Sudah 7 bulan sejak malam dimana ayah jeonghan dibawa ke rumah sakit. 3 hari setelah operasinya berjalan lancar, ayah jeonghan sadar dari komanya dan harus menerima kenyataan pahit bahwa istri tercintanya menceraikannya. Ibu jeonghan sudah menandatangani surat cerai dan sudah bersiap mengajukannya ke pengadilan, saat suaminya sudah sadar.
Awalnya aku tak tau mengapa ibu jeonghan tega melakukan itu. Namun kemudian, jeonghan menceritakan semuanya kepadaku. Mulai dari ayah kandungnya yg meninggal, ibunya yg depresi, ayahnya yg sekarang yg hanyalah seorang ayah tiri, penyiksaan dan pemukulan yg dilakukan oleh ayah tirinya kepadanya, kenakalan remajanya, bahkan sampai kebiasaan dia untuk menggonta-ganti pacar, jeonghan beberkan semuanya.
Entah apa yg membuat dia mau membuka semua kenangan buruk dalam hidupnya itu kepadaku. Tapi aku menebak, pasti karena seungcheol, sahabatnya sejak kecil yg tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Dia seperti kehilangan sosok orang yg paling dekat dengannya dan yg paling mengerti tentang dia. Lucunya, aku benar-benar berpikir dia seperti kehilangan pegangan hidupnya. Dengan menghilangnya seungcheol, dia seperti ingin mencari sosok pengganti itu, dan dia membuatku menjadi sosok itu.
Setelah mengakhiri pembicaraan denganku malam itu, seungcheol menitip pesan terakhir padaku, bahwa dia akan pergi ke jepang untuk meneruskan cita-citanya menjadi fotografer dan aku tidak boleh menceritakan kepada siapapun tentang rencananya itu, bahkan kepada jeonghan sekalipun. Dia bercerita bahwa paginya saat dia mengadakan pameran fotografi, ada seorang fotografer dari jepang yg menawarinya beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah seni yg berfokus pada seni fotografi. Awalnya dia bingung apakah akan menerimanya atau tidak, akan tetapi malam itu dia mantap dan yakin untuk menerimanya. Dan sejak saat itu seungcheol menghilang. Orang tuanya pun bungkam.
Saat aku mengantar jeonghan ke rumah orang tua seungcheol untuk menanyakan keberadaan seungcheol, mereka hanya tersenyum. "Maaf nak, kami tidak bisa memberitahumu kemana perginya anak kami. Tapi yg pasti, dia baik-baik saja dan sedang mengejar cita-citanya. Aku harap kamu bisa mendukungnya dari jauh, apapun yg sedang seungcheol lakukan sekarang ini, jeonghan-ah."
Dua kali aku ke sana untuk mengantar jeonghan, dan jawabannya tetap sama. Di kali kedua jeonghan menemui orang tua seungcheol, jeonghan meminta ijin untuk melihat kamar seungcheol dan mereka mengijinkannya.
Aku pun menemani jeonghan melihat isi kamar seungcheol. Aku hanya bisa memandangnya dari ambang pintu, sedangkan jeonghan terus berputar di dalam kamar seungcheol seakan-akan ingin mencari petunjuk keberadaan seungcheol. Maaf love, aku tidak bisa memberitahumu, karena aku telah berjanji pada seungcheol.
Kulihat jeonghan berjalan ke arah jendela kamar seungcheol dan membukanya. Lama dia berdiri di sana dan melihat pemandangan jendela kamarnya sendiri dari kamar seungcheol ini. Kemudian kulihat dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di pinggirannya, dan perlahan-lahan dia merebahkan dirinya di sisi kiri tempat tidur seungcheol. Dipeluknya bantal yg ada di sisi kanan tempat tidur itu dan diarahkannya ke wajahnya.
Maaf love, maaf jika harus seperti ini keadaannya. Aku tau kamu merindukan sosok sahabatmu, aku tau kalau kamu sangat ingin mengetahui keberadaan sahabatmu, tapi sekali lagi aku tak bisa.
Namun entah mengapa, jauh di dalam lubuk hatiku yg paling dalam, ada sedikit rasa lega seungcheol menghilang dari hidup jeonghan dan membuatku berjanji padanya untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada jeonghan. Boleh kalian menganggapku licik, tapi itulah yg akan terjadi jika kamu sudah memiliki orang yg benar-benar kamu cintai. Rasa ingin memonopoli cinta dan perhatiannya sungguh sangat besar.
3 bulan setelah seungcheol menghilang, sifat jeonghan berubah. Dia kembali menutup hatinya. Pandangan kosongnya kembali lagi. Aku tak menganggap hal itu sebagai suatu hal yg perlu dibesar-besarkan, karena mungkin saat itu adalah saat kami mempersiapkan ujian akhir kami di SMA. Jadi hanya kuanggap sebagai stress menuju ujian akhir. Namun, bahkan setelah kami lulus pun, dia masih seperti itu.
Setelah lulus SMA, aku dan jeonghan masih berpacaran walaupun harus jarak jauh. Aku meneruskan kuliah di sekolah bisnis, sedangkan jeonghan mencoba peruntungannya di dunia hiburan. Kebetulan pamanku adalah seorang agency model. Saat jeonghan kuajak makan malam di rumah, pamanku melihat wajah dan postur tubuh jeonghan, dan menawarinya untuk menjadi seorang model di agency-nya.
Aku pun mendukung sepenuhnya jika dia harus menempuh karir itu. Saat matanya mencari tatapanku untuk memutuskan apakah dia akan menerima tawaran itu atau tidak, aku hanya mampu memberikan senyuman terbaikku padanya. "Terimalah jika kamu memang berminat, love. Jika kamu merasa ke depannya kamu akan nyaman dan senang memilih karir itu, aku akan dengan senang hati mendukungmu."
Wajahnya berseri. Senyum balasannya sungguh tulus dan penuh rasa terima kasih. Digenggamnya tanganku dan malam itu juga dia mengiyakan tawaran pamanku. Dan sejak saat itu, ya, bisa dikatakan bahwa aku berpacaran dengan seorang model.
Bulan-bulan selanjutnya kami jalani dengan jadwal yg sama-sama padat. Aku dengan kuliah bisnisku, sedangkan jeonghan dengan pemotretan dan runaway-nya. Kami masih bisa bertemu untuk kencan, bahkan beberapa minggu sekali, aku masih bisa tidur dengannya. Namun sekali lagi, sifatnya yg kembali tertutup di 3 bulan setelah menghilangnya seungcheol, belum berhasil kululuhkan.
Terkadang aku masih menangkap basah saat dia memandang kosong jauh ke luar mobil, atau pandangan matanya yg tidak fokus padaku bahkan saat dia berada dalam dekapanku.
Dan yg membuatku curiga dan bertanya-tanya adalah, pernah di suatu pagi saat setelah semalam kami bercinta, dia sudah tidak ada dalam pelukanku. Pagi itu dia duduk di pinggiran jendela kamarku hanya dengan sehelai selimut menutupi tubuhnya. Pagi itu dia terlihat sangat cantik. Namun, aku melihat raut kesedihan pada matanya. Dia seperti menutup diri dengan dunia di sekitarnya. Bahkan saat aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang, dia sangat terkejut dan sedikit terlonjak merasakan sentuhanku. "Kamu membuatku terkejut setengah mati sayang. Jangan pernah melakukannya lagi, hmm?"
Aku mendekatimu dengan langkah yg tidak mengendap-endap sama sekali, love. Kamu terkejut karena kamu memang sedang tidak berada di sini bersamaku. Pikiranmu sedang berada jauh dari sini. Entah apa yg ada dalam kepalamu, cantik. Seandainya kamu mau berbaginya denganku. Betapa aku akan sangat bahagia.
Setiap hari aku berharap kamu akan membuka hatimu lagi padaku, love. Setiap hari aku berharap bahwa kamu akan bergantung padaku dan mengandalkanku di setiap hidupmu, love. Dan setiap hari aku selalu berharap, bahwa suatu saat kamu akan mengucapkan cinta padaku. Karena sampai saat ini, kamu tak pernah menyatakan cintamu untukku.
"Aku mencintaimu, love."
"Aku tau, sayang."
Selalu itu balasanmu setiap kali aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Sesulit itukah kamu mencintaiku?
Dan pagi ini, pagi di saat 7 bulan setelah seungcheol menghilang, aku pun tau alasanmu menutup kembali hatimu dan mengapa kamu tak pernah menyatakan cintamu padaku.
End of Chapter 20
KAMU SEDANG MEMBACA
BEST FRIEND? - Private
Fanfiction"Tidak, dia bukanlah kekasihku. Jeonghan, hanyalah sahabatku. Sahabat baikku. Benarkah?" My Second Jeongcheol Fanfiction YAOI (NO Gender Switch) Violence Abuse Slutty Jeonghan^^
