Annyeong yeorobun, hehe :)
udah hampir satu minggu ya sejak terakhir aku posting?
adakah yang kangen atau nyariin aku? #ngarep
oh iya, sekedar informasi, mungkin setelah chapter ini, aku akan jadi semakin lama posting untuk per chapternya soalnya sibuk sekali saya. jadi tolong bersabar dan harap di maklumi.
jadwal aku padat soalnya, haha *ceilaahh
oh iyaaaa satu pengumuman lagi, kalau kalian suka baca buku dan mau kenal lebih dengan penulis kesayangan kalian yang sudah pernah nerbitin buku, ada acara Indonesia International Book Fair 2015 di JCC Senayan lohhh. #promosisedikit. acaranya dari tanggal 2-6 September 2015, tapi kalau kalian mau ketemu aku, bisa datengnya di tanggal 3, hehe #apaansih #abaikan.
menurut informasi yang aku dapet sih kayaknya ngga dipungut biaya alias gratis, tapi coba kalian search aja kalau mau. ada Grand Prize trip to Korea yang diundi tiap harinya. kali aja kalian dapet dan bisa ikut aku ke Korea juga, iya ga? *oke cukup* *skip*
untuk chapter ini, aku masih mempertahankan Virgo dengan sikapnya yang mulai menggelikan, tapi yaudahlah ya, toh aku juga bosen kalau bikin tokoh yang angkuh dan sombong terus. lagian aku juga mau buat Ayasha jadi berbunga-bunga, kayak hati aku <3
aduuuhh tambah ngaco, kebanyakan pula intro-nya.
maaf maaf.
langsung aja deh, check this out, semoga suka :)
Love,
ME
***
Sudah empat hari sejak pengakuan yang Virgo lakukan padaku. Selama itu juga aku masih mencoba untuk melihatnya bukan sebagai orang lain lagi, tapi sebagai kekasih. Mencoba saling mengenal satu sama lain. Keadaan ini tentu saja membuat nenek merasa senang karena akhirnya aku mau menerima perjodohan ini dan kami berdua bisa dekat. Hanya Kak Alan yang belum mengetahui hal ini karena aku belum memberitahunya.
Sore ini aku sendirian di rumah, seperti biasa. Virgo belum kembali dari kantor begitu juga dengan nenek yang katanya hari ini mempunyai jadwal mengunjungi rumah sakit anak penderita kanker. Aku kesepian disini. Sebenarnya nenek sudah menyiapkan supir yang siap mengantarkan kemana saja jika aku ingin pergi keluar, tapi tidak seru kalau aku hanya pergi sendiri.
Saat sedang menatap halaman samping, samar-samar aku mendengar suara Kak Alan yang berasal dari luar. Mungkinkah dia sudah kembali? Tapi kenapa dia tidak memberitahuku? Aku segera keluar dari kamarku untuk menyambutnya walaupun dengan langkah terhuyung. Kakiku masih sering nyeri kalau terlalu banyak berjalan. Dia terlambat tiga hari dari jadwal kepulangan yang sudah dia beritahukan padaku tempo hari.
"Kak Alan!!" sahutku keras. Untung saja tidak ada orang disini.
Kak Alan menoleh padaku setelah meletakan tas besarnya di sofa dan tersenyum begitu lebar. "Hai, adik kecil! Apa kamu merindukan kakak?" guraunya sambil merentangkan kedua tangan, seolah menyambutku untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Kakak terlambat tiga hari." Sungutku kesal sambil melipat kedua tangan ke depan, menolak mentah-mentah pelukan hangatnya. Memasang wajah kesal karena dia tidak menepati janjinya untuk segera pulang.
Kak Alan berjalan mendekat dan berhenti tepat dihadapanku, "kamu marah?"
"Menurut kakak?"
"Maafkan kakak. Harusnya kakak kasih tau dulu tapi takutnya kamu akan langsung menyuruh kakak pulang, jadi.."
"Jadi selama tiga hari ini Kak Alan sengaja tidak mengabari, tidak menjawab telepon atau membalas pesan dari aku, gitu?" aku menyela dengan nada menyindir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken : First Love
CintaMencintaimu memang membuatku sering sulit bernapas, tapi setidaknya aku masih bisa menghirup udara untuk tetap melihat wajahmu setiap hari. -Ayasha Febriana-
