I got a (fake) friends

13.3K 698 6
                                        

Hari ini tidak ada hal yang menarik. Semua berjalan datar. Membosankan. Lause Nely, guru bahasa mandarin kami sakit. Beliau gak masuk dan jadilah jam kosong yang sangat menggembirakan bagi kelasku, bukan bagiku.

Percayalah, aku lebih memilih menulis huruf china yang menyusahkan daripada tidak ada kegiatan seperti ini. Yang ujing ujungnya patricia mendampar ku (lagi).

Aku sendirian. Thata, biasa dia di setrap di ruang guru. Karena selalu datang terlambat. Mungkin sekarang dia lagi menulis "saya tidak akan datang terlambat lagi " sebayak satu buku, berjamjam sampai ada guru yang merasa iba padanya.

"Hallo, velin!" Dua orang mengapit dudukku. Sedangkan satunya lagi tepat didepan mejaku. Yaaah, tak perlu ku beritahu mereka siapa kan ?

"Gimana kabar lo? Apa toilet sangat membuat lo sehat?" Tiga cewek tertawa jahat. Aku hanya diam tidak menghiraukan. "By the way. siapa orang yang nolongin lo kemaren?" Tanya patricia sambil menggosok gosok kukunya.

"Gak penting" jawabku kasar diikuti oleh cubitan keras dua nenek lampir dilenganku.

"Gue cuman pengen tau, siapa yang berani ngelawan gue" bentaknya

"siapa !!" Cubitan kenny dan ana semakin keras. Hingga ingin rasanya aku menjerit.

"Ge. Gerald. Gerald yang nolongin gue" mereka melepas cubitannya. Aku mengelus lenganku kesakitan.

"Gerald tau kalo yang ngunciin kita??!" tanya patricia meyakinkan.

"Entahlah"

"Perlu lo tau. Kalo lo sampe ngomong ke Gerald kalo kita yang ngunciin lo. Lo tau kan akibatnya kayak gimana" ancam patricia kemudian pergi.

Aku gak paham, kenapa Patricia takut kalo gue bakal ngadu ke Ge soal dikunciin kemaren. Mungkin Patricia takut karena kemaren dia kelewat keterlaluan mengerjaiku sampai pingsan.

Apa mungkin Patricia punya rasa takut? Entahlah. Aku tak ingin memikirkan mereka. Merasakan cubitannya saja sudah sangat sakit sampai meringis.

"Woy Ve" ucap Thata ngos ngosan. Rupanya dia abis lari dari kantor menuju kelas yang notabenenya lumayan jauh.

"Lo udah selse Tha"

"Iya, gila banget tau gak. Gue disuruh bersiin seluruh toilet. Parah"

"Kasiaaan puk ...puk ....puk..."

"Iiih. Tapi bukan Thata kalo gak bisa ngelakuin" ucapnya bangga

"Lo bersiin semua" kataku gak percaya.

"Ya enggak lah, gue nyuruh mas ujang aja. Terus gue kasih duit tuh limapuluh ribu. Hahahaha"

"Cegek banget deh"

"Udah ah, ayo ke kantin" thata menarik lenganku

"Awwww" aku meringis kesakitan.

"Hah, lo kenapa" tanyanya heran sambil membuka lengan seragamku. "Kok biru biru gini sih Ve"

"Eh..ee...gue. gue. Gue jatuh kemaren" alasanku.

"Iih. Makanya lo ati ati dong Ve"

"Iya iyaa "

***
Di kantin.

"Hahahah, jadi lo dulu jauh jauh ke amsterdam cuman home schooling ?" Thata tertawa lebar mendengar cerita Gerald. Gerald juga tertawa. Hanya aku yang memaksakan tertawa. Apa lucunya??. "Di indonesia juga banyak kali Ge home schooling yang gak kalah bagusnya dengan amsterdam"

"Iya sih, mau gimana lagi. Nyokap bokap tinggal disana" jawab Gerald datar.

"Terus ngapain lo balik ke Indonesia? " tanyaku polos.

Dream CatcherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang