Kring.. Kring..
Suatu bunyi membangunkanku.
"Hoam.." aku terbangun. Aku mengucek-ngucek mataku.
"Benda apa ini? Ada angkanya, seperti jam. Tapi ini lebih kecil dari pada jamku dirumah" ucapku sambil berpikir.
Tanpa pikir panjang, aku pun langsung melesat kekamar mandi yang ada dikamarku.
Setelah mandi dan memakai seragamku, Aku pun membuka lemari yang cukup besar yang ada di sudut kamarku. Aku kagum dengan isi lemari itu. Tadinya, aku ingin memasukan baju-bajuku kedalam lemari itu. Tapi, setelah melihat lemari itu penuh dengan baju-baju yang lebih layak, aku tidak jadi memasukkan baju-bajuku.
Aku pun melirik benda kecil yang membangunkanku tadi. Jarum jam itu menunjukkan pukul 06.30. Aku harus cepat-cepat keruangan kepala sekolah.
Aku pun lari menuju ruangan kepala sekolah. Tapi di depan pintu kamar 160 aku menubruk wanita sombong kemarin.
"Maaf" ucapku
"Hei! Apa kau tidak punya mata?!" teriaknya tepat di depan wajahku.
"P-punya" ucapku sambil menunduk.
"Sudah kubilang jangan macam-macam padaku! Apa kau tidak punya telinga? Atau daya ingatmu lemah?" tanyanya sambil berteriak di depan wajahku. Aku sudah kehilangan kesabaran sekarang.
"Aku punya telinga, daya ingatku juga masih bagus. Harusnya aku yang bertanya, apa kau punya telinga? Aku kan sudah minta maaf, kau marah-marah sambil menyemburku dengan air ludahmu itu" ucapku terus terang.
"Kau berani berkata seperti padaku? Kau itu hanya rakyat miskin yang beruntung bisa masuk kesini. Lagi pula, yang membunuh beruang itu 'kan kakakmu bukan kau" ucapnya sinis.
"Semuaya yang kau katakan benar. Terima kasih telah mengingatkan hal itu" ucapku lalu meninggalkannya.
Aku pun telah sampai di ruangan kepala sekolah. Aku pun duduk di depan kepala sekolah.
"Kelasmu kelas D" ucapnya singkat.
"Aku akan memperkenalkan kau pada murid-murid kelas D. ayo ikut aku!"
Aku pun mengekornya hingga sampai di sebuah ruangan yang bertuliskan 'D-3'
Kepala sekolah itu masuk kekelas itu. Kelasnya sangat berisik, mungkin ini kelas paling nakal. Terlihat dari wajah-wajah muridnya yang sangar.
Brak!
Kepala sekolah itu menggebrak meja guru. Seketika, Kelas itu menjadi hening. Kepala sekolah melirikku lalu mengangguk. Aku pun mengangguk.
"Perkenalkan, namaku Ariana Luffita. Bunda dan kakakku memanggilku Ria. Senang bisa bertemu kalian" ucapku sebari tersenyum.
"Kami juga senang" ucap mereka serempak. Wah, kelas ini sangat kompak.
"Ria, kau bisa duduk di bangku kosong itu" ucap kepala sekolah. Sambil menunjuk bangku yang dihuni oleh seorang gadis. Aku hanya mengangguk lalu menghampiri gadis itu, lalu duduk.
Kepala sekolah pun pergi.
"Yeay! Kepala sekolah pergi, miss Tia gak masuk" seru seorang murid dengan sumringah.
Murid dikelas ini sangatlah sedikit. Mungkin sekitar 15 murid.
"Hai" sapaku pada teman sebangkuku.
Dia hanya melirikku, lalu kembali fokus pada bukunya. Sombong sekali! Sepertinya, murid disini sombong semua.
"Hai" sapa seorang gadis cantik berambut ikal, padaku.
"Hai" sapaku sambil tersenyum.
"Perkenalkan, namaku Dania" ucapnya memperkenalkan dirinya sebari tersenyum padaku. Ternyata, tidak semua murid disekolah ini sombong.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WIZARD
FantasyRia adalah gadis yang tinggal dihutan bersama ibu dan kakaknya. ia tidak diperbolehkan keluar dari hutan. tiba-tiba, ada yang menawarinya sekolah di sekolah sihir terkenal yang sangat jauh dari hutan tempat ia tinggal. lalu, apakah impiannya...
