Aku sama sekali gak percaya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.
"Lo lagi !! Lo ngapain disini?!" Tanyanya kaget. Aku diam seribu bahasa. Aku speechless. Benar benar speechless.
Tidak hanya dia yang kaget. Aku juga. Seperti mendapat serangan jantung. Disambar petir. Ah~ seperti itulah.
"Kakak, kapan datang" suara Gerald memecahkan kebekuanku.
Gerald memanggilnya kakak. Ini berarti dia beneran kakaknya. Ya tuhaaaan.
Aku mengkode Gerald dengan menunjuk cowok itu. Gerald mengangguk mantap.
"Oh iya kak. kenalin, ini Velin temen gue dan ini Brian,kakak gue. Lo udah kenal kan Ve?" Gerald memperkenalkan aku dan Brian seperti orang baru bertemu.
Memang ini pertama kalinya aku bertemu Brian sebagai kakak Gerald. Rasanya nervous gak karuan.
Aku hanya mengangguk pelan ke Gerald. Tanpa menjawab satu katapun.
"Gue udah tau" jawab Brian datar. Dia langsung naik tangga meninggalkan kami berdua.
Gerald memberiku isyarat untuk duduk. Aku masih tidak percaya. Gerald memberiku segelas jus strawberry. Aku langsung menyeruputnya.
"Dia beneran kakak lo?" Tanyaku pelan untuk yang kesekian kalinya.
Aku takut kalo Brian sampai kedengaran. Yah walaupun dia ada di lantai dua. Dan Gerald menggangguk mantap.
"Kenapa? Lo gak percaya?" Tanyanya sambil tertawa.
Aku ingat betul bagaimana aku mengolok Brian di depan Gerald, waktu dikantin dulu. Mau ditaruh mana mukaku ini.
"Dulu lo bilang lo gak kenal " paparku.
"Gue gak bilang gitu. Gue kan bilang, cewek di kantin nyebut namanya" cerita Gerald panjang lebar.
Aku hanya mendengus pasrah. Gerald melihatku dengan tertawa.
"Gue gak bakal bilang kali Ve, kalo lo ngatain dia songong" seketika mataku ingin keluar dari tempatnya.
Aku buru buru menutup mulut Gerald. Menengok kesegala arah,memastikan tidak ada yang mendengarnya selain kami.
Bagaimana mungkin, Brian dan Gerald kakak beradik. Mereka berbeda sekali. Lebih tepatnya berbanding terbalik.
Gerald yang manis, suka tersenyum, baik, ramah, pinter adik dari Brian. Seorang Brian yang songong, yang galak, yang kaku itu. Sangat kontras sekali bukan.
Aku memasukkan makanan ke mulutku sekenanya. Mana mungkin aku kena jebakan seperti ini. Harusnya hari ini menjadi menyenangkan karena aku belajar bersama Gerald.
Mungkin kalian heran, kenapa aku berfikir ini akan menyenangkan. Entahlah, lidahku kaku mengatakannya, otakku geli memikirkannya, perutku berisi kupu kupu rasanya. Mungkinkah ini yang namanya sesuatu itu ? Jujur, aku sedikit menaruh hati padanya, Gerald.
***
"Cieee... yang semalem ngedate" goda Thata ketika miss . Sandra baru keluar kelas.
"Apaan?" Kataku pura pura bego
"Kemaren lo ke rumah Gerald kan Tha?" Tanya Thata kepo. Aku hanya menggangguk mengiyakan. "Gimana, pasti gede"
"Apanya ? " kataku sambil tertawa. Aku dengar kata Thata barusan membuatku ingat meme konyol di instagram
"Ih, ngeres nih !!" Ucap Thata sewot. "Rumahnya lah, gue denger dia anak pemilik yayasan" bisik Thata.
"Hah? Yang bener??" Tanyaku kaget. Thata mengangguk mantap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Catcher
Novela Juvenil"Dream Catcher akan menangkal mimpi burukmu" Apa pernah kau mendengarnya. Apa kau lebih takut pada mimpi buruk ? Lalu bagaimana jika itu kenyataan ? Siapa yang akan menolongmu dari kenyataan yang begitu pahit? Aku Reveline anastasia, gadis kecil...
