Salam Sapa

1.4K 37 5
                                        

Selamat (larut) malam semuaaaa ^^,

Maaf banget karena aku baru muncul sekarang dan ngga bisa update cerita seperti biasanya.

Jadwalku penuh beberapa minggu belakangan dan juga karena aku belum ada waktu untuk nulis lagi T.T

Jadi harap menunggu ya, yang pasti aku akan selesaikan cerita ini walaupun jalannya masih panjang.

Aku juga mau berterima kasih untuk semua yang sudah atau baru menjadi followers-ku.

Terima kasih juga untuk yang masukin cerita aku ke reading list mereka.

(Aku sempet kaget karena dapet notif yang bejubel dari wattpad di email-ku)

Ngga nyangka ternyata Ayasha sama Virgo udah mulai menarik perhatian kalian, haha >.<

Oh iya, sekalian menjelaskan kenapa chapter yang aku privat tidak bisa dibuka padahal kalian udah follow akun-ku,

coba kalian hapus dulu ceritaku dari perpustakaan kalian, lalu add ulang.

Kalau masih belum bisa juga, berarti kalian kurang beruntung, hahaha (bercanda)

Mudah-mudahan pakai cara itu bisa kok.

Sebagai bonus untuk malam ini, #ceilahhh

Aku mau kasih intip sedikit untuk chapter selanjutnya.

Hoho, check it out.


***

#A little peek

Meringkuk di atas tempat tidur, aku menyembunyikan tubuhku di bawah selimut tebal. Kami tidak jadi pergi hari ini. Virgo membatalkan jadwal kepergian bulan madu kami karena aku beralasan tiba-tiba sakit. Tentu saja dia panik, lalu segera memanggil dokter keluarganya untuk datang kesini dan memeriksa keadaanku. Menurut dokter, aku memang mengalami kelelahan karena kurang darah. Aku diminta untuk tidak melakukan kegiatan apapun untuk beberapa hari ke depan dan disini lah aku berada. Berbaring di tempat tidur sementara Virgo sedang berada di ruang kerjanya. Aku menjaga jarak darinya dan tidak mau bicara sama sekali tentang apa yang kutemukan pada kemejanya pagi tadi. Berulang kali pria itu minta maaf karena merasa bersalah padaku, tanpa mengetahui alasan kenapa tiba-tiba aku seperti ini. Nyatanya bukan hanya tubuhku yang sakit karena dirinya. Hatiku juga.. tapi dia tidak akan tahu.

Aku meraih ponselku dan mengetik sebuah pesan untuk Kak Alan. Tak lama kemudian aku mendapatkan balasan darinya. Kami saling mengirimkan pesan dan semakin lama, airmataku menetes semakin deras dari sudut-sudut mataku, padahal aku dan Kak Alan hanya berkirim pesan yang berisi candaan atau obrolan ringan. Sama sekali tidak menyebutkan masalah tentang Virgo atau kondisiku yang sedang sakit sekarang ini. Namun itulah yang membuatku sedih. Aku tidak bisa menceritakan masalahku padanya. Aku tidak ingin Kak Alan tahu dan aku tidak terlalu kuat untuk bisa menyimpannya sendirian. Menangis adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan.

Berkali-kali aku menghapus airmataku dengan kedua tangan namun cairan bening itu terus-terusan menetes tidak tahu malu tanpa berniat untuk berhenti. Aku kacau. Aku menyadari hal itu dan aku frustasi karena harus menelan semuanya sendirian. Bingung untuk menjelaskan semuanya. Bingung untuk mengambil jalan keluar dari masalahku dengan Virgo yang hanya tentang itu-itu saja. Wanita lain. Ya, masalahnya hanya itu. Dia memiliki wanita lain diluar sana yang tidak aku ketahui jumlah ataupun bentuknya. Aku kesal karena dia masih mempunyai segudang rahasia dan tidak mau membaginya denganku.

Aku membencinya.

Aku membencinya.

Aku mengulang kata itu berkali-kali dan di akhir, aku kembali merutuki hatiku.

Aku... mencintai Virgo.


***

Broken : First LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang