9 • kenapa bisa?!•

2.4K 243 0
                                        

"Kau harus mau, krystal!" lelaki itu membentak wanita dihadapannya.

"Aku tidak mau! Kalau aku menjadi kristal abadi di kerajaan mereka, bagaimana dengan anak yang sedang ku kandung?!" teriak wanita itu sebari memegang perutnya yang buncit, juga air mata yang mengalir di kedua pipinya.

"Anak itu tidak punya hak untuk hidup!" ucap lelaki itu. Kata-katanya sungguh membuat wanita dihadapannya sakit hati.

"Ini anakmu! Kenapa kau lebih mementingkan kerajaanmu daripada keluargamu, hah?!" teriak wanita itu lagi.

"Kerajaanku lebih berharga dari keluargaku!" ucap lelaki itu. Wanita dihadapannya tertegun.

Wanita itu berdiri. Dia menatap tajam lelaki dihadapannya.

"Kenapa ayah berbicara seperti itu?" tanya anak lelaki yang ada dibelakang wanita itu.

"Ayah jangan berbicara seperti itu!" ucap anak perempuan yang ada disamping anak lelaki tadi.

"Kalian, Diam!" bentak lelaki itu pada anak kecil di belakang wanita itu.

Wanita itu menunduk. Ia menatap perutnya yang buncit. Air mata yang sudah berhenti mengalir, kini mulai menetes lagi.

"DASAR LELAKI BERENGSEK!" teriak wanita itu. Lalu berlari.

Ia terus berlari sebari memegang perutnya. 'Tenang saja, nak. Hak-mu untuk hidup di dunia akan terwujud' batinnya.

"Nyonya, kau kenapa?" tanya seorang wanita paruh baya dengan berpenampilan seperti pelayan.

"Laela, kau punya pakaian yang sederhana?" tanya wanita itu tiba-tiba.

"Tentu saja. Tapi, untuk apa?" tanya pelayan yang bernama Laela itu bingung.

"Bolehkah aku memintanya beberapa?" tanya wanita itu.

"Tentu saja nyonya" ucap Laela. "Saya akan mengambilnya sekarang".

Laela pun berlari. Wanita itu memegang kepalanya. Pusing. Itulah yang ia rasakan.

"Untuk apa bunda meminta pakaian sederhana?" tanya anak perempuan yang tiba-tiba datang.

"Ah, Re- maksudku Andre! Kau mengejutkan bunda" ucap wanita itu, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"aku memang anak kecil. Tapi, aku tidak sebodoh itu. Jangan mengalihkan pembicaraan, bunda!" ucap anak perempuan itu.

Wanita itu menunduk. Tadinya ia ingin merahasiakan ini dari anak-anaknya. Tapi, anak-anaknya masih kecil. Bagaimana pun juga, anak-anaknya masih membutuhkan dirinya.

"Maaf Andre, bunda harus pergi. Jaga dirimu baik-baik" ucap wanita itu sebari tersenyum.

***

Ria sedang duduk sebari menopang dagunya. Seperti biasa, Ria menghiraukan gurunya yang sedang menjelaskan tentang membuat diri kita menyerupai orang yang ingin kita tiru. Mantra ini berguna untuk mengelabui musuh kita.

"Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nita pada Ria.

Perkataan Nita membuat lamunan Ria buyar. Ia tersipu karena ketahuan tidak mendengarkan pelajaran.

"Aku tidak sedang memikirkan apapun, Rin" ucap Ria pada Nita sebari tersenyum kikuk. Karena kejadian waktu itu, saat Ria mulai mengajak Nita berbicara, mereka menjadi akrab.

"Rin? Kau memanggilku Rin?" tanya Nita sebari menaikkan sebelah alis matanya.

"Ya, nama panggilan yang bagus, 'kan?" tanya Ria sebari tersenyum.

"Bagus, tapi aku tidak menyukainya" ucap Nita tidak suka dengan nama panggilan barunya.

Ria mengerucutkan bibirnya,"memangnya kenapa? Padahal menurutku panggilan itu sangat bagus".

Belum sempat Nita berbicara, Miss. Tia menegur mereka. Mengobrol di saat jam pelajaran adalah hal yang tidak boleh dilakukan oleh murid.

***

"Untung saja Miss. Tia" ucap Dania sebari tertawa kecil.

"Iya, coba kalau Miss. Nurama" ucap Ria sebari membayangkan.

Ria membayangkan kalau dirinya di tegur oleh Miss. Nurama, lalu diberi tugas mencari sejarah-sejarah tidak penting.

Oh, no! Membayangkannya saja membuatku merinding batin Ria berteriak.

"Sudah, jangan dipikirkan terus!" ucap Dania bermaksud menenangkan Ria.

Mereka saling diam. Mereka bergelut dengan pikirannya masing-masing. Sebelum terlarut dalam pikiran masing-masing, Dania mencoba mencari bahan obrolan.

"Aku lihat, kau dan Nita akrab sekali" ucap Dania.

"Tidak, biasa saja" ucap Ria. Akrab? Aku merasa dia tidak pernah menganggapku teman pikirnya.

Lagi-lagi mereka saling diam. Tidak seperti biasanya mereka diam.

"Aku mau ke toilet. Jangan pergi sebelum aku kembali" ucap Dania memperingatkan.

Ria hanya mengangguk. Ria menatap punggung Dania yang semakin menjauh. Ria kembali melamun.

Semalam itu apa? Kenapa mimpi aneh seperti itu bisa ku impikan pikir Ria heran.

"Ria, tolong bantu aku" teriak Dania kejauhan. Dania terlihat membawa ember yang lumayan besar.

Ria terus memperhatikan Dania tanpa punya niatan untuk membantu. Tak lama kemudian Dania tersandung batu. Embernya? Tentu saja terlempar.

"Dania!" teriak Ria sebari mengangkat sebelah tangannya.

Dari kejauhan Dania menutup matanya, dan tangannya disimpan diatas kepala •takut tersiram air• tapi, setetes pun air tidak mengenai Dania.

Matanya terbelalak kaget, begitu melihat air yang melayang di atas kepalanya. Dari kejauhan Ria juga terlihat kaget.

"Kenapa bisa?!" teriak mereka bersamaan.

To be continued

THE WIZARDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang