Kamu terlihat cantik dalam tidurmu, love. Bulu matamu yg panjang menyentuh lembut pipimu. Rambutmu yg indah, terurai menutupi dahimu. Dan tak lupa bibir mungilmu yg sedikit terbuka, kudengar menghembuskan napasmu. Kusentuh pipimu dan kubelai dengan lembut. Kucium keningmu dan kubisikkan kata-kata untuk menyapamu dalam tidurmu, menyapa malaikat cantikku. "Selamat pagi, angel."
Tiba-tiba tubuhmu bergerak namun matamu belum terbuka. Tanganmu menggapai leherku dan memelukku. Wajahmu menempel di dadaku dan kau bisikkan pula jawaban sapaanku dengan suara masih setengah sadar. "Selamat pagi, seung-ah."
Aku hanya mampu tersenyum miris mendengar sapaanmu pagi ini, love. Selesai sudah semuanya. Apa yg kubangun selama ini bersamamu, semuanya sia-sia. Kecurigaanku benar. Cinta seungcheol tidak bertepuk sebelah tangan, karena kamu juga mencintainya, love. Kamu mencintai sahabatmu sendiri.
Aku merasakan, wajahmu yg tadi berada dalam dekapanku, kini kamu tarik tiba-tiba. Matamu melebar. Rupanya kamu pun sadar bahwa kamu mengucapkan ucapan selamat pagi pada orang yg salah, love.
Kulihat mata jeonghan yg mulai berkaca-kaca, mulutnya terbuka akan mengucapkan sesuatu, namun kemudian menutupnya kembali. Telapak tangannya diletakkan di kedua pipiku. Dan kulihat tatapan matanya berusaha memohon maaf.
Tapi maaf, love. Aku sadar bahwa aku memang bukan orang yg di pagi hari, ingin kamu sapa dalam pelukanmu. Aku sadar bahwa aku bukanlah dia.
Kulepaskan tangannya dari wajahku dan kukecup keningnya. "Kamu mencintainya."
Itu bukanlah pertanyaan. Itu merupakan pernyataan dariku untuk jeonghan. Aku ingin dia segera sadar bahwa orang yg dicintainya bukanlah aku. Itulah sebabnya dia tak pernah bisa membuka hatinya untukku dan membalas cintaku. Aku bangun dari tempat tidur dan memakai kembali piyamaku. Kubuka tirai dan jendela kamarku. Kuhirup udara pagi ini, dan aku mencium bau kekalahan. Ya, kamu menang Choi. Jeonghan memilihmu.
Aku merasakan kedua lengan kecilnya memelukku dari belakang. Dan kudengar suara isak tangis darinya. Kubalikkan badanku dan kupeluk dia. Mungkin untuk yg terakhir kalinya.
"Maafkan aku, sayang. Maafkan aku. Aku tak bermaksud mengucapkan namanya. Aku mohon sayang, maafkan aku."
"Tidakkah tadi kamu mendengarku berbicara, love? Bahwa kamu mencintainya? Jangan pernah menyangkal itu, love. Jangan pernah membohongi dirimu sendiri. Jangan pernah kamu menyangkal perasaan cintamu padanya."
"Tapi....."
"Kali ini percayalah padaku. Dengarkan dengan baik isi hatimu. Baiklah, ini nasihatku untukmu. Pulanglah, kemudian mandilah, dan setelah itu renungkan apa yg kukatakan tadi. Percayalah pada kata hatimu dan jangan pernah menyangkalnya, love. Dan jika kamu telah menyadari dan tak membohongi lagi tentang perasaan cintamu padanya, teleponlah aku, maka aku akan memberitahukan keberadaannya padamu. Bisakah kamu melakukan itu untukku, love?"
Lama dia terdiam. Sisa-sisa air matanya membasahi piyamaku. Napasnya kembali tenang. Diangkatnya wajahnya, dan terucaplah kata perpisahan itu dari bibirnya, "Maafkan aku."
***
Hampir setengah jam yg lalu jeonghan meninggalkan kamarku. Mungkin saat ini dia masih dalam perjalanan pulang. Kejadian pagi ini mengingatkanku pada pembicaraanku dengan seungcheol 7 bulan yg lalu.
"Masa kritis ayah jeonghan sudah berlalu. Tim dokter mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yg perlu dikhawatirkan dari ayahnya dan jeonghan belum menceritakan padaku apa yg telah terjadi pada ayahnya. Mungkin kamu tau sesuatu Choi?" Aku mengawali pembicaraan kami, saat kulihat seungcheol tak angkat bicara sedikitpun.
"Hanya jeonghan yg berhak menceritakannya padamu. Aku mengajakmu kemari bukan untuk menjelaskan padamu tentang apa yg sebenarnya terjadi pada ayah jeonghan. Aku mengajakmu kemari karena aku ingin meminta tolong padamu, mengenai jeonghan. Bersediakah kamu membantuku?"
"Kau tau, untuk jeonghan apapun akan kulakukan. Jadi, kamu mau minta tolong apa Choi?"
"Tolong usahakan hubungan jeonghan dan ibunya semakin membaik. Jika nanti ibunya memutuskan untuk berpisah ataupun tidak mau berpisah dari ayahnya, tolong pastikan jeonghan hidup terpisah dari ayahnya. Jauhkan ayahnya dari jeonghan, kapanpun dan dimanapun. Jangan biarkan dia dapat menyentuh jeonghan, bahkan sehelai rambutpun! Dan jangan tanya apa alasannya! Aku tidak bisa memberitahumu secara lebih mendetail, karena itu bukanlah hakku untuk berbicara dan menceritakan kehidupan jeonghan kepadamu. Biarlah nantinya jeonghan sendiri yg menceritakannya padamu, saat dia siap."
"Mengapa tak kamu lakukan hal itu sendiri Choi?"
"Karena aku akan mengejar cita-citaku sebagai seorang fotografer di jepang. Akan kulanjutkan sekolahku di sana. Aku akan menjadi seorang laki-laki yg lebih baik lagi dan memiliki karir yg baik. Dengan begitu, aku akan bisa merebutnya darimu Hong."
Lama aku berpikir dan mencerna semua kalimatnya. Aku tidak bodoh. Aku tentu tau apa yg dia maksudkan. Namun aku masih heran, jadi benar seungcheol mencintai jeonghan?
"Saat ini, boleh aku kalah darimu. Saat ini, boleh dia mencintaimu. Tapi saat aku kembali nanti dan sudah menjadi seorang laki-laki yg jauh lebih baik dari sekarang, aku akan merebutnya kembali darimu. Ingat itu Hong, untuk baby doll aku tak akan menyerah, sampai kapanpun."
Aku hanya bisa tertawa mendengar kata-katanya. Aku tau bahwa ucapannya itu bukanlah ancaman kosong belaka. Walaupun saat ini jeonghan belum menyatakan bahwa dia mencintaiku, tapi aku yakin, dia juga tidak mencintai seungcheol. Baginya, seungcheol hanyalah sahabatnya sejak kecil. Tapi, aku tak boleh menyepelekan ancamannya ini. Jika seungcheol ingin menjadi laki-laki yg lebih baik dari sekarang, akupun juga akan melakukan hal yg sama. Tantanganmu kuterima Choi.
"Dan aku minta tolong 1 hal lagi, Hong. Jangan beritahukan rencanaku ini pada siapapun. Termasuk jeonghan. Bisakah aku mempercayaimu untuk melakukan semua permintaanku ini?"
"Tentu Choi. Dan sampai jumpa di beberapa tahun mendatang. Aku menunggu kepulanganmu. Namun jika jeonghan telah menetapkan aku sebagai pilihan akhirnya dan mau menjadi pendampingku di saat kamu pulang, jangan pernah kamu menangisinya Choi!"
Seungcheol juga tertawa terbahak-bahak mendengar ancamanku. "Kita lihat saja nanti. Kita lihat siapa yg bisa memenangkan hatinya. Sampai jumpa Hong, sampai bertemu kembali." Dan dengan itu, dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit dan dari kehidupan jeonghan.
Handphoneku berdering. Kulihat 'love~' tertera di layar handphoneku. Mungkin setelah ini aku perlu mengganti namanya.
"Aku mencintainya. Aku mencintai seung-ah. Maafkan aku."
"Dia ada di jepang."
Setelah menjawab itu, segera kututup telepon darinya. Kumatikan handphoneku dan dengan emosi kulemparkan dengan sekuat tenaga handphoneku ke tembok kamar. Kulihat handphoneku pecah berhamburan. Sangat sesuai dengan keadaan hatiku saat ini. Selamat Choi, kamu menang.
End of Chapter 21
KAMU SEDANG MEMBACA
BEST FRIEND? - Private
Fanfiction"Tidak, dia bukanlah kekasihku. Jeonghan, hanyalah sahabatku. Sahabat baikku. Benarkah?" My Second Jeongcheol Fanfiction YAOI (NO Gender Switch) Violence Abuse Slutty Jeonghan^^
