tersenyum begitu melihatku. Wajahnya masih menunjukan lelah yang amat sangat tapi dia seperti tidak ingin menunjukannya di hadapanku.
"Aku udah siapin makan malam. Kamu mau langsung makan atau mandi dulu?" tanyaku lagi.
"Aku mandi dulu, ya."
"Okay, aku tunggu."
Virgo melangkah menuju kamarnya dan menghilang di balik pintu. Aku memutuskan untuk menunggunya langsung di meja makan.
Beberapa lama kemudian terdengar suara nada dering ponsel berbunyi. Itu bukan nada dering milikku. Aku mencari dan akhirnya tahu milik siapa itu. Virgo meletakan tas kerja dan ponselnya sembarangan di atas sofa. Dasar ceroboh. Dering ponselnya berhenti berdering namun beberapa detik kemudian kembali terdengar. Aku yakin sepertinya itu telepon dari orang penting. Dengan agak ragu, aku meraih ponsel Virgo dan menjawab panggilan tersebut.
"Sayang, kamu dimana? Aku butuh kamu sekarang."
Deg! Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat ketika mendengar suara manja dari wanita lawan bicaraku di seberang sana.
"Sayang? Kok kamu ga jawab? Kamu dimana sih?"
Dengan suara berat aku mencoba bicara. "Maaf, ini siapa ya?"
"Lho? Kamu siapa? Mana Virgo? Aku mau bicara sama dia."
"Dia sedang mandi."
"Oh, kamu pasti pembantunya ya? Sejak kapan Virgo mempekerjakan pembantu di apartemennya." Ucapan tidak sopan itu sudah menyulut emosiku. Apa katanya? Pembantu? Aku? Enak aja kalau ngomong!
"Saya bukan pembantunya, saya calon istrinya!" Jawabku mencoba santai walaupun aku tahu bahwa nada bicaraku tadi sama sekali tidak menunjukan hal itu. Namun aku masih menahan emosiku. Kalau aku lepas kendali, bukan hanya aku yang akan malu nanti tapi Virgo juga akan terkena imbasnya.
"Oooohhh, jadi kamu wanita itu?" suaranya seolah dia sudah benar-benar mengetahui siapa aku. "Aku kasih tau ya, lebih baik kamu jauh-jauh dari Virgo. Dia itu ga suka sama kamu. Hampir setiap malam dia selalu datang ke tempatku untuk menceritakan seberapa bencinya dia karena harus mengikuti perjodohan konyol itu. Kalau kamu punya otak, aku yakin kamu bisa mengerti dan lebih baik mundur secara perlahan daripada diusir, benar 'kan?"
Astaga, omongannya pedas sama seperti Virgo saat kami pertama kali bertemu. Dan siapa dia berani menyuruhku melakukan ini dan itu? Kami bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken : First Love
Roman d'amourMencintaimu memang membuatku sering sulit bernapas, tapi setidaknya aku masih bisa menghirup udara untuk tetap melihat wajahmu setiap hari. -Ayasha Febriana-
