Author
"Apa yang kau lakukan, ayah!?", teriak Rio saat Ria jatuh pingsan. Saat Ria hampir terjatuh ke lantai, dengan sigap Rio menangkap Ria.
"Biarkan dia seperti itu dulu, Rio", ucap ayah Rio dengan tenang. Sedangkan Rio, yang awalnya emosi jadi semakin emosi. Rio begitu benci ayahnya yang sekarang. Kenapa ayahnya membuat temannya tidak sadarkan diri? Apa ayahnya membenci Ria, karena Ria mempunyai elemen air?
"Apa maksudmu ayah!? Kau membuat temanku tidak sadarkan diri. Dan kau berkata dengan tenang, seakan-akan tidak terjadi apa-apa", ucap Rio dengan penuh emosi. Dirinya sangat emosi sekarang.
Rio menggendong Ria dengan ala bride style¹. Ia bermaksud pergi meninggalkan tempat ayahnya. Ia kira, pertemuan ini akan sangat menyenangkan. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya.
"Apa yang harus ku katakan pada mereka?" batin Rio bingung.
"Rio tunggu dulu, biar aku jelas-"
"Apa yang ingin kau jelaskan, ayah!? Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi, ayah! Kau membuatku kecewa", kali ini Rio benar-benar kelewatan. Ia terus membentak ayahnya.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu, Rio!", bentak ayahnya. Hatinya sangat sakit, di saat anaknya membentak dirinya. Padahal dirinya bermaksud baik. Tapi anaknya salah paham pada dirinya. "Baringkan Ria di ranjang. Lalu, ikut aku ke sofa", lanjutnya.
Rio membaringkan Ria di ranjang ayahnya. Lalu, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk di sofa. Ia masih memasang wajah kesal. Sudah dua orang yang membuatnya kesal hari ini. Yang pertama Giovanni. Lalu yang kedua ayahnya.
"Apa yang ingin ayah katakan?" tanya Rio. Ia berusaha setenang mungkin saat ini. Memakai emosi akan membuat masalah menjadi buruk.
"Apa kau tidak pernah merasa ada keganjilan antara namamu dan nama Ria?" tanya ayahnya.
Rio
Aku tidak peduli dengan keganjilan antara namaku dan nama Ria. Yang ingin ku ketahui hanyalah, kenapa ayahku membuat temanku tidak sadarkan diri? Dan sekarang dia malah bertanya tentang nama. Tapi, aku harus menjawabnya.
"Aku tidak pernah merasa ada keganjilan tentang namaku dan Ria. Aku tidak peduli dengan hal kecil seperti itu", ucapku acuh.
"Ini bukan hal kecil, Rio. Kau dinamai Ariona, karena perjanjian ibumu dan ibu Ria", hal ini membuatku tertarik. Sebelumnya, ayah tidak pernah bercerita yang ada sangkut pautnya dengan ibuku.
"Jadi, ibuku juga seorang petualang?", tanyaku. Aku bertanya seperti itu, karena teringat ucapan Ria, bahwa ibunya seorang petualang.
Ayahku menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengisyaratkan, bahwa perkataaanku itu salah.
"Ibumu seorang ratu, Rio", ucap ayah. Aku sudah tahu tentang itu. Eh, tunggu! Jangan-jangan ibu adalah ratu di kerajaan cahaya. Semoga saja perkiraanku ini tidak benar.
"Ratu kerajaan cahaya?" tanyaku hati-hati.
"Tentu saja bukan! Kau akan tahu tentang ibumu. Tapi nanti, setelah Ria menemukan sesuatu yang bagus", ucap ayah menyanggah perkataanku.
Sesuatu yang bagus? Sesuatu yang seperti apa? Apa aku harus menunggu Ria menemukan sesuatu yang bagus, lalu aku akan tahu?
"Apa ibuku masih hidup?", tanyaku. Sungguh, aku sangat penasaran. Selama ini, aku tidak terlalu peduli tentang keberadaan ibuku. Tapi, sekarang aku sangat ingin tahu semuanya yang berkaitan dengan ibuku.
"Kau harus mencari tahunya sendiri, Rio. Bersabarlah!", ucap ayahku.
Aku lupa menanyakan kenapa ayahku membuat temanku tidak sadarkan diri.
"Kenapa ayah membuat Ria tidak sadarkan diri?", tanyaku.
"Tidak perlu cemas, Rio. Dia akan baik-baik saja", ucap ayahku. Sebenarnya, bukan itu yang ingin ku dengar dari ayahku.
***
Ria
Ayahnya Rio sangat jahat. Membuatku terlempar ke hutan belantara seperti ini. Aku sangat takut sekarang. Sendirian di tempat yang tidak ku ketahui.
"Ada sebuah gubuk di sekitar sini. Kau bisa tinggal di sana", aku mendengar suara seseorang. Dan suara orang berlari. Aku mengintip lewat semak-semak.
Begitu terkejutnya aku, melihat kejadian di depanku. Itu adalah wanita yang ku lihat di mimpiku. Aku berlari mengikuti mereka. Aku menginjak daun-daun kering. Tetapi, derap langkahku sama sekali tidak terdengar.
Mereka berhenti di sebuah gubuk. Gubuknya tidak terlalu kecil. Mereka masuk ke dalam gubuk itu. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling hutan.
Astaga!
Aku langsung berlari memasuki gubuk itu. Aku melihat mereka sedang duduk di sebuah kasur yang terbuat dari kayu.
"Kau akan aman di sini, ratu", ucap pelayan itu. "Aku harus cepat-cepat pergi ke istana".
Tiba-tiba wanita itu merintih ke sakitan. Sepertinya dia akan melahirkan. Pelayan itu membaringkan ratu itu di kasur kayu itu. Pelayan itu menyuruh anak kecil yang bersama mereka untuk pergi keluar untuk sementara waktu.
Aku melihat proses ratu itu melahirkan. Begitu berjuangnya ia melahirkan anak itu ke dunia. Terdengarlah tangisan khas bayi. Entah kenapa, air mataku begitu saja. Pelayan itu membersihkan bayi yang tertutupi darah. Pelayan itu menutupi anak itu dengan kain.
"Ibu kelelahan, ya? Ibu berkeringat banyak sekali", ucap anak kecil tadi. Ibunya hanya tersenyum tipis pada anaknya. Pelayan itu menghampiri wanita itu, lalu menyerahkan bayinya pada wanita itu.
"Selamat Ratu, anakmu perempuan. Ingin kau namai siapa?", tanya pelayan itu sembari tersenyum pada ratu itu.
"Aku teringat perjanjianku dengan Elvira. Aku namai dia Ariana Luffita-" astaga, ternyata aku ini-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"-Colline". -Keturunan kerajaan awan.
To be continued.
Maaf ya, pemeran utamanya di chapter kemarin gak ada. Mereka aku kasih cuti beberapa hari. Kasihan kan mereka syuting terus*plak.
Oh tentang kasur yang dari kayu itu, aku gak tahu di sebutnya apa. Mari kita sebut itu paranggong*plak. Aku gak tahu tentang proses melahirkan, jadi maaf kalau salah.
Bride style : yang di gendong dari depan. Yang kayak pengantin.
Salam keren ✌
13 februari 2016
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WIZARD
FantasyRia adalah gadis yang tinggal dihutan bersama ibu dan kakaknya. ia tidak diperbolehkan keluar dari hutan. tiba-tiba, ada yang menawarinya sekolah di sekolah sihir terkenal yang sangat jauh dari hutan tempat ia tinggal. lalu, apakah impiannya...
