16 • Arcadia, Giovanni dan Cecillia •

2.4K 216 1
                                        

Arcadia

Ketua dan Ria pergi meninggalkan kami. Mereka itu terlalu bersemangat mencari petunjuk. Ketua memang ada-ada saja, dia yang menyarankan kami beristirahat. Eh, dia malah terus mencari petunjuk. Kasihan Ria, pasti kelelahan. Ah, aku sangat bosan.

"Mereka itu, selalu saja berdua", ucapku. Mereka yang ku maksud adalah ketua dan Ria. Kalian tahu 'kan, kalau Rio itu siswa jenius. Dan Ria juga terkenal akan ke payahannya, dan mereka selalu berdua. Mereka berteman? Tentu saja murid wizard school menganggapnya tidak mungkin. Tapi, menurutku pertemanan itu bukan tentang derajatnya, tapi tentang ketulusannya. Justru, perbedaan lah yang selalu menyatukan hubungan. Contohnya, aku dan Emlyn. Aku yang cerewet dan Emlyn yang pendiam? Tidak bisa dipercaya, bukan?

"Mereka punya urusan masing-masing, Arca", ucap Emlyn. Yah, dia memanggilku Arca. Dan aku memanggilnya Lilyn. Terdengar seperti lilin, bukan? Emlyn sering marah jika aku memanggilnya begitu. Tetapi, lama-kelamaan ia mulai terbiasa. Tapi, memanggil Lilyn padanya saat ini bukanlah hal yang tepat. Bisa-bisa aku membuatnya malu.

"Ah, aku bosan. Mari kita main perang bola salju" usulku. Aku butuh bermain sekarang. Tetapi, mereka pasti tidak menerima usulanku. Saat ini 'kan, kami sedang misi. Jadi, bukan waktunya bermain-main. Tapi, aku sangat bosan sekarang.

"Ide yang bagus. Aku juga sedang bosan", ucap Cedric. Ternyata, orang bijak yang satu ini menyetujui usulku. Ku kira dia yang pertama kali  tidak menyetujui usulku.

"Sebaiknya, kita ajak Cecillia dan Giovanni" ucap Emlyn. Ayolah Emlyn! Cecillia? Tatapan sinisnya membuatku tidak suka padanya. Bisa-bisa dia memandang sinis kearahku saat aku bermain. Dan itu akan membuatku risih. Lalu Giovanni. Terkadang, tidak ada hawa kehidupan di sekitarnya. Aku sering meragukan kalau dia ini manusia.

"Tapi, Emlyn-" aku belum selesai bicara, Emlyn sudah menempelkan telunjuknya di bibirku.

Kebiasaan lilyn. Dia suka membuat orang menghentikan perkataan orang lain, dengan cara menempelkan telunjukya di bibir orang lain--kecuali lelaki tentunya.

"Kau saja yang ajak", ucapku pada Emlyn sembari memajukan bibirku. Emlyn hanya memamerkan giginya.

"Kau saja, aku tidak berani", ucap Emlyn dengan nada memohon. Matanya menatapku dalam-dalam. Dan akhirnya, aku menganggukkan kepalaku.

Lagi-lagi aku yang mengalah. Emlyn memang tahu kelemahanku. Tatapan memohon. Aku memang paling tidak tegaan jika seseorang menatapku seperti itu. Dengan berat hati, aku melangkahkan kakiku ke arah Cecillia dan Giovanni.

"hai Cecillia, Giovanni!", sapaku pada mereka. Sedangkan mereka menatapku dengan tatapan tidak suka. Aku harus sabar menghadapi mereka. "Ayo, main perang salju!".

"Kekanak-kanakan" ucap Giovanni. Cecillia hanya diam. Dia hanya memandangku. Tapi, pandangannya beda dari biasanya.

Mereka tidak mau. Aku harus bagaimana? Apa aku harus memaksa mereka? Kalau mereka marah bagaimana? Argh, aku bingung.

"Alex, kau ikut bermain, 'kan?", aku melihat Emlyn dan Cedric sedang membujuk Alex. Sedangkan Alex hanya tersenyum kikuk.

Entah apa yang merasuki diriku, aku menarik lengan mereka berdua. Aku tidak peduli dengan Giovanni yang berusaha melepaskan genggaman tanganku. Yang penting, mereka ikut bermain.

"Ternyata, kalian juga ikut", ucap Cedric sembari menatap heran Giovanni dan Cecillia.

"Kalau begitu, ayo kita bermain!", ucapku dengan semangat.

Mereka hanya mengangguk. Kecuali Giovanni dan Cecillia. Aku heran dengan Cecillia, dari tadi ia hanya diam. Tidak seperti biasanya.

"Pertama-tama kita hompimpah. Kita harus membagikan kelompok masing-masing", ucap Cedric. Lalu kami hompimpah untuk menentukan kelompok masing-masing. Dan sialnya, aku sekelompok dengan Giovanni dan Cecillia.

"Peraturannya, kita tidak boleh menggunakkan sihir di permainan ini", ucap Cedric. "Baiklah, permainan di mulai!".

Semuanya berlari, Kecuali Giovanni. Dan lagi-lagi aku harus menariknya. Hampir saja aku terkena serangan bola salju.

Aku langsung bersembunyi di sebuah batu besar--Giovanni juga bersamaku. Entah kebetulan atau apa, Cecillia juga ada di sana.

"Kau tidak boleh berbuat curang, Giovanni", ucap Cecillia tiba-tiba. Aku hanya memandangnya heran. Dari tadi Giovanni bersamaku. Sejak kapan Giovanni berbuat curang?

"Sejak kapan aku berbuat curang? Lagi pula, aku ikut bermain karena di paksa anak ini", ucapnya sembari menunjukku.

Hening. Tidak ada suara lagi. Aku masih terus bersembunyi. Aku sama sekali belum melemparkan bola salju pada mereka.

"Ini perang bola salju, Arcadia. Bukan petak umpet. Setidaknya, kita harus membalas mereka", ucap Giovanni. Ucapan Giovanni memang benar, seharusnya kita harus membalas mereka.

"Kau benar, Giovanni. Kita harus membalas mereka", ucapku sembari menepuk bahu Giovanni dengan keras. Giovanni hanya meringis. Ups, aku lupa! Walaupun aku perempuan, kekuatanku lebih besar dari lelaki. Itulah kehebatan keluarga Archer.

Cecillia terkekeh melihat kelakuanku dengan Giovanni. Aku dan Giovanni saling bertukar pandang.

"Kenapa kau?", tanya Giovanni dengan nada sinis. Sedangkan aku hanya bersembunyi di belakang punggung Giovanni. Aku takut, bagaimana kalau badannya di kuasai oleh kekuatan jahat.

"Kalian itu lucu. Aku jadi merasa punya teman", ucap Cecillia sembari tersenyum. Manis sekali senyumnya. Aku hanya memandangnya dengan tatapan kecewa.

"Kejam sekali. Beberapa jam ini, kau tidak menganggapku teman?", tanyaku

"Aku tidak pernah punya teman. Aku selalu iri pada orang yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Aku iri saat kau, Ariana dan Emlyn sedang mengobrol. Walaupun baru beberapa jam, kalian sudah akrab. Sedangkan aku, menyapa saja tidak bisa", ucapnya dengan wajah sedih. Ternyata itu asal-usul pandangan sinisnya.

Aku mengerti kenapa dia begitu. Dia hanya ingin berteman. Dia tidak bisa mengajak berkenalan, karena terlalu malu.

"Kau tidak boleh begitu, Cecillia. Orang-orang ingin berteman denganmu. Hanya saja, mereka terlalu takut dengan tatapan sinismu", ucapku menasehati Cecillia. Aku tidak percaya, aku bisa sebijak ini.

"Ada masalah apa antara kau dan Rio, Giovanni?" tanya Cecillia tiba-tiba.

Raut wajah Giovanni berubah. Ia terlihat kesal. sepertinya, nama Rio sangat sensitif di telinga Giovanni.

"Kau kenapa, Gio?", tanyaku. Entah kenapa aku hanya memanggilnya Gio.

Raut wajah kesal Giovanni berubah lagi. Ia memandangku penuh tanya. Sebelah alis matanya ia naikkan.

"Gio adalah panggilan yang cocok untukmu", ucapku sembari tersenyum lebar.

Ia hanya memutar bola matanya jenaka. Ia mengintip ke atas batu. Aku melihat Cecillia kesal.

"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku!" tagih Cecillia.

Giovanni hanya melirik kamu sebentar. Lalu kembali mengintip ke atas.

"Dia yang membuat hidupku menderita", ucapnya tiba-tiba. "Sebaiknya, kau segera melempar bola saljunya, Arca".

Aku menatapnya heran. Ia memanggilku dengan panggilan Arca. Itu kan panggilan Emlyn padaku.

"Arca?"

"Itu panggilan yang cocok untukmu", ucap Gio tanpa menatapku

To be continued

Chapter ini, menurutku tidak terlalu penting. Soalnya pemeran utamanya gak ada muahahaha.
Ini hanya chapter untuk mengungkap asal-usul tatapan sinis Cecillia.

Oh ya, emang ini kayak ada unsur romance-nya? Kata kakakku Rio dan Ria adalah pasangan yang serasi. Dia kira cerita ini bakal ada romance-nya. Padahal aku gak pernah mikirin ada romance di cerita ini. Aku malah pengennya cerita ini condong ke friendship.

Akhir kata.
Mind to vomment?

Jum'at, 12 februari 2016.

THE WIZARDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang