one more step !

8.4K 552 4
                                        

hari ini rasanya aku gak ingin sekolah. Aku takut bertemu Brian. Aku malas bertemu Gerald. Thata ? Cuman itu alasanku satu satunya.

Yaah, akhirnya dengan berat hati aku memutuskan untuk sekolah.

Di kelas sangat ramai, rupanya hari ini banyak jam kosong. Guru guru ada seminar. Dan kita hanya diberi tugas.

Aku dan Thata udah nongkrong duluan di kantin. Gerald menghampiri kami. Tanpa membawa gado gadonya.

"Bosen banget nih, main yuk" kata Gerald. Thata sepertinya setuju, ekspresinya sangat senang.

"Gue gak bisa" kataku. Thata dan Gerald memandangiku bersamaan.

"Kayaknya kalian harus bicara berdua deh" Thata menengahi kemudian pergi.

Gerald hanya menatapku tajam. Sedangkan aku, sibuk memakan jajanan.

"Ve, lo marah sama gue ?" Tanya Gerald sambil memegang tanganku. Suara bisik bisik cewek sebelah pun sampai terdengar olehku.

"Siapa yang marah ?" Kataku datar.
"Ve, gue tau Patricia pernah gak baik sama lo, gue cuman berteman kok. Gak lebih" bujuknya.

"Nah lo udah tau " jawabku sinis.

"Ve, lo gak marah kan " tanyanya sambil tersenyum manis. Gerald tak melepas tanganku sedetikpun.

Aku melihat kesegala arah. Semua orang melihat ke arahku. Tiba tiba aku menangkapa sosok Brian melihat ke arahku juga. Segera kulepaskan tangan Gerald.

"Gue udah maafin lo, tp gue mau pergi" kataku pada Gerald. Gerald hanya mengangguk bingung.

Aku segera mencari Brian. Dia sudah tidak ada lagi di tempatnya. Mungkin balkon lantai atas. Tapi tidak ada juga.

Aku berlari ke perpustakaan, mendapati Brian yang sedang membaca buku.

"Ngapain lo kesini" katanya sinis.

"Ngikutin lo!!" Jawabku menggoda emosinya.

"Udah puas mesra mesraannya" kata Brian datar. aku memercingkan mata.

"Ge td cuman minta maaf"

"Lo gak denger apa yang gue bilang dulu, jangan deketin Gege !" Tatapnya tegas. Aku sampai sedikit takut melihat raut mukanya.

"Gue mau alasan yang jelas" kataku pelan

"Bahkan jawaban kalian sama ketika ku larang" ujarnya. Senyumku tersungging.

"Benarkah ?" Tanyaku riang "itu namanya jodoh!!" Seruku senang.

Brian menatapku dalam dalam. Dia memegang kedua lenganku. Memegang sangat kuat. Sampai aku tidak bisa bergerak.

"Itu namanya takdir !!" Katanya lalu melepaskan bahuku. Sedikit sakit rasanya.

***
Aku sedang duduk menunggu panggilan customer service salah satu bank. Aku akan menanyakan siapa yang mengirimkan uang sebayak itu di rekening mama.

Hepeku bergetar sebanyak tiga kali, tanda ada chat masuk. Aku segera membukanya.

Brian : gue jemput jam 4 !

Aku membacanya tapi tak membalasnya. Brian selalu seenaknya sendiri. Akhirnya waktu giliranku tiba. Seorang customer service memanggil nomor antrianku.

Aku menghampiri lalu duduk di kursi. Menanyakan langsung tanpa berbelit belit.

"Mohon tunggu sebentar Ibu Reveline" katanya sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian dia memberiku sebuah amplop kecil berlogo bank itu.

"Ini adalah nomer rekening pengirim beserta namanya"

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu pergi. Di depan pintu bank aku membuka amplop itu. Dan !! Aku sampai shock dibuatnya. Aku gak percaya !

****

Ting .... tung !!
Aku memecet rumah Brian. Seorang cowok membuka pintu dengan muka sedikit ngantuk. Brian.

Dia terkejut melihatku. Lalu tersenyum manis.

"Reva, Ini belum jam 4" katanya padaku.

"Brian Samudra Ranaif" kataku padanya. Brian hanya menatapku gak mengerti. "Nama lo kan ?" Kataku memastikan

"Iya. Kenapa ? Brian mengerenyitkan alisnya.

Plak!
Aku menampar Brian keras.

"Maksudlo ini apa ??!" Tanyaku sambil menunjukkan buku tabungan mamaku. Brian hanya melotot tak percaya.

"Reva..."

"Apa ? Lo ngerasa kasihan gitu sama gue ?? Sama nyokap gue ? Sampe lo transfer uang segitu banyaknya !!" kataku keras.

Aku gak nyangka ketika kubuka amplop bank tadi tertulis nama Brian. Apa maksudnya ??

"Gue bisa jelasin... " Brian menenangkanku. Rapi gak bisa. Aku terlanjur marah.

"Bagi gue ini udah jelas. Gue tau lo anak orang kaya. Tapi sekaya apapun lo gue gak pernah minta kekayaan lo" kataku secepat kilat.

"Reva ! Dengerin gue dulu" perintah Brian tanpa aku hiraukan.

"Secepatnya gue bakal balikin duit lo! Lo gak perlu khawatir !!" Kataku kemudian pergi.

Hmmm ironis sekali, kemarin dia memelukku, mencium keningku. Dan sekarang dia menyakiti hatiku ! Bahkan aku menamparnya keras.

Aku berjalan gontai. Rasanya aku tertipu oleh Brian. Awalnya kukira dia gak baik lalu dia merubah image nya menjadi baik. Dan ketika aku percaya dia baik, dia mempermainkan ku. Sempurna.

****
" Ve ! Dicariin tuh" Thata menyadarkan lamunanku. Thata menunjuk seseorang di depan pintu. Dan kulihat itu Brian.

"Bilang aja gue males" kataku pada Thata. Aku memalingkan muka dari Brian dan tidur di bangku. Kututup mataku. Rasanya aku gak ingin mengetahui kalau Brian yang mengirimkan uang itu.

Thata menarik tanganku tanpa kupalingkan muka. dia terus terusan menarik tanganku. Aku mendongakkan kepalaku.

"Apasih lo Tha..." kataku melihat cowok didepanku yang sama sekali bukan Thata. Tapi Brian.

Semua mata tertuju pada kami berdua. Ada yang berbisik bisik hangat. Ada juga yang sampe ngiler ngelihat Brian.

"Lepasin!!" Kataku kasar.

Bukan melepas tanganku Brian malah menarikku hingga keluar kelas. Lalu menyeretku ke arah balkon lantai atas. Sepanjang perjalanan semua siswa siswi melihatku.

Brian melepas tanganku. Kemudian memelukku erat. Sangat erat hingga aku susah bernapas. Aku meronta ronta . Namun aku tak bisa.

Aku menginjak kakinya keras. Hingga Brian melepas pelukannya dan berteriak kesakitan.

"Awwwww !!!"

"Gue udah bilang, gue gak butuh penjelasan lo"

"Gue bukan mau jelasin ke lo" katanya. Aku sempat memasang ekspresi marah.

"Yaudah bagus" kataku singkat. Brian memelukku lagi. Sangat erat. Aku kembali meronta. Ketika aku bisa melepas. Aku langsung turun dan pergi

Maksudnya apa cobak !! Dasar Freak !!

***

Sorry ceritanya dikit banget. Agak buntu. Hehehe.

Happy reading

Dream CatcherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang