Chapter 14

2.1K 278 2
                                        

"Joshua. Hong Joshua namanya. Pacar baru jeonghan. Siswa baru di kelas sebelah."
Aku mendengarkan mingyu menjelaskan identitas laki-laki yg barusan kulihat memeluk baby doll-ku.

"Ya aku tau. Wonwoo sudah menceritakannya padaku tadi pagi. Maaf mingyu-yah, sepertinya aku tidak akan menemanimu ke kantin untuk makan siang. Ini uangnya, ambillah. Anggap ini sebagai bentuk permintaan maafku."

"Tunggu, kamu mau kemana?"

"Aku akan ke perpustakaan. Sudah seminggu aku tidak masuk sekolah. Jadi aku mau belajar di sana."

Belajar? Sejak kapan aku peduli dengan belajar? Aku hanya tidak mau bertemu jeonghan dan kekasih barunya di kantin dan melihat senyum tulus baby doll yg biasanya hanya dilemparkannya untukku, kini telah menjadi milik orang lain. Jujur, aku tak sanggup. Setidaknya jika aku berada di perpustakaan, aku bisa tidur siang, dan melupakan semuanya sejenak. Namun angan-angan itu sirna sudah, di meja ujung perpustakaan kulihat jeonghan menemani kekasih barunya membaca buku, dan sesekali kulihat dia merebahkan kepalanya di bahu laki-laki itu.

Sungguh lucu bagaimana dunia ini mempermainkanku. Bertahun-tahun aku berada di posisi laki-laki itu. Bertahun-tahun bahu inilah yg menjadi sandarannya. Tapi hanya dalam hitungan hari, semuanya berubah, semuanya berbalik mengejekku.

Hong Joshua. Kuakui aku telah kalah telak darinya. Hanya laki-laki ini yg berhasil membuat baby doll-ku tersenyum dengan tulusnya. Baru kali ini ada laki-laki yg berhasil mengajak baby doll-ku ke perpustakaan untuk membaca sebuah buku, mengubah sosoknya menjadi seseorang yg lebih tenang, dan aku yakin dia pun yg nantinya akan mengubah jeonghan menjadi sosok yg lebih baik. Sungguh, aku ingin mendoakan semoga kalian bahagia, tapi aku masih belum bisa, maaf baby doll.

Aku meninggalkan pemandangan itu dan menuju rak buku di perpustakaan yg berada di paling ujung dan jauh dari keramaian. Ada ruang kecil di antara rak buku dengan tembok di sampingnya yg cukup untuk menyandarkan badanku di sana dan aku bisa bersiap untuk tidur siang di sana.

Belum ada 5 menit aku memejamkan mata, kudengar langkah kaki mendekati rak buku tempat aku berada. Takut bila yang datang adalah penjaga perpustakaan, aku mengambil secara acak buku yg ada di samping kepalaku dan berpura-pura membacanya. Langkah kaki itu berhenti tepat di hadapanku. Saat aku mendongakkan wajahku ke atas, betapa terkejutnya aku melihat sepasang mata indahnya menatapku.

Tiba-tiba dia memutar langkahnya hendak melarikan diri dariku. "Baby doll, tunggu."

Dia menghentikan langkahnya sebentar, namun dia melangkahkan kakinya kembali. Secara refleks aku menghentikannya. Kutarik lengannya. "Jangan sentuh aku!" Dia mendesiskan peringatannya.

"Baik baby doll. Aku tidak akan menyentuhmu, tapi kumohon jangan lari dariku. Kamu pun tidak perlu melihat wajahku, aku akan berbicara dengan memandang punggungmu saja, tapi kumohon dengarkan penjelasanku."

Dia diam dan tidak berusaha kabur lagi. Kulepaskan cengkramanku dari lengannya dan menarik napas panjang. Aku harus bisa melakukannya.

"Pertama-tama aku ingin mengucapkan maaf atas semuanya. Aku minta maaf telah tidur denganmu, menyebut kejadian itu sebagai suatu kesalahan, dan mengucapkan kata menjijikkan di hari itu."

Kulihat tubuhnya bergidik sedikit. Aku tau bahwa sebenarnya dia tak ingin mendengarkan ini. Pembicaraan ini seperti membuka luka lama baginya. Tapi aku tau baby doll, dia adalah tipe orang yg frontal dalam menyeleasaikan suatu masalah. Dia akan mendengarkan penjelasan lawan bicaranya sampai selesai.

"Aku minta maaf telah memanfaatkan kerapuhanmu saat itu untuk tidur denganmu. Aku seharusnya tidak mendahulukan nafsu sesaatku dan melakukannya. Tapi aku tak pernah menyebutmu sebagai suatu kesalahan baby doll. Akulah kesalahan itu. Aku yg telah memanfaatkanmu dan aku yg telah memanfaatkan situasimu. Maafkan aku jika kata-kata yg kupilih untuk kuucapkan pada pagi itu, membuatmu berpikir seakan-akan kaulah kesalahan itu baby doll."

"Dan maafkan aku yg telah mengucapkan kata-kata menjijikkan di hadapanmu. Sekali lagi kamu salah paham baby doll. Bukan kamu yg kusebut menjijikkan. Tapi aku mengutuk perbuatan dimana kamu harus disakiti untuk sesuatu. Kamu bukanlah seseorang yg harus disakiti, melainkan seseorang yg harus diperlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Karena aku mengenalmu baby doll. Aku mengenalmu bagaikan aku mengenal telapak tanganku sendiri. Aku mengenalmu lebih dari kamu mengenal dirimu sendiri, baby doll."

Semuanya menjadi hening. Dia tak mengeluarkan sepatah katapun. Suara yg terdengar hanyalah suara napasku dan napasnya yg saling bergantian. Dimana aku menghembuskan napas, jeonghan akan menarik napas. Begitu pula sebaliknya. Kami bagaikan puzzle yg melengkapi satu sama lain. Seperti itulah kami sejak dulu.

Namun kini aku tak yakin lagi jika kami masih akan seperti dulu. Semuanya kini telah berubah. Aku tanpa sengaja menghitung detik demi detik bungkamnya dia. Dan pada hitungan ke 54, aku tak tahan lagi. Bungkamnya dia ini dengan jelas menunjukkan bahwa dia sangat berat untuk memaafkanku, bahkan mungkin dia tak akan pernah memaafkanku. Tapi setidaknya aku sudah menjelaskan semampuku baby doll. Aku sudah menjelaskan bahwa aku tak pernah ada niat sedikitpun untuk menyakitimu.

Oke, memang tak semuanya bisa aku jelaskan baby doll. Terutama tentang perasaan cinta ini. Biarlah perasaan ini hanya aku yg tau. Biarlah perasaan ini mati dan berlalu dengan sendirinya. Walaupun aku yakin, cinta ini tak akan pernah mati sampai kapanpun, karena dia telah kupupuk dan tumbuh sejak lama, sejak engkau memanggilku dan mengajakku untuk bermain bersama 11 tahun yg lalu.

Aku melangkah beberapa langkah ke depan dan berdiri di sampingnya. Kutautkan jari kami. Aku meminta maaf lewat remasan lembut tanganku ini. Kuharap dia bisa merasakan permintaan maafku yg tulus ini padanya. "Maafkan aku baby doll." Tanpa memandang wajahnya, aku berjalan melaluinya, dan kupercepat langkahku untuk segera keluar dari ruangan ini.

End of Chapter 14

BEST FRIEND? - PrivateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang