Chapter 6 : In Love

1.5K 51 2
                                        

annyeong :)

aku datang lagi dengan chapter baru.

niatnya sih aku ngga mau buru-buru update soalnya belum ketauan juga akhirnya mau kayak gimana.

aku lagi buntu -_-

tapi mudah-mudahan sih chapter ini ngga jelek-jelek banget.

semoga masih pada berminat juga sama Ayasha dan Virgo.

happy reading,

ME :)

***

Sinar matahari pagi mengusikku dari mimpi indah. Menarikku agar segera bangun dan kembali pada kenyataan. Untuk pertama kalinya setelah ayah meninggal, tadi malam aku bisa tidur sangat nyenyak tanpa mimpi buruk. Seperti semua beban yang tadinya menggantung di pundakku kini sudah hilang tidak bersisa. Aku bisa kembali bernapas tanpa perlu merasa sesak lagi.

"Sudah bangun putri tidur?" suara Kak Alan mengejutkanku.

Dia datang membawa sebuah nampan yang aku yakin adalah sarapan untukku. Pakaiannya sudah rapi dan aku tahu hari ini dia pasti akan pergi lagi karena dia sedang sibuk mengurusi kepindahan kami kesini.

"Tidak ada mimpi buruk malam ini?" tanyanya sambil duduk di tepi tempat tidurku bersama nampan berisi sarapan yang terlihat lezat diatas pangkuannya.

Aku menggeleng dan tersenyum kecil, "tadi malam aku tidur dengan sangat nyenyak."

"Bagus. Kami semua sudah selesai sarapan. Virgo tadinya mau membangunkanmu tapi katanya dia tidak tega melihat kamu tidur dengan begitu tenangnya. Sekarang dia sudah berangkat ke kantor."

Wajahku memanas ketika kakakku menyebut nama pria itu. Jadi tadi pagi Virgo kemari? Melihatku dalam keadaan tidur? Astaga, aku harap keadaanku tidak memalukan.

"Jadi, kamu ingin makan sendiri atau disuapi?" tanyanya dengan senyum jahil.

"Aku bukan anak kecil lagi, Kak"

"Tapi kamu tetap lebih kecil dari kakak." Alan mengacak rambutku gemas. Kebiasaannya yang tidak bisa hilang sama sekali. "Oh, hampir lupa! Dokter sudah memberikan jadwal agar kamu mengunjungi rumah sakit untuk melihat kondisi kakimu. Besok rencananya Virgo yang akan menemanimu."

"Kenapa bukan sama Kak Alan aja?" tanyaku.

"Kamu mau kakak yang nemenin?"

"Aku takutnya dia mikir kalau aku ini bisanya cuma ngerepotin orang."

"Tapi dia yang menawarkan diri untuk mengantar kamu. Tidak ada yang memaksanya sama sekali."

"Kakak serius?" tanyaku hampir tidak percaya.

Kak Alan mengangguk, "kakak rasa dia laki-laki yang baik."

Ya, aku juga ingin mempercayai hal itu, tapi entah kenapa masih ada yang mengganjal hingga aku tidak berani percaya sepenuhnya bahwa dia memang pria baik.

"Jangan terlalu keras berpikir. Kamu baru mengenalnya dan memang tidak mudah menjadi dekat dalam waktu singkat. Lagipula kakak tahu kamu tidak mudah dekat dengan orang baru. Virgo juga memahaminya."

"Kakak yang kasih tahu dia?"

"Dia menanyakan semua hal tentang kamu, tentu saja kakak beritahu."

"Kenapa dia nanya-nanya segala?" tanyaku lagi.

"Mungkin dia sudah jatuh cinta padamu."

Broken : First LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang