New friend, New problem

14.4K 826 6
                                        

Hari ini Thata kembali gak masuk sekolah. Di kelas tadi, suasana lumayan menyenangkan. Miss. Sandra mengadakan ulangan dadakan. Yaaah, setidaknya Patricia and the genks sibuk mengerjakan soal ulangan, bukan sibuk mengintimidasiku.

Aku berjalan menuju kantin, perutku sudah lapar. Soal ulangan tadi menguras isi otakku dan tentunya itu membutuhkan energi. Aku harus charge ulang sebelum maag ku kambuh.

Kantin. Tetap seperti biasanya. Ramai. Sampai tidak ada satu meja kosong yang bisa aku duduki.
Seseorang melambai ke arahku.aku menengok kebelakangku. Mungkin saja bukan aku yang di maksud. Tidak ada siapa siapa di belakangku. Aku memastikan dengan menunjuk diriku sendiri diikuti anggukan mantapnya. Ya tuhaan. Baiklah, aku terpaksa menghampirinya.

"Ada apa?" Tanyaku singkat.

"Lo gak ada tempat duduk kan, duduk aja sini" jawabnya dengan senyum melebar.

"Enggak kok, masih ada tempat duduk lain" kataku mengelak.

"Oh ya?" Tanyanya sambil mengrenyitkan dahi.

"Huaaah. Baiklah aku duduk disini" ucapku mengakhiri. Lagipula aku tahu dengan pasti tidak ada meja kosong lagi.

Dua piring gado gado datang ke maja kami. Dua kaleng minuman bersoda juga.

"Gue sengaja beli buat lo juga" katanya lalu melahap gado gadonya mantap.

"Lo ngerencanain ini Ge?" Tanyaku heran

"Yah, kalo lo gak mau guebisa abisin dua piring sekaligus" jawabnya tanpa berhenti mengunyah gado gadonya. "Makan aja, gue yang bayar"

Nih orang ngeselin banget. Aku pun melahap gado gadoku. Yaaah, mau gimana lagi. Mulut ingin bicara tidak. Tapi perut mengiyakan untuk makan.

"Awww.... briaaan..."

"Briaaan.."

"Eh ada brian tuh"

Suara histeris cewek cewek di kantin, sontak membuat mataku mencari cari dimana ada manusia songong itu.

"Manusia songong" gumamku pelan.

"Siapa ? Gue?" Sahut Gerald.

"Eh.bukan. tuh yang di teriakin cewe cewe" tunjukku ke arah brian.

"Brian?"

"Kok lo tau, lo kenal?"

"Mereka meneriakinya dengan nama brian, gak mungkin kan namanya suparman" jawab Gerald yang menggundang tawaku.

Aneh saja nih orang. Dari semilyar nama kenapa dia memilih suparman.

"Wkwkwk. Itu lebih cocok dengannya"
Kita berdua tertawa bersama beberapa detik.

"Kenapa lo benci dia"

"Penasaran yaaa" jawabku sambil melihat kearahnya.

"Semua tentangmu, membuatku penasaran"

Kata kata barusan membuatku tersedak. Maksudnya apa cobak?
Gerald memberiku minum. Minuman soda membuatku lebih parah. Arrgh.

"Lo gak papa?" Tanyanya langsung kusambut dengan anggukan. "Jadi kenapa lo benci sama dia?"

"Dia songong, duakali kita bertabrakan, dan dia sama sekali gak minta maaf. Dua kali juga dia bilang kata yang sama kalo jalan pake mata dong "

"Hahahah" Gerald tertawa keras. Aku bingung bagian mana yang membuatnya tertawa.

"Apa yang lucu"

"Harusnya lo bilang. Sorry gue jalan pake kaki" dan kemudian kita tertawa bersama, dengan keras. "Lo lebih cantik kalo ketawa gini" tambahnya.

Aku terdiam. mukaku sedikit memanas. Mungkin sekarang Gerald melihat mukaku memerah seperti kepiting rebus.

Teeeet....teett..

Bel masuk berbunyi. Aku dan Gerald memutuskan kembali ke kelas masing masing. Kelas kita searah. Namun, aku harus menyelesaikan sedikit urusan di toilet. Kebelet pipis ini sudah gak bisa ditahan .

***
Lega akhirnya. Aku melihat bayanganku di cermin. Aku mencoba tersenyum pada cermin.

Apa bener gue lebih cantik senyum?

"Well, to the well well well. Kayaknya ada yang lagi seneng nih" seseorang menjambak rambutku.

"Iyalah, cowok seganteng Gerald mau bertemen sama cewek udik macam dia" sahut yang lain.

"Hahahah, keajaiban dunia deh kayaknya" mereka bertiga tertawa jahat.

Sudah kuduga pantulan bayangan mereka di cermin menghapus senyumku. Bayangan tiga cewek yang nyaris seperti barbie. Yap. Patricia and the genks.

"Mulai sekarang, lo harus menjauh dari Gerald.ngerti" Patricia melotot tepat di depan mukaku.

"Yang pengen temenan itu dia, bukan gue" jawabku gak mau kalah.

"Woooaaah. Songong sekali nih anak" seru Kenny.

Beberapa detik kemudian aku merasakan basah, dari ujung rambut sampai sepatuku.

"Kayaknya lo perlu mandi deh" kata Ana sambil tersenyum lebar kemudian melempar ember kosong yang sudah disiramkan ke badanku. Kemudian mereka pergi.

Aku menarik nafas panjang. Memandangi bayanganku yang sangat menyedihkan. Mana bisa aku masuk kelas dengan keadaan ini.

" ya tuhan, membolos lagi. Payah" umpatku sambil menendang ember tadi.

Aku keluar toilet. Namun yang kudapati aku terkunci. Gagang pintu sudah ku tarik puluhan kali. Tetap tak bisa. Mereka pasti mengunciku. Ahhh, ini benar benar membolos. Padahal aku berniat membeli seragam baru di koperasi agar aku bisa masuk kelas.

***POV PATRICIA***
"Pat, lo kok kemaren ngelepasin Velin, dan sekarang ngebully dia lagi" ujar Anna

"Iya pat, gue juga gak ngerti maksudlo" sahut Kenny

" kita gak boleh bully dia depan Gerald. Kalian tau, Gerald adalah anak baru. Dia gak tau image kita kayak gimana"

"Jadi lo suka Gerald?" Tanya kenny penasaran.

"Dia tampan, menarik, dari amsterdam. Siapa yang gak suka sih Kenn? "

"Tapi lo kan suka Brian, Pat?" Sahut Ana

"Brian tetap jadi yang nomer satu, dia sangat susah didapatkan. Tapi Gerald itu lain. Dia punya hal yang spesial"

"Jadi.." Ana dan Kenny bertanya bersamaan

" kita harus terlihat baik, di depan Gerald"

Gue bakal dapetin lo Ge, dan gue bakal manfaatin Velin untuk dapetin lo.

****
"Tolooooong..." kataku keras.

Suaraku sudah hampir serak meminta tolong ratusan kali.

"Tolong bukain pintuuu" badanku sudah lemas. Baju basah ini memperparah keadaan.

Terdengar seseorang membukakan kunci. Pintu terbuka. Tapi aku sudah tidak bisa melihat apapun. Tubuhku terkulai lemas di lantai toilet. Samar samar terdengar suara.

"Lo gapapa?"

Dream CatcherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang