Haiiiiii,
Seperti janjiku beberapa hari yang lalu.
Ini update-an yang aku bilang.
Sebenernya mau update tadi malem, tapi karena jaringan tidak bersahabat jadinya gagal terus.
Cuma sempat update The Day We Felt Distance kemarin.
Oh ya, sekalian mau tanya, apa Chapter 24 : Pregnant Mom bisa dibuka?
Kalau banyak yang ngga bisa baca, kasih tau aku yaaa. Nanti aku re-post.
Udah itu aja kali yaa.
Selamat membaca :)
Love,
ME
01 Agustus 2016
***
Suara denting piano membuatku tersenyum sambil menikmati alunan lagu yang sedang dimainkan oleh pianisnya yang begitu tampan. Siapa lagi kalau bukan suamiku, Virgo Alain.
Belakangan ini dia memang sering bermain piano, tentu saja atas paksaan dariku setelah aku mengetahui fakta bahwa dia bisa memainkan alat musik itu. Dia sangat hebat memainkannya, seperti seorang profesional. Satu dari banyak bakatnya yang seolah tidak pernah habis.
Bayi yang ada di dalam perutku memberikan reaksi dengan menendang hingga membuatku meringis sedikit. Sudah memasuki bulan ke lima dan bayiku memang sering sekali melakukan reaksi seperti ini.
Aku mengelus perutku yang membuncit sambil tersenyum, lalu kembali melihat Virgo yang sudah akan menyelesaikan lagunya. River Flows In You by Yiruma. Itu adalah salah satu musik instrumental yang menjadi kesukaanku dan ternyata juga menjadi kesukaannya Virgo. Ternyata kami cukup sehati dalam beberapa hal.
Aku berjalan mendekati Virgo dan bersandar ke depan pada Grand Piano berwarna hitam yang Virgo beli beberapa bulan lalu.
Oh, sampai lupa! Aku dan Virgo sedang berada di rumah yang akan kami tempati. Dia memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang cukup luas dan nyaman dan juga sejuk dalam rangka menyambut anak pertama kami nanti. Dia bilang, tidak baik jika kami terus berada di apartemen yang katanya tidak terlalu besar walau menurutku ruang tamu apartemennya saja bisa dijadikan lapangan futsal kalau tidak ada sofa dan perabotan lainnya.
Sudah dua minggu ini, setiap akhir pekannya Virgo dan aku selalu datang kemari untuk mengecek sejauh mana dekorasinya dikerjakan. Dan aku cukup puas dengan yang ada saat ini.
Tepuk tanganku memenuhi ruang santai kami ketika akhirnya Virgo menyelesaikan permainan pianonya yang luar biasa bagus. Aku sampai terharu. Dia mendongak dan menatapku sambil tersenyum lembut, lalu menarik satu tanganku agar mendekat dan membawaku ke dalam pangkuannya.
"Aku berat. Nanti kaki kamu patah, gimana?"
Virgo tertawa mendengar ucapanku yang mungkin menurutnya hanya main-main, padahal tidak. Dengan membesarnya perutku, berat badanku bertambah dengan begitu pesat. Tubuhku sekarang juga sudah gemuk dan itu membuatku tidak percaya diri.
"Kamu benar. Aku seperti memangku dua karung beras."
"Ih, nyebelin!!"
Aku memukul lengannya sambil berdecak sebal. Yang benar saja! Aku disamakan dengan dua karung beras? Dia benar-benar mengejekku rupanya.
"Bercanda, Ay. Jangan cemberut begitu, nanti cantiknya hilang."
"Gombal! Aku 'kan udah gendut begini, pasti kamu ngga suka lagi sama aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken : First Love
RomanceMencintaimu memang membuatku sering sulit bernapas, tapi setidaknya aku masih bisa menghirup udara untuk tetap melihat wajahmu setiap hari. -Ayasha Febriana-
