Aku masih berada di sini. Kata-kata jeonghan juga masih terngiang di telingaku. Bahwa aku tak ada bedanya dengan ayah tiri dan pacar-pacarnya, bahwa aku telah menyakitinya, bahwa aku telah menganggapnya sebagai suatu kesalahan, dan bahwa aku telah menganggapnya sebagai seseorang yg menjijikkan.
Bibirku kelu tak mampu membela diri. Bibirku kelu tak mampu menjelaskan apa maksud semua perkataanku. Tak ada sepucuk kuku pun niat untuk aku menyakitinya. Semua hanyalah salah paham baby doll.
Aku tak pernah menganggapmu sebagai suatu kesalahan. Akulah kesalahan itu. Akulah yg seharusnya bisa menahan diri, untuk tidak memanfaatkan situasimu dan tidur denganmu.
Aku tak pernah menganggapmu menjijikkan baby doll. Aku hanya tak mengerti konsep bahwa kamu harus disakiti untuk mendapatkan kepuasan seksual. Aku mengutuk konsep itu, tapi aku tak pernah mengutukmu baby doll. Karena menurutku, kamu adalah orang yg berhak diperlakukan dengan lembut di tempat tidur, bukan dengan jalan disakiti.
Aku bangkit dari tempatku terjatuh. Sepertinya aku akan bolos sekolah. Aku tak ingin melihat ekspresi benci dari baby doll untukku. Aku mengeluarkan mobil dari parkiran dan menuju keluar gerbang sekolah.
Sudah hampir 2 jam aku berada di jalanan. Aku juga tak tau aku akan kemana dan dimana aku sekarang berada. Di samping kiri dan kanan kulihat pemandangan berubah menjadi pohon-pohon yg hijau. Tak ada rumah penduduk yg terlihat. Kubelokkan mobilku ke arah kiri menembus hutan kecil dengan pepohonan yg jarang. Kulaju mobilku perlahan dan akhirnya aku sampai di ujung jalan. Sebuah bukit terjal. Aku memberhentikan mobilku di situ.
Saat kulihat apa yg ada di bawah bukit terjal itu, kulihat jurang yg cukup dalam dengan sungai kecil yg mengalirinya.
Aku duduk di atas kap mesin mobilku. Kurebahkan tubuhku disana. Aku memandang matahari yg bersinar cukup terik hari ini. Kututup mataku dengan lenganku dan suasana di bukit itu membuatku menumpahkan segala emosi yg terpendam di dada.
"Kamu tak ada bedanya dengan mereka."
Kurasakan air mata pertama mulai menetes membasahi lengan bajuku.
"Mereka boleh menyakiti fisikku. Dan sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan sakit yg kau berikan kepadaku."
Napasku mulai tersengal-sengal saat mendengar suaramu di ingatanku baby doll.
"Menganggapku sebagai suatu kesalahan saja belum cukup untukmu. Kini kamu menganggap aku adalah seseorang yg menjijikkan."
Bukan baby doll, kamu salah paham. Jadi jangan membenciku baby doll, kumohon jangan benci padaku, kumohon.....
Rasanya sesak saat kamu tau orang yg selama ini selalu mencari perlindungan padamu berbalik menyerangmu. Rasanya sakit saat seseorang yg berarti untukmu dan selalu bersamamu, kini membalikkan badannya meninggalkanmu. Tak pernah aku melihat baby doll-ku menatapku dengan pandangan penuh rasa benci.
Kupukul-pukul dadaku karena tiba-tiba aku merasa tak bisa bernapas. Aku seakan-akan terjatuh dalam lubang yg sangat sempit dan aku terjepit di dalamnya. Terjepit di dalam rasa bersalahku. Terjepit karena rasa bencimu padaku baby doll.
Apa yg harus kulakukan untuk mendapatkanmu kembali di sisiku? Kumohon baby doll, jangan pernah meninggalkanku, jangan pernah benci padaku, karena aku menyayangimu baby doll. BUKAN. Karena aku mencintaimu baby doll. Aku sungguh-sungguh mencintaimu.
***
Entah sudah berapa lama aku berada di atas mobilku, di sebuah bukit terjal ini. Akupun juga tak tau, sebenarnya aku sekarang berada dimana. Kini matahari telah berada di ufuk barat dan hampir menenggelamkan dirinya di balik gunung.
Sebelum hari semakin gelap, aku memutuskan untuk pulang. Aku memutar arah dan menyusuri jalan yg kulewati pagi tadi. Setelah hampir 4 kali tersesat, aku menemukan sebuah jalan yg familiar. Kira-kira 3 jam kemudian, aku baru sampai di depan rumahku.
Sebelum aku memasuki rumah, sempat aku melihat rumah jeonghan yg gelap dan sepi. Rumah yg tak pernah terdengar lagi keceriaannya setelah ayah jeonghan meninggal. Rumah itu kini bagaikan rumah yg tak berpenghuni. Tak menangkap adanya aktifitas apapun di sana, aku memutuskan untuk segera masuk ke rumahku sendiri.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan di rumahku. Terlihat lampu menyala di ruang makan. Aroma masakan khas mama ku menyeruak sampai ke ruang tamu. Aroma masakan yg biasanya akan mengajakku untuk segera menyicipinya itu, kini tak lagi bekerja.
Perutku serasa penuh. Tangan dan kaki ku serasa tak ingin digerakkan. Cepat-cepat aku naik menuju kamarku untuk beristirahat.
***
Terdengar ketukan di pintu kamarku dan kudengar suara mama meminta ijin untuk masuk. Aku pun mempersilahkannya masuk. Dengan kepala masih terasa berat, aku baru menyadari bahwa aku tertidur dengan posisi masih mengenakan seragam sekolahku.
Mama menawarkan makan malam yg dengan cepat kutolak. Kulihat pandangan mama yg penuh dengan tatapan tanda tanya. Namun, entah apa yg dilihatnya pada wajahku, dengan seketika wajah mama berubah. Senyum penuh pengertian terlukis di bibirnya.
Saat hendak meninggalkan kamarku, kupanggil lagi mamaku, dan aku membujuknya untuk duduk di tempat tidurku.
Kurebahkan kepalaku di pangkuannya, dan kubenamkan wajahku di perutnya. Kupeluk pinggang kecil mama dan seketika itu juga aku menangis bagai seorang anak kecil di pangkuan ibuku sendiri.
Tak ada kata terucap di antara mama dan aku. Cukup lama aku menumpahkan segala emosi yg terpendam di dada, di pangkuan ibuku sendiri. Usapan tangan lembut mama di kepalaku membuatku sedikit tenang. Kuhapus sisa air mataku dan aku bangun dari pangkuannya. Tak beberapa lama kemudian, aku merasakan tangan lembut mama di wajahku.
"Kuharap suatu saat kamu akan menceritakan semua yg terjadi seungcheol-ah. Semua masalah yg kamu pendam, kuharap kamu bisa membaginya dengan mama. Melihat kamu menderita sendiri, melihat kamu tiba-tiba hancur berantakan seperti ini tanpa tau alasannya, membuat mama merasa gagal menjadi seorang ibu, sayang. Jadi, jika kamu sudah siap untuk menceritakannya, mama akan selalu ada untukmu, nak."
Terima kasih demi terima kasih kuucapkan pada-Nya, karena telah mengirimkan salah satu malaikat-Nya untuk menjadi sosok ibuku.
"Maafkan aku ma. Tapi mama bukanlah ibu yg gagal. Mungkin memang sekarang aku belum bisa menceritakan apa yg telah terjadi padaku. Tapi, yg kumohonkan sekarang hanyalah pengertian dari mama."
Mamaku menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Senyum yg kata orang2 telah diwariskannya padaku. Mama mengusap kepalaku sekali lagi dan beranjak dari tempat tidurku.
Saat akan menutup pintu kamar, aku memanggilnya sekali lagi, "Mama, terima kasih."
End of Chapter 12
KAMU SEDANG MEMBACA
BEST FRIEND? - Private
Fanfiction"Tidak, dia bukanlah kekasihku. Jeonghan, hanyalah sahabatku. Sahabat baikku. Benarkah?" My Second Jeongcheol Fanfiction YAOI (NO Gender Switch) Violence Abuse Slutty Jeonghan^^
