10 • MANTRA •

2.7K 239 1
                                        

Dania berlari mendekati Ria. Ria pun menurunkan tangannya, otomatis air itu jatuh. Ria masih terkejut akan hal tadi.

"Ria, yang tadi itu apa?" ucap Dania sebari menggoncang-goncang tubuh Ria.

Ria tidak menjawab pertanyaan Dania. Seketika keseimbangan tubuhnya menghilang. Ia pun merasa bahwa dirinya akan jatuh.

Bruk!

Tubuh Ria jatuh ke tanah. Melihat kejadian itu, Dania semakin panik. Ia pun menggoncang-goncangkan tubuh Ria sebari berkata 'Ria bangun'. Dania bingung harus berbuat apa. Ia tidak mungkin menggendong Ria ke ruang kesehatan. Dania masih terlalu terkejut, jika ia menggendong Ria keruang kesehatan, bisa-bisa ia juga pingsan.

Panik yang dirasakan Dania seketika menghilang. Raut wajah panik Dania berubah ketika melihat Rio sedang berjalan.

"Rio, tolong aku!" teriak Dania sebari melambai-lambaikan tangannya.

Rio yang melihat Ria tergeletak ditanah dari kejauhan, langsung berlari menghampiri Dania dan Ria yang tergeletak ditanah.

Tanpa berkata apa pun, Rio langsung menggendong Ria ala bride style¹. Dania pun langsung berlari mengikuti Rio.

***

RIA

"Ria bangun" ucap seseorang. Dari suaranya pasti dia ini lelaki. Sepertinya aku kenal suara ini.

Kenapa kelopak mataku ini sangat berat. Kepalaku juga sangat pusing.

"Ria jangan mati!" ucap seseorang. Ini pasti Dania. Siapa lagi yang suka berbicara tanpa dipikir dahulu.

Akhirnya, aku pun bisa membuka kelopak mataku sedikit demi sedikit. Ternyata, Rio dan Dania ada disampingku.

"Aku dimana?" tanyaku.

"Ria, kau amnesia²!" teriak Dania tepat dihadapanku.

Karena teriakkan Dania, kepalaku berdenyut. Ah, pusing sekali. Aku memegang kepalaku.

"Jangan berteriak Dania! Ria pasti pusing oleh teriakkanmu" larang Rio.

Aku masih menatap mereka. Bukannya menjawab pertanyaanku, mereka malah berkelahi.

Aku melihat Rio membawa gelas yang berisi air putih. Ia memberikannya padaku.

"Minumlah!" ucap Rio sebari tersenyum. Ugh, sangat manis.

Aku pun melihat gelas itu. A-air! Kejadian saat ditaman berputar diotakku.

"A-air! Jauhkan air itu dariku" ucapku takut.

Rio heran melihatku. Ia pun melihat gelas yang ada digenggamannya, "kau phobya³ pada air?"

Aku menggeleng. Ia semakin heran padaku.

"Tidak, aku hanya sedang tertekan" ucapku santai. Lalu mengambil yang ada di genggaman Rio. Aku langsung meneguk air didalam gelas itu sampai habis.

"Kau sangat haus, Ria?" tanya Rio.

Aku hanya menggeleng. Air membuat diriku tenang. Dengan meminum air, kepanikkan-ku menghilang. Tapi, karena air aku mengingat kejadian tadi.

"Ria.. Yang tadi-"

"Jangan membuatnya lebih tertekan" ucap Rio memotong ucapan Dania.

Aku hanya diam. Ah! Aku baru ingat, kenapa tadi Dania membawa ember.

"Ehm.. Dania!" ucapku.

"Apa?" tanya Dania.

"Kenapa tadi kau membawa ember?" tanyaku.

THE WIZARDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang