Hallowwwww,
seperti biasa, entah kenapa sekarang jadwal update-ku pasti di hari Sabtu
padahal dulu postingnya seenak mood aja.
hayoo siapa yang malem mingguannya cuma dirumah karena hujan deras di luar?
tenang, aku kasih hiburan di malam minggu yang kelabu ini, hehe
Chapter ini adalah babak baru dari kehidupan Ayasha dan Virgo.
Semoga kalian suka dan chapter ini bisa menjadi pengantar tidur yang menyenangkan ^^
Happy reading,
Love,
Me
Dec, 19th 2015
***
Kepalaku sudah terasa gatal dan pusing karena menahan beban yang cukup berat dari sanggul besar yang dipasangkan tukang rias padaku sejak pagi tadi. Belum lagi perutku yang sudah keroncongan karena cacing-cacing disana menggonggong minta diberi makan karena pagi tadi aku hanya sarapan setangkup roti dan segelas susu karena tidak terlalu berselera makan akibat kegugupan yang menyerangku begitu saja.
Akad nikah antara aku dan Virgo sudah selesai dengan lancar. Hanya dalam sekali percobaan dan dia mengatakannya tanpa kesalahan. Kami sudah sah di mata Tuhan dan hukum. Semua orang yang hadir bersuka cita dan turut memberikan ucapan selamat. Nenek sudah menangis penuh haru dan Kak Alan juga sempat tertangkap olehku sedang menghapus airmatanya, sedangkan pria yang berdiri di sampingku ini tampak tidak pernah menghilangkan sedetik pun senyum dari wajahnya. Pria yang dua hari lalu melamarku dengan begitu romantis walaupun akhirnya aku harus merelakan waktu tidurku dan kena marah nenek karena kami menyalahi aturan dengan pergi berdua diam-diam. Pria yang kini sudah menjadi suamiku.
Saat ini aku dan Virgo masih harus menyalami para tamu undangan yang hadir di acara akad nikah kami. Belum lagi untuk acara resepsi nanti malam. Ah, tidak akan ada waktu bagiku untuk istirahat. Ini semua karena Nenek Sofia yang mengundang begitu banyak tamu dan relasinya. Sudah nasibku memang karena menikah dengan pewaris tunggal keluarga Alain. Sudah pasti nenek akan membuat acara mewah dan besar-besaran. Untung saja tidak dilakukan tiga hari tiga malam. Bisa masuk rumah sakit duluan aku.
"Kamu capek?" tanya Virgo ketika sedang tidak ada tamu yang menghampiri kami. Aku melihat mereka semua sedang menikmati makanan yang disajikan.
"Banget." Aku mengeluh. "Ini sanggulnya berat banget lagi."
Virgo tersenyum, "sebentar lagi selesai. Tahan, ya."
Aku hanya menghela napas mendengar ucapannya. Dia sih enak nyuruh orang sabar, 'kan dia ga pakai sanggul juga.
"Oh iya, aku lupa bilang kalau hari ini kamu jauh lebih cantik dari sebelumnya." Virgo berbisik di telinga kananku yang sukses membuatku agak geli karena deru napasnya terasa disana.
"Makasih, kamu juga gagah."
Virgo menunjukan senyum miringnya. "Sudah dari dulu."
Err, ini orang ga bisa dipuji sedikit langsung besar kepala! Narsisnya ga ketulungan.
Aku melihat ke arah Kak Alan yang kini sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik dan berpenampilan menarik. Siapa dia? Mereka berdua terlihat sudah begitu akrab. Aku bisa berpikir begitu karena Kak Alan tidak merasa keberatan ketika sesekali wanita itu menepuk lengan atau menyentuh tangan Kak Alan sambil bercanda. Mereka bahkan terlihat asik sendiri sampai lupa tempat. Aku jadi penasaran. Mungkin saja mereka sedang dalam proses pendekatan tapi Kak Alan tidak mau memberitahuku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken : First Love
RomantizmMencintaimu memang membuatku sering sulit bernapas, tapi setidaknya aku masih bisa menghirup udara untuk tetap melihat wajahmu setiap hari. -Ayasha Febriana-
